PERBAIKAN METODE PENANGKAPAN PURSE SEINER DENGAN KOMBINASI FILTERING DAN ATRACTION-REPULSION

Januari 28, 2009

Oleh :
MUSLIM TADJUDDAH

Pendahuluan
Saat ini pengoperasian alat tangkap purse seine yang dikombinasikan dengan rumpon (FAD) dan lampu/cahaya (Light fishing) biasa disebut dengan purse seine type Philiphina. Purse seiner ini direncanakan dioperasikan di laut dalam, tidak berkarang di sekitar perairan Samudra Indonesia.
Menurut Baskoro,2005, menyatakan penggunaan rumpon laut dalam di wilayah Indonesia bagian barat atau Samudra Indonesia dapat dikatakan belum ada dengan tingkat pengusahaan perikanan pelagis yang masih rendah sehingga peningkatan usaha masih dapat dikembangkan
Tulisan ini bertujuan untuk memperbaiki metode penangkapan ikan pada alat tangkap puse seine dengan alat bantu rumpon dan lampu dengan memanfaatkan ketertarikan ikan pada cahaya.

Permasalahan Dalam Pengoperasian Purse Seine
Menurut Baskoro dan Effendy (2005) sampai saat ini dilapangan masih terjadi Permasalahan an-efisiensi sehubungan dengan pengoperasian alat tangkap purse seine, yaitu antara lain :
a.Terjadi penyelamatan diri ikan sebelum selesai setting
b.Terjadi penyelamatan diri ikan setelah selesai setting,
c.Terjadi penyelamatan diri ikan melalui celah terbuka pada saat hauling
d.Terjadi penyelamatan diri ikan melalui tali pelampung pada saat hauling.
Dari hasil identifikasi permasalahan diatas terlihat bahwa masih sangat sulit membuat ikan terkonsentrasi pada alat tangkap sehingga ikan masih dapat membuat gerakan menghindar (Avoid) dan menyebar (Disperse) pada saat melakukan setting ataupun hauling.

Dasar Teori
1. Cahaya digunakan untuk menarik dan mengkonsentrasikan kawanan ikan pada catchable area yang selanjutnya dengan alat tertentu dilakukan penangkapan.
2. Berdasarkan fungsinya lampu dapat dibedakan atas dua jenis yaitu, lampu penarik ikan dan lampu yang digunakan untuk mengkonsentrasikan ikan-ikan yang telah tertarik pada cahaya lampu.
3. Cahaya yang dapat diterima dalam penangkapan memiliki panjang gelombang pada interval 400-750 mµ (Mitsugi,1974, Nikonorov,1975)
4. Cahaya biru dapat menembus jauh ke dalam perairan daripada warna lainnya hal ini disebabkan karena cahaya biru sangat sedikit diabsorbsi oleh air sehingga penetrasinya ke dalam perairan sangat tinggi. Sehingga dalam penerapannya cahaya biru dapat digunakan untuk menarik ikan dari jarak yang jauh baik secara vertikal maupun horisontal.
5. Untuk mengkonsentrasikan ikan ke Catchable area digunakan warna merah atau kuning karena daya tembusnya rendah.
6. Ben-Yami (1976) mengemukakan bahwa cahaya biru dan hijau paling dalam menembus lapisan air, sementara cahaya merah dan ungu akan terabsorbsi oleh air hanya beberapa meter (2-3 m) setelah menembus permukaan laut.
7. Kuroki vide Gunarso,(1985) warna cahaya yang paling efektif untuk mengumpulkan ikan adalah cahaya biru dan orange.

Prinsip Dasar Penangkapan Ikan Dengan Light Fishing

Ayodhyoa,1981 menyatakan bahwa tertariknya ikan pada cahaya sering disebutkan karena terjadinya peristiwa fototaksis, dimana cahaya merangsang dan menarik ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya atau biasa pula karena rangsangan cahaya (stimulus) maka kemudian ikan akan memberikan respons.

Metode Perbaikan Pengoperasian Purse Seiner Dengan Alat Bantu Rumpon Dan Light Fishing

Prosedur :
1.) Pada saat selesai setting segera nyalakan lampu cahaya biru dengan intensitas cahaya tertentu yang berfungsi untuk menarik ikan baik secara vertikal maupun horisontal. Dengan perlakuan ini ikan target diharapkan telah terkonsentrasi pada catchable area. Seperti terlihat pada gambar 1.

2.) Setelah ikan target dianggap telah terkonsentrasi (schooling) pada catchable area, lampu dengan cahaya biru dipadamkan segera menggantikannya dengan lampu cahaya kuning agar ikan target semakin terkonsentrasi dan yang berada diluar catcahbale area diharapkan segera merapat( terjadi schooling yang padat dan rapat). Seperti terlihat pada gambar 2.

Pada perbaikan metode penangkapan dengan purse seiner selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian tentang ketajaman penglihatan (Visual Acuity) dan kecepatan renang (Swimming speed) dari ikan target untuk menentukan arah, posisi alat tangkap dan kecepatan tarikan tali kolor.

DAFTAR PUSTAKA

Baskoro, SM, A.Suherman.2007. Teknologi Penangkapan Ikan Dengan Cahaya. Badan Penerbit UNDIP-Semarang. Bogor.

Baskoro.SM, A. Effendy. 2005. Tingkah Laku Ikan. Hubungannya Dengan Metode Pengoperasian Alat Tangkap Ikan. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.Bogor

Ben-yami,1987.Fishing With Light. Published by Arrangement With The Agriculture Organisation of The United Nation by Fishing News Books Ltd.Farham,Surrey.England

Nikonorov, I.V. 1975. Interaction of Fishing Gear With Fish Aggregations. Keter Publishing House Jerisalem Ltd. Israel Program From Scientific Translations, Jerusalem

Sulaiman.2006. Pendekatan Akustik dalam Studi Tingkah Laku Ikan pada proses Penangkapan dengan Alat Bantu Cahaya.(Tidak di Publikasikan,Thesis). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Sudirman, 2003. Analisis Tingkah Laku Ikan untuk Mewujudkan teknologi Ramah Lingkungan Dalam Proses Penangkapan pada bagan Rambo (Tidak di Publikasikan.Disertasi) Program Pasca sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Yusfiandayani, R. 2004. Studi tentang Mekanisme Berkumpulnya Ikan Pelagis Kecil di Sekitar Rumpon dan Pengembagan Perikanan di Perairan Provinsi Banten.

Assesing Fishery Productifity (Chapter 3/Book : Fishing Grounds)

Januari 28, 2009

Susan Hanna,et al

Diterjemahkan Oleh :
MUSLIM TADJUDDAH

Menaksir Produktivitas Perikanan

Produktivitas bisa diartikan sebagai hasil yang menguntungkan, tetapi makna produktivitas dari sisi perikanan jauh lebih kompleks, karena memiliki dimensi-dimensi yang berbeda. Produktivitas tidak hanya pada kemampuan populasi ikan menghasilkan ikan, akan tetapi juga kemampuannya untuk memberikan nilai ekonomi dan keuntungan-keuntungan sosial.
MSFCMA menghendaki sektor perikanan dikelola untuk menyediakan keuntungan seluas-luasnya untuk bangsa, khususnya untuk “food production” serta bidang rekreasi (kegiatan pemancingan), dan agar menjaga stok ikan pada level yang dapat menghasilkan hasil yang optimum untuk jangka waktu yang lama. Optimum yield (keuntungan optimum) sebagai hasil yang menciptakan keuntungan yang terbaik, bukan pada bobot ikan yang besar namun hasil optimum dapat terjadi pada tangkapan yang lebih kecil jika biaya penangkapan tinggi, jika pasar menyerap hanya pada jumlah yang kecil, dan jika masyarkat menghargai rendah bobot ikan. Sebelum tahun 1996 amandement MSFCMA, hukum mendefinisikan hasil optimum sebagai hasil maksimum yang berkelanjutan diartikan sebagai modifikasi dari faktor-faktor sosial, ekonomi dan ekologi lebih dari atau kurang dari hasil maksimum yang berkelanjutan. Tahun 1996 amandement menempatkan “as moficated by” (sebagai modifikasi dari) dengan sebagai pengurangan untuk menjamin bahwa produktivitas opt imum tidak bisa di set pada level di atas hasil maksimum yang berkelanjutan
Kelayakan dari menggunakan produksi maksimum berkelanjutan sebagai tujuan pengelolaan perikanan masih diperdebatkan. Yang terpenting sebenarnya adalah bukan menangkap ikan sebanyak-banyaknya akan tetapi sebagai kontributor utama terhadap keuntungan-keuntungan perikanan yang membuat produktivitas perikanan adalah produktivitas tersebut menghasilkan nilai-nilai ekonomi dan sosial.

Pengembangan Riset Menuju Perikanan Tangkap Sultra yang Berkelanjutan

Januari 28, 2009

Oleh :
Muslim Tadjuddah,M.Si

Tulisan ini meng-apreciate dari Tulisan rekan saya Dr. Agus Kurnia (Menggagas Perikanan Budidaya Sultra Berkelanjutan) yang dimuat harian ini dua hari secara berurutan (25-26 Januari 2008). Saat ini kita sepakat mengatakan sektor perikanan tangkap Indonesia mulai masuk jalur lambat namun masih dapat diharapkan sebagai sumber pangan ikan dunia dengan melakukan upaya-upaya riset kedepannya

Pendahuluan
Tujuan utama pembangunan kelautan Indonesia sejak awal orde baru adalah bagaimana untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa ada upaya untuk melakukan pemerataan kesejahteraan dan melakukan upaya pelestarian lingkungan semaksimal mungkin. Menurut Rohmin Dahuri (Paradigma baru pembangunan Indonesia berbasis kelautan) Pembangunan kelautan saat itu sangat diwarnai oleh rejim yang bersifat :
1.) Open Access
Siapa saja, kapan saja, dimana saja, dan berapa saja boleh mengeksploitasi sumberdaya ikan dan lingkungan kelautan.
2.) Sentralistik
Top down, kebijakan pengelelolaan sumberdaya sangat ditentukan oleh pusat sehingga tak jarang didapatkan saat penerapan kebijakan dilapangan tidak tepat sasaran/tidak efektif.
3.) Seragamisasi
Kurang atau tidak memperhatikan keragaman biofisik alam dan sosio-kultural masyartakat lokal /daerah.
Dampak dari kebijakan pengelolaan yang diterapkan seperti itu maka di lapangan terlihat :
• Kerusakan lingkungan berupa overfishing (daya tangkap lebih)
• Kepunahan jenis species tertentu (species extinction)
• Kerusakan terumbu karang
• Degradasi hutan mangrove
• Pencemaran
• Dan lain sebagainya, diberbagai kawasan pesisir dan lautan telah mencapai suatu tingkat yang mengancam kelestarian daya dukung (sustainable capacity) dari ekosistem maritim itu sendiri.
KEADAAN SUMBERDAYA IKAN SEKARANG DAN YANG AKAN DATANG
Kondisi sumberdaya ikan Indonesia pada masa yang lalu tidak kita bicarakan dalam tulisan ini, yang pasti masa-masa kejayaan melimpahnya sumberdaya ikan di daerah/negara kita telah lewat. Lalu bagaimana keadaan sumberdaya itu sekarang ini. Dari data statistik pemanfaatan sumberdaya ikan nampak jelas terlihat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan terutama di daerah yang padat nelayannya dan memiliki intensitas penangkapan yang tinggi seperti pantai utara jawa, selat malaka dan selatan sulawesi (termasuk disebagian sebesar wilayah perairan sultra) tetapi anehya income yang dihasilkan dari sektor ini (Perikanan Tangkap ) relatift kecil dan menjadi paradoks perikanan tangkap kita.
Produksi perikanan laut dalam dasawarsa terakhir mengalami peningkatan rata-rata 4,95 persen per tahun namun ini masih rendah dari yang diharapkan yaitu sekitar 6 persen per tahun. Salah satu faktor penyebabnya disinyalir adalah banyaknya kapal-kapal asing yang berseliweran(beroperasi) di perairan kita, kapal asing ini beroperasi tidak hanya di perairan ZEE tetapi juga di perairan nusantara menurut data ada sekitar 5000 kapal asing milik Thailand, Filipina, Taiwan, Korea dan RRC beroperasi diperairan kita, Berdasarkan asumsi yang dilansir FAO, kerugian negara akibat illegal fishing mencapai 30 trilyun rupiah pertahun. Dengan tingkat kerugian mencapai 25% dari total potensi perikanan yang kita miliki.
Potensi lestari (MSY/maximum suistanable yield) perairan kita ±6,4 juta ton per tahun sedangkan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB/Total Allowable Catch/TAC) adalah sebesar 5,12 juta ton per tahun atau ±80% dari MSY . Menurut data tahun 2003 total hasil tangkapan ikan adalah 4,4 juta ton per tahun sehingga produksi masih terdapat peluang pengembangan ± 720.000 ribu ton per tahun ini terutama pada perairan-perairan seperti Laut Banda, Laut Arafuru (kecuali udang), Laut Maluku dan Laut Sulawesi. Apabila kita menganalisis data perikanan tangkap Indonesia ini maka kedepan kita tidak bisa lagi berharap hasil devisa sektor kelautan dan perikanan berasal dari perikanan tangkap hendaknya mulai sekarang harus ada usaha-usaha subtitusi kearah lain seperti misalnya budidaya laut (Marine Culture) dan lain sebagainya.

ARAH PENGEMBANGAN RISET PERIKANAN TANGKAP INDONESIA
KE DEPAN
Berkaca dari kondisi dan potensi sumberdaya ikan yang semakin menipis maka seyogyanya diperlukan suatu usaha dalam bentuk riset atau penelitian-penelitian yang bertujuan agar sumberdaya ini dapat lestari dan berkesinambungan, tentunya menjadi harapan kita bersama sumberdaya ini masih dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Berikut ini beberapa konsep yang perlu kita fikirkan bersama mengenai topik/kajian dalam tatanan pengembangan perikanan tangkap yang berkelanjutan kedepan misalnya, diperlukan :
1.) Survey daur hidup larva ikan pada semua species ikan yang berada di wilayah perairan di Sultra.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masa kritis semua larva ikan di wilayah perairan (Early Live Story) sehingga kita dapat melakukan usaha-usaha memperbaiki jumlah populasi atau stok ikan apabila pada suatu keadaan terjadi tekanan penangkapan tinggi atau stok/kelimpahan pada species tertentu mengalami kondisi kritis.
2.) Survey Pola migrasi ikan terutama ikan Pelagis besar dan pelagis kecil di seluruh wilayah peraitan Sultra
Dengan mengetahui pola migrasi ikan kita dapat menentukan musim penangkapan pada wilayah tertentu dan pada species tertentu sehingga upaya penangkapan yang dilakukan dapat semakin efisien dan efektif.
3.) Perlunya riset tentang Zona Marine Protected Area (daerah perlindungan Laut) disemua wilayah perairan di Sultra.
Zonasi ini bertujuan untuk memetakan daerah tempat pemijahan ikan yang tidak boleh dilakukan penangkapan terutama species ikan tertentu yang telah mengalami tekanan ekologis akibat penangkapan yang berlebihan (Over fishing) maupun karena kejadian-kejadian alam.
4.) Survey pola Oseanografi, Meteorologi dan Kontur perairan dalam wilayah perairan di Sultra.
Hasil survey ini diharapkan dapat memberikan informasi dan data apabila ada keinginan dari pemerintah (birokrasi) dalam mengambil kebijakan mengembangan jenis alat tangkap, terutama alat tangkap yang bersifat pasif seperti set net, bubu dan lain-lain agar alat tangkap ini sesui dengan target species yang diinginkan.
5.) Perlu dirancang kerjasama wilayah pengelolaan perikanan antar provinsi di Indonesia
Kerjasama ini antar pemerintah daerah tentang kapal apa saja dan alat tangkap apa saja yang boleh beroperasi diwilayahnya masing-masing sehingga PEMDA mempunyai adil yang besar dalam pengawasan dan pengelolaan sumberdaya ikan di daerah.
Penutup
Pada akhir tulisan ini penulis berharap semoga masih ada secercah harapan dari sektor perikanan tangkap kedepan dalam ikut mensejahterakan nelayan tradisional kita. Jayalah bangsaku, Jayalah sektor perikanan,Jalesveva jayamahe, justru di laut kita jaya. Wassalam

Penulis, Dosen Program studi Manajemen Sumberdaya Perikanan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,Unhalu

PERLUNYA MANAGEMEN TELUK KENDARI YANG YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN BERKELANJUTAN

Januari 28, 2009

Oleh :
Muslim Tadjuddah

Tulisan ini diawali dengan pertanyaan Teluk Kendari sebagai asset atau beban bagi Pemerintah Kota… …?
Akhir-akhir inii terjadi polemik antara pemkot dengan legislatif tentang pembangunan sebuah SPBU di kawasan teluk kendari bagaimana pengelolaan teluk kendari yang berkelanjutan
Keberadaan teluk kendari dalam kotamadya kendari merupakan asset daerah sekaligus kebanggaan warga kota kendari selain dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi laut, pariwisata dan budidaya laut dapat juga difungsikan sebagai sumber pemasok pendapatan asli daerah (PAD) yang nantinya dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah serta ikut menciptakan lapangan kerja masyarakat terutama yang bermukim disepanjang pesisir dan teluk kendari .

Teluk Kendari dan Permasalahannya

Teluk Kendari yang telah menjadi Icon Kota Kendari sekaligus menjadi kebanggaan warga masyarakat Kota Kendari dihadapkan pada permasalahan-permasalahan :

1. Sedimentasi atau pendangkalan teluk kendari menurut penelitian Bapeda Sultra sedimentasi sudah termasuk pada 2,59 ton / tahun hal ini dipengaruhi oleh penggundulan hutan nanga-nanga (papalia) nipa-nipa, tahura murhum dan banyaknya pemotongan atau pengerukan bukit dibeberapa tempat dikota kendari.
2. Terjadinya kerusakan Marine biodiversity yang ada diteluk kendari selain karena proses sedimentasi pantai secara terus-menerus juga karna adanya konversi hutan mangrove yang beralih fungsinya
3. Makin menipisnya hutan mangrove, sebagai ilustrasi luas hutan mangrove diteluk kendari tahun 1960, 542,58 ha dan pada tahun 1995 luasnya tinggal 69,85 ha, hutan mangrove selain berfungsi sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan , tempat pemijahan dari berbagai biota juga berfungsi sebagai penahan abrasi pantai dan penyerap limbah.
4. Tingginya reklamasi pada wilayah pesisir teluk Kendari,contohnya dikelurahan Lapulu(saat gubernur Drs. H Laode Kaimuddun) untuk pemukiman nelayan transmigrasi yang akhirnya proyek itu gagal, Pembangunan Pasar hygienis dan kawasan perbelanjaan teluk Kendari dan limbah yang dihasilkan dari rumah tangga yang bermuara di teluk kendari.
Menurut hasil penelitian terjadi pendangkalan teluk yang cukup signifikan setiap tahunnya yang disebabkan oleh aktifitas pembangunan, sedimentasi alami seperti kehilangan tanah akibat erosi di daerah tangkapan air teluk dan akibat pengendapan sampah. Akibatnya kondisi teluk saat ini terlihat semakin kehilangan fungsinya, misalnya pada konversi hutan mangrove/bakau menjadi areal pemukiman masyarakat seperti terlihat pada daerah sekitar by pass tapal kuda dan saat ini lagi marak dilakukan pembangunan Pasar Ikan Higienis oleh Pemerintah Kota Kendari.
Menurut data hasil pengukuran batymetri yang dilakukan oleh Dishidros TNI-AL volume teluk pada tahun 1995 sebesar 27.225.000 m³ dengan luas areal 1.125 ha kemudian selang lima tahun kemudian yaitu pada tahun 2000 volume teluk kendari telah menjadi 23.424.800 m³ dengan luas areal 1.084 ha. Bayangkan dalam tempo waktu lima tahun saja kita telah kehilangan areal teluk Kendari sebesar 41 ha. Bagaimana Kondisi Teluk Kendari 10 tahun kedepan, 20 tahun kedepan bahkan 50 tahun kedepan. Oleh karena itu di butuhkan kepedulian dari Pemerintah Kota Kendari untuk menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ramah lingkungan dengan memperhatikan sumberdaya alam yang berada disekitarnya.
Menghadapi kenyataan ini perlu dicarikan solusi dari permasalahan Teluk Kendari saat ini. Karena Teluk Kendari memiliki karakteristik yang khas terutama pada sistem arus dan pola pasang-surut yang berada di perut teluk yang menyebabkan tingginya sedimentasi. Akan lebih baik bila kita dapat mempelajari data tersebut secara konferehensif untuk dianalisis 5 hingga 10 tahun yang lampau dan hingga saat ini tentunya. Sehingga akan didapatkan fenomena pesisir Teluk Kendari yang terbaik. Selanjutnya baru dapat disusun beberapa alternatif untuk mengurangi dampak tersebut sehingga tidak berakibat terjadinya abrasi yang sangat luar biasa.
Penulis menawarkan solusi alternatif yang ekonomis dan ramah lingkungan dengan metode pemanfaatan kawasan bermangrove, artinya dengan mengembalikan jalur hijau sepanjang garis pantai pada kawasan-kawasan tertentu dengan melakukan penanaman kembali pohon mangrove dengan harapan nantinya akan berfungsi sebagai pelindung pantai dari endapan limpur dan sampah-sampah dari masyarakat yang menyebabkan sedimentasi.
Seperti diketahui hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove berfungsi antara lain sebagai pelindung dari abrasi, penahan lumpur dan perangkap sedimen, penghasil sejumlah detritus dari daun dan dahan pohon mangrove, daerah asuhan (nursery grounds), mencari makan (feeding grounds), dan pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya, pemasok larva ikan, udang dan biota lainnya dan tempat pariwisata (Bengen, 2001). Hal ini didukung dengan kemampuan adaptasi yang tinggi dari pohon mangrove yang disebabkan karena pohon mangrove mampu beradaptasi terhadap kadar oksigen rendah, kadar garam tinggi, tanah yang kurang stabil dan adanya pasang-surut. Disamping untuk memperkokoh pohon, akar mangrove juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.
Selanjutnya data mengenai kondisi biotik meliputi bagaimana kerapatan penutupan lahan yang diperlukan oleh mangrove, pola tanam yang dapat dilakukan, dan jenis pohon mangrove yang jadi pilihan untuk digunakan merupakan hal yang perlu dipertimbangkan atau dikaji pada alternatif ini. Selain itu aspek sosial ekonominya juga tidak ketinggalan harus menjadi perhatian. Mengrove memerlukan waktu lama untuk dapat berfungsi sebagaimana yang diinginkan. Bila telah berfungsi khususnya sebagai penahan laju sedimentasi, Untuk itu aspek sosial budaya masyarakat sekitar perlu diperhatikan dan bila perlu dibina untuk dipersiapkan sedini mungkin. Misalnya dengan melibatkan peran sertanya dari awal pelaksanaan penanaman jalur hijau sepanjang pantai dengan mangrove ini. Akan banyak fungsi lain secara tidak langsung akan dinikmati oleh warga masyakarat sekitar Teluk Kendari dan Pemerintah Kota Kendari apabila mangrove yang ditanami telah berfungsi.
Dengam komplesitasnya permasalaahan yang ada diteluk Kendari maka dipandang perlu semua stakeholder yang terkait baik pihak pemkot,perguruan tinggi,LSM dan semua unsure masyarakat untuk duduk bersama guna menyatukan visi dan misi mengenai bagaimana managemen Teluk Kendari yang yang ramah lingkungan dan berkelanjutan kedepan.

PENGEMBANGAN SISTEM NELAYAN BAGAN APUNG

Januari 28, 2009

Oleh :
Muslim Tadjuddah

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Daerah Pelabuhan Ratu dikenal sebagai basis utama perikanan tangkap di pantai Selatan Propinsi Jawa Barat. Keberadaan Pelabuhan Ratu yang terletak dan langsung berhadapan dengan Samudera Hindia sangat strategis bagi perkembangan perikanan dan kelautan. Hal ini mengingat potensi perikanan yang besar, khususnya perikanan pelagis baik yang merupakan sumberdaya alami perairan teluk pelabuhan ratu maupun sumberdaya ikan yang bermigrasi (ruaya diurnal dan nocturnal) dari dan ke perairan teluk pelabuhan ratu.
Pengembangan perikanan dan kelautan yang diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, dilaksanakan dengan langkah meningkatkan produksi dan produktifivas nelayan. Meningkatnya hasil tangkapan nelayan sangat ditentukan dengan karakteristik alat dan metode penangkapan, dalam hal ini dimensi, desain, sifat pengoperasian dan keahlian nelayan dalam mengoperasikan alat tangkat tersebut.
Unit penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan di Pelabuhan Ratu sangat beragam. Keberagaman alat tangkap tersebut sesuai dengan jenis ikan yang menjadi target penangkapan, daerah penangkapan dan teknologi penangkapan ikan. Alat tangkap ikan yang terdapat di Pelabuhan Ratu secara umum masih bersifat tradisional. Hal ini terlihat dari teknologi dalam metode penangkapannya dan karakteristik (dimensi dan disain) alat tangkap tersebut. Alat tangkat tersebut antara lain jaring insang (gill net), jaring angkat (lit net), pukat kantong (seine net) dan pancing (hand line). Unit penangkapan ikan utama di pelabuhan ratu adalah pukat payang, jaring insang, bagan (bagan apung/raft lift net, bagan perahu/boat lift net dan bagan tetap/stationery lift net), pancing rawai, jaring rampus dan pukat dogol. Selain itu terdapat juga unit penangkapan jaring kopet, pukat pantai dan pukat cincin .
Perkembangan unit penangkapan di atas, yang mengalami peningkatan sangat pesat adalah alat tangkap bagan dan jenis pancing. Unit penangkapan ikan jaring angkat merupakan jenis alat tangkap yang secara komersial penting dan sangat umum di Indonesia. Salah satu jenis alat tangkap dalam jaring angkat yang penting adalah bagan (Kawamura, 1981 dalam Ta`alidin 2000). Bagan apung yang terdapat di Pelabuhan Ratu termasuk dalam klasifikasi portable lift nets (jaring angkat yang dapat dipindah–pindahkan). Secara sederhana dalam metode pengoperasian alat tangkap bagan termasuk tradisional, dengan penggunaan lampu petromaks sebagai alat bantu yang bertujuan mengumpulkan ikan atau biota laut lainnya yang bersifat fototaxis positif dan karena faktor food and feeding habits dari biota tersebut. Hal ini selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Flores dan Shibata (1988), unit penangkapan ikan yang digolongan jenis jaring angkat (lift net) ini di Indonesia masih bersifat tradisional dan merupakan kegiatan perikanan skala kecil (Small Scale Fisheries).

1.2 Tujuan
Sistem ini dibuat dengan tujuan meningkatkan pendapatan nelayan bagan apung dan keluarganya agar dapat hidup lebih layak dan sejahterah

2.1. Pendekatan sistem
Manetsch dan Park (1974) vide Haluan,J (1987) mendefinisikan sistem sebagai satu set elemen atau komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya dan terorganisir untuk menghasilkan satu set tujuan. Tiga syarat untuk pendekatan sistem dapat bekerja dengan baik, yaitu :
1.) Tujuan sistem ditentukan dengan pasti
2.) Proses pengambilan keputusan dalam sistem yang nyata harus dipusatkan
3.) Memungkinkan perencanaan jangka panjang
Hal yang penting dalam mempelajari sistem adalah menentukan batas sistem, agar dapat membantu fungsi sistem tersebut. Pendekatan sistem memberikan metoda yang logis untuk penanganan masalah dan merupakan alat yang memungkinkan untuk mengidentifikasikan,menganalisa menstimulasi serta mendezain sistem keseluruhan (Eriyatno,1983)
2.2 Analisis Kebutuhan
Pelaku sistem perikanan Bagan Apung di Pelabuhan Ratu kebutuhannya cukup beragam dan masing-masing pelaku mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya dalam suatu subsistem atau komponen. Pelaku sistem dalam perikanan Bagan Apung ini adalah:
1. Nelayan, yang ingin meningkatkan kesejahteraannya
2. Keluarga Nelayan, berkeinginan menambah penghasilan sehari-hari
3. Juragan, usaha bagan apung dapat berjalan lancar.
4. Pedagang perantara, memperoleh keuntungan seoptimal mungkin
5. Konsumen, mengkonsumsi ikan dan produk ikan yang berkualitas
6. Pemerintah, dalam hal ini pengelola TPI dan Dinas Perikanan Kecamatan
Sedangkan kebutuhan dari pelaku sistem tersebut apabila diuraikan lagi sebagai berikut :
1.) Nelayan
– Kesejahteraan meningkat/hidup layak
– dapat menyekolahkan anak
– status sosial dimasyarakat lebih terpandang
2.) Keluarga nelayan
– ada aktifitas sehari- hari yang produktif
– dapat menambah penghasilan rumah tangga
– dapat membantu membiayai pendidikan anak
3.) Juragan
– aktifitas usaha dapat berjalan lancar
– dapat menambah investasi usaha (menambah unit bagan apung)
– dapat menyerap tenaga kerja
4.) Pedagang perantara
– dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin
– ada kesinambungan usaha
5.) Konsumen
– memperoleh ikan yang bermutu baik
– mengkonsumsi produk ikan yang murah dan berkualitas
6.) Pemerintah
– memperoleh pemasukan dalam bentuk retribusi hasil tangkapan,biaya tambat di TPI
– dapat mengkontrol pemanfaatan sumber daya ikan

2.3 Formulasi Permasalahan
Dari analisis sistem yang dilakukan dapat ditarik formulasi permasalahan pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil dengan alat tangkap bagan apung di pelabuhan ratu sebagai berikut :
1.) Bagi hasil antara nelayan dan juragan pemilik bagan apung tidak seimbang jauh lebih menguntungkan bagi juragan
2.) Kenaikan harga satuan hasil tangkapan tidak seimbang dengan laju inflasi,harga produk kebutuhan nelayan dan keluarga lebih cepat meningkat daripada harga hasil tangkapan, harga satuan hasil tangkapan sudah setahun belum terjadi kenaikan.
3.) Kenaikan BBM Solar lebih cepat sehingga mengurangi pendapatan nelayan bagan
4.) Pada musim puncak harga ikan jauh lebih murah

2.4 Identifikasi sistem
Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem perikanan bagan apung di pelabuhan ratu mempunyai keterkaitan satu sama lain,seperti disajikan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (Gambar 1). Diagram ini cerminan dari prediksi dari aktifitas dan dinamika sistem, dimana faktor-faktor yang memberikan yang baik diberikan tanda positif (+) sedangkan faktor-faktor yang memberikan dampak merugikan diberikan tanda negatif (-).
Masukan dan keluaran faktor-faktor yang mempengaruhi sistem perikanan bagan untuk meningkatkan pendapatan apung di pelabuhan ratu dijelaskan dengan diagram input-output (Gambar 2). Dalam diagam ini tujuan yang ingin dicapai disajikan dalam bentuk kotak yang dikehendaki yang dapat dijadikan sebagai titik sentral perhatian. Disamping faktor internal sistem dalam sistem perikanan bagan apung juga tidak terlepas dari faktor eksternal lingkungan berupa peraturan pemerintah dan perundang-undangan.

Gambar. 1. Diagram lingkar sebab akibat Pengembangan Sistem Nelayan Bagan Apung untuk meningkatkan Kesejahteraan di Teluk Pelabuhan Ratu.

Keterangan :
1.) Output yang dikehendaki :
– Peningkatan Pendapatan Nelayan : Rp. 5000.000/Bln/Orang.
– Penghasilan Keluarga nelayan (Istri dan Anak) : Rp. 500.000-750.000/Bln
– Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan : 1: 3 ( 30% : 70%)
– Kenaikan satuan harga hasil tangkapan : 5-10%/Thn
2.) Output yang tidak dikehendaki :
– Penurunan Pendapatan Nelayan : Rp.1000.000/Bln/Orang
– Penurunan Penghasilan Keluarga Nelayan : Rp.—- /Bln
– Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan (Tetap) : 1:4 (20% :80%)
– Harga satuan hasil tangkapan stagnan sepanjang tahun : —
3.) Input terkontrol
– Teknologi Penangkapan ikan (Light fishing) : light fishing = 5 lampu/oprsi/Mlm,
Kapal penarik : 4-7 GT, motor penggerak :20 PK
– Ketersediaan raw material diversivikasi usaha (bakso ikan ,pindang, ikan asin) keluarga nelayan : 40-50 kg/Hari.
– Satuan harga hasil tangkapan agar tetap terjaga diperlukan Es balok : 5-6 balok/trip
– Pelatihan Managemen Usaha Kecil dari Instansi terkait : 1 kali/bulan
4.) Input tidak terkontrol
– Keadaan cuaca (curah hujan) : > 2000 mm/ Thn
– Keadaan oseanografi (badai) : Gelombang besar > 3 bulan
– Keadaan kesehatan nelayan dan keluarga tiba-tiba menurun (sakit) : —

Input Lingkungan

– Peraturan Pemerintah Daerah
– Peratuhan di bidang perikanan

Gambar 2. Diagram Input Output Pengembangan sistem Nelayan Bagan Apung untuk meningkatkan Kesejahteraan di Teluk Pelabuhan Ratu

Keterangan :
1.) Output yang dikehendaki :
– Peningkatan Pendapatan Nelayan : Rp. 5000.000/Bln/Orang.
– Penghasilan Keluarga nelayan (Istri dan Anak) : Rp. 500.000-750.000/Bln
– Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan : 1: 3 ( 30% : 70%)
– Kenaikan satuan harga hasil tangkapan : 5-10%/Thn

2.) Output yang tidak dikehendaki :
– Penurunan Pendapatan Nelayan : Rp.1000.000/Bln/Orang
– Penurunan Penghasilan Keluarga Nelayan : Rp.—- /Bln
– Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan (Tetap) : 1:4 (20% :80%)
– Harga satuan hasil tangkapan stagnan sepanjang tahun : —
3.) Input terkontrol
– Teknologi Penangkapan ikan (Light fishing) : light fishing = 5 lampu/oprsi/Mlm,
Kapal penarik : 4-7 GT, motor penggerak :20 PK
– Ketersediaan raw material diversivikasi usaha (bakso ikan ,pindang, ikan asin) keluarga nelayan : 40-50 kg/Hari.
– Satuan harga hasil tangkapan agar tetap terjaga diperlukan Es balok : 5-6 balok/trip
– Pelatihan Managemen Usaha Kecil dari Instansi terkait : 1 kali/bulan

4.) Input tidak terkontrol
– Keadaan cuaca (curah hujan) : > 2000 mm/ Thn
– Keadaan oseanografi (badai) : Gelombang besar > 3 bulan
– Keadaan kesehatan nelayan dan keluarga tiba-tiba menurun (sakit) : —

PENGEMBANGAN SISTEM NELAYAN BAGAN APUNG UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN DI TELUK PELABUAHAN RATU

Pola Fikir sistem
Sistem ini dirancang untuk menjawab tujuan dari paper ini yaitu agar dapat meningkatkan pendapatan nelayan bagan apung dan keluarga sehingga dapat hidup layak dan sejahtera. Jika dianalisis lebih lanjut kinerja dari nelayan bagan apung di pelabuhan ratu cukup produktif dan efektif bahkan tingkat pendapatannya per bulan jauh diatas UMR secara nasional namun mengapa tingkat kehidupannya terlihat sangat sedernaha bahkan dapat digolongkan relatif miskin, keadaan ini sebenarnya dapat disebabkan karena pola hidup dari nelayan dan keluarganya yang tidak efisien dalam mengelola keuangan hal ini disebakan karena faktor pendidikan yang minim, oleh karena itu maka apabila ingin membangun sistem ini secara global maka faktor pendidikan keluarga nelayan harus diprioritaskan.(faktor ini tidak kami masukkan dalam diagram input-output karena sistem yang kami rancang lebih ditekankan pada pemanfaatan waktu luang istri dan anak nelayan untuk membantu penghasilan keluarga dengan cara diversifikasi usaha dalam rangka memanfaatkan hasil tangkapan nelayan bagan apung dengan membuat produk seperti bakso ikan, ikan pindang dan ikan asin dan lain-lain. tetapi agar supaya usaha ini dapat berkembang dan berhasil dibutuhkan managemen yang baik.
Solusi yang dapat ditawarkan pada sistem ini yaitu :
1.) Keluarga Nelayan istri dan anak dapat memanfaatkan waktu luang dengan membuat usaha kecil kecil berupa usaha pengolahan ikan untuk memanfaatkan hasil tangkapan untuk menambah dan menopang keuangan keluarga.
2.) Dalam rangka perbaikan pendapatan nelayan sistem bagi hasil sebaiknya dikoreksi lagi dengan perincian Nelayan 30% dan Juragan 70%.
3.) Perlu Pelatihan Managemen Usaha Kecil bagi pengusaha pengolahan ikan di sekitar Pelabuhan Ratu

Penjelasan :
Dari field trip yang dilakukan pada tanggal 9-10 Mei 2003 dari kuesioner yang diajukan didapatkan data sebagai berikut :

Nama Nelayan : Bpk. Mumuh
Pengalaman sbg nelayan bagan : 3 Tahun
Pengalaman dgn alat tangkap lain : 8 Tahun
Umur : 36 Tahun
Penghasilan : Rp. 5000.000/bln (net)

Dekripsi bagan apung :

Ukuran bagan apung :12 x 5 m
Ukuran jaring : 9 x 5 m
Harga bagan apung : Rp 6000.000/unit
Masa pemakaian : 5-10 Tahun
Masa pemakaian (Normal) : 6 Tahun

Operasional bagan apung

Fishing trip : 16.00-7.00 Wib (One day fishing)
Waktu operasi : setiap hari kecuali hari jum,at
Hasil tangkapan : 10 kg – 1000 kg/trip

Sistem Bagi Hasil

Nelayan : 20%
Bagan : 20%
Kapal Penarik (Tukang kuras,juru mudi) : 20%
Juragan : 40%
(hasil tangkapan dibagi 4 setelah dikurangi biaya operasonal, Bagan& kapal penarik milik juragan)

Masa Paceklik/Tidak Melaut

Badai : pada bulan Desember-Februari

FISIOLOGI PENGLIHATAN DAN KEMAMPUAN RENANG DARI JAPANESE WHITING DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PROSES PENANGKAPAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP SWEEPING TRAMMEL NET

Januari 28, 2009

(Ari Purbayanto, Seiji Akiyama dan Takafumi Arimoto)
Diterjemahkan Oleh :
Muslim Tadjuddah

ABSTRAK
Ketajaman penglihatan dan kemampuan renang dari Japanense whiting sillago japonica telah diuji untuk menjelaskan proses penangkapannya dengan menggunakan trammel net. Ketajaman penglihatan ditetapkan dari berat jenis kerucut retina cenderung lebih tinggi pada ikan yang lebih besar dan seperti halnya 0,08 untuk ikan yang memiliki panjang 163 mm dan 0,12 untuk ikan dengan panjang 283 mm. Jarak maksimum penglihatan dari beragam trammel net terhitung dari range ketajaman penglihatan dari 20 sampai 60 cm untuk benang ikat (twines) dan 100 sampai 150 jerat/tali, 550 sampai 750 cm pelampung. Ketahanan renang dari JWSJ diukur sebagai suatu penurunan renang pada flume tank dengan kecepatan berenang yang tinggi. Kecepatan renang maksimum yang terus menerus antara 47,77 cm/sec dan 50,51 cm/sec untuk ikan dengan panjang 127 sampai 283 mm. Hasil dari karakteristik penglihatan/visual dan kemampuan berenang dari JWSJ telah didiskusikan dalam hubungannnya pada proses penangkapannya dengan menggunakan trammel net. Untuk ikan yang berenang dekat dengan dasar laut dan tidak bisa dideteksi lebih awal oleh alat tangkap dgn kekuatan deteksi benang ikat (twine) pada jarak pandang yang pendek dari net. JWSJ panik dengan sekuat tenaga dan tidak mampu menemukan rute terbaik untuk melarikan diri. Untuk ikan yang mampu melihat pelampung, mereka akan sempat memiliki waktu berenang melewati headline agar lolos dari tangkapan.

PENDAHULUAN
Pengenalan alat tangkap dan penghindaran ikan target dan non target adalah faktor-faktor penting untuk memahami proses penangkapan suatu alat tangkap. Wardle : berpendapat bahwa penghindaran alat tangkap oleh ikan selama proses penangkapan bisa diprediksi dari range penglihatan dan kecepatan berenang. Oleh karena itu, perbedaan ukuran pada ketajaman penglihatan dan kemampuan berenang dari ikan target dan non target dapat menjadi kunci untuk menjelaskan bagaimana ikan bereaksi terhadap alat tangkap. Pendekatan ini selalu dianggap sebagai suatu alternatif dalam mengelola sumberdaya, yang digunakan untuk melestarikan ikan-ikan kecil dari alat tangkap hingga meningkatkan ukuran atau selektivitas spesies selama proses penangkapan tanpa kerusakan dan merusak sumberdaya.
Ketajaman penglihatan dari hewan diukur dari kapasitasnya dalam menjelaskan detail-detail didalam pandangan, dan ini bisa ditunjukkan sebagai minimum pandangan yang dapat dipisahkan di dalam membedakan dua target yang terlihat dekat yang diukur melalui pengujian histogical. Minimum ketajaman pandangan dapat selalu diukur sebagai ukuran reaktif terhadap target visual/penglihatan oleh metode perilaku.
Tiga faktor penting yang harus untuk menguji kemampuan berenang ikan antara lain: (1) kecepatan berenang, (2) daya tahan ikan berenang/endurance time, (3) kelelahan otot dari ikan selama berenang. Webb memperkenalkan kecepatan berenang ikan ke dalam 3 level yang berbasis waktu dimana kecepatan dapat dimaintained. Pertama, sustained speed, dimana termasuk keseluruhan kecepatan dan atau pemeliharaan aktivitas daya gerak untuk minimum 200 min. Definisi ini mencakup luasnya range dari pola daya gerak diarahkan menjadi 3 kelompok : routine (terus menerus), schooling, dan cruising(menjelajah). Kedua, kecepatan yang berlanjut, yang didefinisikan dalam hubungannya untuk sustained dan burst speed dapat dipertahankan dalam waktu antara 15 detik sampai 200 menit. Ketiga, burst atau sprint speed, termasuk kecepatan berenang dapat dipertahankan kira-kira tidak kurang dari 15 detik. Tsukamoto menyatakan bahwa pada penelitian terakhir menunjukkan maksimum kecepatan yang dapat dipelihara (cruising speed ) dan maksimum kecepatan (burst speed) telah diukur dengan membandingkan kemampuan renang ikan.
Meskipun banyak studi tentang ketajaman penglihatan dan kemampuan berenang ikan telah dilakukan, hanya beberapa studi saja yang mengaplikasikan antara ketajaman penglihatan dan kemampuan berenang untuk menjelaskan proses penangkapan dari alat tangkap yang ditujukan untuk meningkatkan selektivitas ukuran. Dalam penelitian ini, ketajaman penglihatan dan kemampuan berenang dari JWSJ sebagai target tangkapan dari sweeping trammel net di teluk Tateyama, Chiba, Jepang telah diuji. Hasilnya digunakan untuk menjelaskan proses penangkapan ikan oleh alat tangkap dalam hubungannya dengan selektivitas ukuran dari ikan.

BAHAN-BAHAN DAN METODE

PENGUKURAN DARI KETAJAMAN PENGLIHATAN
Sembilan ikan Japanese whiting (110-253 mm BL atau setara 127-283 mmTL). Dikumpulkan dari penangkapan sweeping trammel net komersial di teluk tateyama, chiba,jepang pada bulan april tahun 1997. retina ikan-ikan tersebut dengan segera dijadikan sampel dan kemudian ditempatkan pada larutan Bouin, sementara diameter lensa telah diukur pada ukuran terdekat 0,1 mm. Dengan menggunakan prosedur histological, sampel retina telah disiapkan untuk observasi mikroskopik sampai menurut garis singgung pembedahan microtome sampai ketebalan 4 mikrometer
Nilai minimum sudut yang dapat dipisahkan ditetapkan dari berat jenis tertinggi dari kerucut dibagi 0,01 mm2 area(bidang) disetiap bagian retina menggunakan formula yang diberikan oleh Tamura sebagai berikut:

Dimana α rad adalah nilai minimum sudut yang dapat dipisahkan dalam radian(lingkaran) F adalah focal lenght dari lensa yang mana dapat dihitung dari nisbah Mathiensson (2.55 kali dari radius lensa), nilai tetapan 0,25 adalah derajat penyusutan melalui prosedur histogical, dan n adalah angka dari kerucut per 0,01 mm² diketahui dari observasi mikroskopik. Karenanya, ketajaman penglihatan /visual acuity (VA) dalam derajat adalah kebalikan dari maksimum sudut yang dapat dipisahkan seperti yang ditunjukkan oleh persamaan berikut :

Maksimum jarak penglihatan (D) dari Japanese whiting pada pencahayaan ideal dan kondisi/keadaan air yang jernih untuk ukuran objek penglihatan yang berbeda dapat diperkirakan dari ketajaman penglihatan dengan menggunakan persamaan berikut :

Dimana α adalah minimum sudut yang dapat dipisahkan dalam radians dan d ukuran objek penglihatan

PENGUKURAN KEMAMPUAN BERENANG
Kemampuan berenang Japanese whiting diukur dengan mengamati waktu ketahanan berenang dalam flume tank bertipe kecil (panjang 241,6 cm dan tinggi 90,9 cm) dengan sebuah akuariun observasi berukuran 70X30X20 cm. percobaan dilaksanakan pada Laboratorium fish behavior dynamics Tokyo University of fishery, dari Mei hingga Juli 1997. Total 34 individu ikan yang sehat dari penangkapan dengan alat tangkap trammel net di Teluk Tateyama, chiba,Jepang digunakan dengan membandingkan kemampuan berenang ikan dari perbedaan ukuran panjang, ikan-ikan ini dibagi dalam dua kelompok ukuran panjangnya, contohnya; ikan kecil (138-152 mm Body length/ BL) dan ikan berukuran sedang (158-198 mm BL)
Prosedur percobaan untuk mengamati waktu ketahanan berenang diuraikan sebagai berikut. Setelah seekor ikan disesuaikan pada iklim didalam flume tank dijaga arah berenangnya agar berlawanan dengan aliran air pada 10,67 cm/sec, kecepatan aliran dinaikkan perlahan lahan hingga kecepatan yang diputuskan untuk memulai percobaan. Ikan dipaksa untuk berenang pada masing-masing tingkat kecepatan hingga kehabisan tenaga dan berhenti berenang. Waktu yang dibutuhkan untuk itu didefinisikan sebagai endurance time (waktu daya tahan) pada kecepatan aliran tersebut. Prosedur ini dilaksanakan sama untuk sample ikan lainnya dengan diberikan kecepatan aliran yang berbeda berkisar dari 47,10 cm/det – 111,58 cm/det.
Secara umum kecepatan maksimum yang dapat dipertahankan adalah batas antara sustained speed dan prolonged speed (kecepatan yang berlangsung lama) oleh karenanya waktu ketahanan renang bisa didefinisikan sebagai 12.000/det. Dalam eksperimen ini jika Japanese whiting bisa bertahan untuk berenang lebih dari 200 menit atau 12000 detik pada kecepatan tertentu, observasi dihentikan dan waktu daya tahan berenang direkam selama 12000 detik temperatur air direkam pada flume tank selama experiment berkisar dari 22,5 sampai 26,4°C dan DO (dissolves oksige)n berkisar dari 4.8 sampai 6.2 ppm.

HASIL DAN DISKUSI

Ketajaman penglihatan dan jarak maksimum penglihatan.
Hasil pengujian histogical pada sampel retina dari JWSJ menunjukkan bahwa maksimum cone density dari 207 sel/0,01 mm² untuk ikan dengan ukuran 164 mm BL dan 185 sel cone/0,01 mm² dengan ukuran ikan 252 mm BL ditentukan didalam bagian ventro temporal dari retina. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa poros visual dari ikan menunjukkan arah bagian depan paling atas, berdasarkan gambar 1 menunjukkan bahwa cone density dari retina cenderung menurun seiring peningkatan dari panjang ikan. Sementara, ketajaman panglihatan dari JWSJ sedikit meningkat secara linear oleh peningkatan BL (panjang badan ikan) dari 110 mm sampai 252 mm, dimana nilai minimum dari 0,08 pada ikan dengan BL 148 mm dan nilai maksimum dari 0,12 pada ukuran BL 252 mm. (gambar 2).

Gambar 1. Hubungan antara cone density dan BL dari Japanese whiting

Gambar 2. Hubungan antara visual acuity dan BL dari Japanese whiting

Dengan poros penglihatan dari arah muka bagian atas JWSJ melihat secara jelas sebuah objek yang diarahkan oleh garis yang hampir horizontal. Kondisi optic dari lingkungan habitat dimana ikan menghabiskan waktu hidupnya dianggap telah memiliki hubungan dengan fungsi visual. Kawamura melaporkan bahwa JWSJ adalah ikan diurnal yang menempati area yang mengandung pasir dan membenamkan badannya dengan pasir sementara kepalanya muncul. perilaku ini bias melindungi JWSJ dari serangan predator melalui penglihatan ketika predator itu dateng dekat dengan nilai kisaran penglihatan sepanjang poros penglihatan fungsi penglihatan dari JWSJ,oleh sebab itu, disadari penting untuk mendeteksi serangan predator dari pada untuk mencari makanan, ikan ini mencari ikan sepanjang daya gerak horizontal dengan memakan terutama crustacea kecil polychaeta sebagai diet utama di dasar laut.
Ketajaman penglihatan dari JWSJ sedikit rendah dibandingkan ketajaman penglihatan dari 10 ikan pelajik yang besar dilaporkan oleh Tamura dan Wisby seperti greater amberjack Seriola dumerili, skipjack tuna Katsuwonus pelamis, dan blackfin tuna Trackhurus japonicus. Tamura selalu menguji tingginya ketajaman penglihatan dari 27 spesies teleost pada umumnya. Dibandingkan terhadap ikan pelagic kecil, ketajaman penglihatan dari JWSJ, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan Jack Mackerel Trachurus japonicus. Sementara, dikelompok yang sama dari Ikan Damershal, Ketajaman penglihatan dari JWSJ sedikit lebih tinggi dibandingkan Walleye pollock Theragra chalogramma, tetapi lebih rendah dari red sea bream Pagrus major.
Jarak maksimum penglihatan dari JWSJ dalam hubungannya dengan total panjang dan ukuran obyek penglihatan ditunjukkan pada gambar 3. Di sini 4 diberikan ukuran objek penglihatan yang berbeda, sebagai contoh, 1 mm untuk ketebalan jalinan lubang jala dari trammel net, 4 mm untuk diameter tali, 15 mm untuk diameter timah pemberat pancing, dan 20 mm untuk diameter pelampung. Itu dapat terlihat pada gambar bahwa peningkatan panjang total cenderung untuk meningkatkan jarak maksimum penglihatan dari ikan khususnya untuk obyek penglihatan yang lebih besar ukurannya dari diameter timah pemberat pancing dan pelampung. Dengan ukuran obyek penglihatan dari belitan jala, jarak maksimum penglihatan untuk ikan yang paling kecil (127 mm panjang total ) sangat rendah dari 0,28 m dan sedikit meningkat menjadi 0,31 m untuk ikan yang lebih besar (283 mm TL). Untuk ukuran obyek penglihatan yang lebih besar seperti tali, timah pemberat pancing dan pelampung nikai dari jarak maksimum penglihatan untuk ikan yang paling kecil meningkat secara berangsur-angsur menjadi lebih tinggi dibandingkan untuk jalinan jala yang mana 1 m, 4 m, dan 5,5 m, secara berturut-turut.

Gambar 3. Jarak maksimum penglihatan dari Japanese whiting berdasarkan panjang total dan ukuran objek

Kemampuan Berenang

Dengan memploting waktu daya tahan dalam skala logaritma ke kecepatan berenang dari JWSJ (V dalam cm/detik) seperti yang ditunjukkan pada gambar 4, hubungan antara parameter tersebut untuk ukuran ikan kecil dan sedang dijelaskan baik oleh regresi linear sebagai berikut :
Log E = -0,06V + 7,11 (r=0,8) untuk ukuran ikan kecil
Log E = -0,04V + 5,99 (r=0,8) untuk ukuran ikan sedang
Dari garis regresi (gambar 4) bisa dijelaskan bahwa ikan dengan ukuran sedang memiliki suatu nilai kecepatan yang maksimum yang berlangsung lama dan ledakan kecepatan dibandingkan dengan ikan dengan ukuran yang kecil ( berbeda 22,92 cm/detik). Sementara, kecepatan yang diteruskan hampir sama. Estimasi dari kecepatan maksimum yang diteruskan (dipertahankan sampai 200 menit) 50,51 cm/detik untuk ikan ukuran kecil dan 47,77 cm/detik untuk ikan ukuran sedang. Mengingat ikan mampu mempertahankan sampai 10 detik pada kecepatan yang tinggi, kecepatan maksimum yang berlangsung lama atau ledakan kecepatan bisa diestimasi sebagai 101,83 cm/detik untuk ukuran ikan yang kecil dan 124,75 cm/detik untuk ukuran ikan yang sedang.

Gambar 4. Kecepatan Berenang dan daya tahan berenang untuk ikan Japanese whiting ukuran kecil dan sedang

Ikan JWSJ yang kecil menunjukkan kemampuan berenang yang lebih baik pada tangki saluran air dibandingkan ikan yang berukuran sedang, diindikasikan oleh kecepatan maksimum yang berlangsung lama dari 5,74 cm/detik untuk ikan dengan ukuran kecil dibandingkan dengan ikan berukuran sedang. Ruangan yang kecil dari aquarium observasi dari tangki saluran air yang digunakan dalam eksperimen ini dianggap sebagai alasan untuk ikan berukuran sedang yang tidak dapat memperlihatkan kemampuan berenang yang sebebnarnya seperti yang dia selalu nyatakan pada alasan yang sama. Di lain kasus, tingginya ledakan kecepatan dari JWSJ dianggap memiliki hubungan dengan karakteristik otot dari spesies ini. Seperti ikan damersal, JWSJ memiliki volume yang besar dari otot putih dan sangat kecil otot merahnya. Kondisi ini berhubungan erat dengan ekologi dari spesies yang jarang bergerak, tetapi melenting dengan kecepatan yang tinggi ketika dalam kondisi yang berbahaya.

Model Proses Penangkapan oleh Trammel Net

Sweeping trammel net adalah alat tangkap typical entangling gear dengan mekanisme encircling (melingkar) dan sweeping (menyapu) disepanjang fishing ground untuk menangkap JWSJ di teluk Tateyama, Chiba, Jepang. Ini telah dijelaskan bahwa jaring berbentuk u setelah disetting. Sinker (timah pemberat) dari body net statis selama proses penyapuan, dan kecepatan pergerakan net pada body net berkisar dari 9,2 sampai 32,5 cm/detik.
Pada operasi penangkapan yang sebenarnya JWSJ, berenang menutupi seabad (dasar laut), kemudian towing dilakukan dengan cara menggiring sampai pada wilayah catch able area seperti halnya type alat tangkap jenis dragging net. (gambar 5). Setelah ikan target digiring , dua kemungkinan tingkah laku ikan dapat terjadi antara lain :
Pertama, Ikan pada seabed berenang lurus pada arahan dari sudut kanan melawan datangnya alat tangkap. Ikan dapat mendeteksi jaring ketika datang dan sangat dekat dengan alat tangkap dengan melihat jaring sebagai arahan poros penglihatan dalam jarak penglihatan yang rendah dari 0,28 sampai 0,31 m. Pada air yang keruh jarak maksimum penglihatan akan menurun pada level minimum. Kondisi ini menghasilkan sampai pada jarak respon terendah ikan yang menyebabkan ikan menjadi panik. Oleh sebab itu, ikan tidak dapat mendeteksi jalan terbaik untuk melarikan diri dengan aman meskipun ikan memiliki kemampuan renang yang baik (maksimum sustained speed dari 47,77-50,51 cm/detik) kira-kira 2 kali lebih tinggi dari pada kecepatan jaring pada pusat body net. Fakta menunjukkan bahwa banyak JWSJ ditangkap di wilayah dasar dari jaring berbentuk U (U-Shape net). Dua rute melarikan diri untuk menghindari alat tangkap bisa dilakukan oleh beberapa ikan seperti berenang menjauh dari jalur main sinker atau pada lawan dari jalur dimana mendekatnya alat tangkap.
Kedua, Selama berenang pada jalur dari sudut poros alat tangkap, ikan mampu mendeteksi jaring dengan melihat pelampung. Disini, ada tiga contoh dari rute dari ikan kecil untuk melarikan diri (127 mm TL) dengan berenang melewati disekeliling garis pelampung seperti terlihat pada gambar (Gambar 6). Jika ikan berenang pada kecepatan maksimum sustained speed dan jaring bergerak menghampiri ikan pada kecepatan sapuan tertinggi selama 7 menit, keberhasilan ikan untuk melintasi pelampung tergantung pada posisi ikan ke float line dan antara interceptoin ikan dan jaring, yang dipengaruhi oleh lapisan renang sehingga dapat melewati float line dengan baik hal ini disebabkan net barrier (net penghalang) pada wilayah interception telah diminimalisir.

PENGKAJIAN DAERAH POTENSI IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares)

Januari 28, 2009

(Study on Potential Fishing ground Yellow Fin Tuna (Thunnus albacares) during East Season using Satellite Data in Wakatobi Waters, Southeast Sulawesi
Muslim Tadjuddah¹

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran suhu permukaan laut dan klorofil-a beserta variasinya pada musim timur dan peralihan timur-barat berdasarkan skala ruang dan waktu di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra kemudian menentukan lokasi thermal front dan upwelling sebagai indikator daerah penangkapan ikan madidihang (Thunnus albacares).
Pengkajian Suhu Permukaan Laut (SPL) dan Klorofil-a merupakan program penelitian yang sangat penting dalam bidang oseanografi. Dengan perkembangan teknologi Penginderaan jauh satelit pengukuran secara langsung faktor-faktor oseanologi (konvensional) secara berangsur-angsur akan dikurangi. Penginderaan jauh satelit dapat mencakup wilayah laut yang luas dalam waktu yang singkat, sementara itu pengukuran secara langsung ke lapangan memerlukan banyak biaya, tenaga dan waktu yang lama. Sehingga penentuan SPL dan Klorofil-a dengan teknologi penginderaan jauh merupakan alternatif yang tepat.
Operasi penangkapan ikan akan menjadi lebih efisien dan efektif apabila daerah penangkapan ikan dapat diduga terlebih dahulu, sebelum armada penangkapan ikan berangkat dari fishing base. Salah satu metode untuk mengetahui daerah penangkapan ikan ialah melalui studi daerah penangkapan ikan dan hubungannya dengan fenomena oseanografi yang terjadi. Rata-rata SPL pada musim timur di perairan Kabupaten Wakatobi 23-31°C dengan rata-rata 26.03°C. Pada musim peralihan timur-barat SPL berkisar 25-31°C rata-rata SPL 27.6 °C. Sedangkan klorofil-a pada musim timur berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.64 mg/m³. Pada musim peralihan timur-barat klorofil-a berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.68 mg/m³.
Pada bulan Juni upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan Karang Koka. Upwelling terjadi di sekitar P. Runduma, Karang Kapota, Karang Kaledupa pada bulan Juli dan Agustus. Upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan P.Wangi-wangi pada bulan September. Berdasarkan sebaran front maka daerah penangkapan madidihang potensial ditemukan pada bagian timur perairan Kabupaten Wakatobi khususnya disekitar karang koromaha dan karang koka.

Kata-kata Kunci : Fishing ground, Suhu permukaan laut, klorofil-a, madidihang

¹Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-UNHALU

1.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penentuan daerah penangkapan ikan menggunakan metode analisis data inderaja dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit yang dihasilkan terhadap beberapa parameter fisika kimia dan biologi perairan. Hal yang dilakukan diantaranya adalah pengamatan suhu permukaan laut (SPL), pengangkatan massa air (up-welling) ataupun pertemuan dua massa air yang berbeda (sea front) dan perkiraan kandungan klorofil disuatu perairan. Hasil pengamatan tersebut dituangkan dalam bentuk peta kontur, sehingga dapat diperkirakan tingkat kesuburan suatu lokasi perairan atau kesesuaian kondisi perairan dengan habitat yang disenangi suatu gerombolan (schoaling) ikan berdasarkan koordinat lintang dan bujur. Selanjutnya armada penangkap ikan dapat bergerak ke lokasi tersebut untuk melakukan penangkapan ikan dengan cepat dan tepat.
Kabupaten Wakatobi merupakan daerah pemekaran dari kabupaten Buton Provinsi Sultra yang disyahkan dengan Undang- Undang R I No. 29 tahun 2003. Luas Kabupaten Wakatobi diperkirakan sekitar 16.890 Km² atau 1.689.000 ha dimana 95% dari wilayah ini merupakan perairan laut. Kabupaten Wakatobi Propinsi Sultra terletak antara 5°12′ – 6°10 LS dan 123°20′ – 124°39′ BT.
Wilayah Kabupaten Wakatobi sendiri di sebelah utara dan timur berbatasan dengan Laut Banda, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar terutama untuk kelompok ikan pelagis besar (Cakalang dan Tuna). Menurut data PPT-LIPI,2002 : data produksi ikan tuna dan cakalang sebanyak 3 – 4 ton per hari.
Penentuan daerah penangkapan ikan selama ini di kabupaten Wakatobi dilakukan nelayan dengan menggunakan cara-cara tradisional. Seperti dengan hanya memperhatikan kondisi perairan misalnya dengan melihat adanya buih-buih di permukaan perairan,warna perairan yang lebih warna perairan yang lebih gelap dari perairan disekitarnya, adanya burung beterbangan yang menukik-nukik di sekitar perairan dan munculnya lumba-lumba di permukaan perairan. Kondisi ini diperparah lagi dengan kondisi perairan Kabupaten Wakatobi yang relatif luas (Luas wilayah Kabupaten Wakatobi 95% terdiri atas lautan)
Metode ini merupakan pengetahuan yang diperoleh secara turun-temurun. Kelemahan dari metoda ini tidak dapat mengantisipasi perubahan kondisi oseanografi dan meteorologi yang sangat berkaitan erat dengan perubahan daerah penangkapan ikan (fishing gound) itu sendiri yang berubah secara dinamis.
Sampai saat ini di kabupaten Wakatobi masih terdapat kendala untuk dapat mengoptimalkan operasi penangkapan ikan agar lebih efisien dan produktif. Adapun kendala yang dihadapi pertama, nelayan kesulitan mencari daerah penangkapan ikan yang disebabkan ketidaktahuan tentang faktor oseanografi yang berhubungan dengan kemunculan schooling ikan. Kedua, nelayan tidak dapat merencanakan operasi penangkapan ikan yang tepat yang disebabkan karena tidak dapat menduga musim penangkapan ikan akibatnya operasi penangkapan ikan akan berjalan tidak efektif, tidak efisien dan tidak ekonomis karena nelayan berangkat dari pangkalan bukan untuk menangkap ikan tetapi untuk mencari lokasi daerah penangkapan ikan. Dengan demikian, nelayan akan selalu berada dalam ketidakpastian tentang lokasi penangkapan dan akhirnya hasil tangkapan juga menjadi tidak pasti.
2. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan :
(1) Mengetahui penyebaran suhu permukaan laut pada musim timur berdasarkan skala ruang dan waktu sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra.
(2) Mengetahui penyebaran klorofil-a pada musim timur berdasarkan skala ruang dan waktu di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra.
(3) Menentukan lokasi Thermal front dan upwelling sebagai indikator daerah penangkapan ikan madidihang (Thunnus albacares)

3. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra pada posisi antara 5°12′ – 6°10′ LS dan 123°20′ – 124°39′ BT. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Mei 2005.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

3.2 Alat dan Data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
1 ) Perangkat komputer PC Core 2 Duo
2 ) Perangkat pengolah data satelit yaitu ER.MAPPER 6.0 untuk pengolah citra SPL dan kontur SPL dan Arc-View 3.3 untuk pengolahan pemetaan zona penangkapan ikan.
3 ) Peta perairan Kabupaten Wakatobi no. 317. (Sumber : Dishidros TNI-AL
tahun 2001, Skala : 1:200.000)untuk menentukan lokasi daerah penelitian
4 ) Kamera Foto, membuat dokumentasi selama penelitian
5 ) GPS (Garmin III Plus), untuk menentukan posisi daerah penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1 ) Data suhu permukaan laut pada musim timur dan musim peralihan timur-barat hasil pengukuran sensor AVHRR satelit NOAA yang bebas awan tahun 1999,2000, 2001, 2002 dan 2003
2 ) Data klorofil-a pada musim timur dan musim peralihan timur-barat hasil pengukuran sensor SeaWIFS satelit Seastar yang bebas awan tahun 2002 dan 2003
3 ) Data oseanografi
4 ) Data hasil tangkapan ikan madidihang tahun 1999, 2000, 2001 2002 dan 2003

3.3 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode survai sedangkan data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data In-situ dan data Ex-situ. Data In-situ terdiri dari data posisi daerah penangkapan, waktu penangkapan, ukuran kapal, jumlah kapal.Data ini diperoleh dari responden yaitu nelayan pancing tonda yang dominan menangkap ikan madidihang di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi melalui pengisian kuisioner dan wawancara.
Data Ex-situ terdiri dari data satelit yaitu suhu permukaan laut (SPL) tahun 1999-2003 dan klorofil-a selama tahun 2002-2003 yang diterima dan diproses di Stasiun Bumi Satelit Lingkungan dan Cuaca (SBSLC) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) JL.Pekayon 70, Pasar Rebo,Jakarta Timur. Data oseanografi yaitu data pola arus diperoleh dari hasil studi Wyrtki (1961). Data hasil tangkapan ikan madidihang yaitu data selama lima tahun (data time series) diperoleh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di lokasi penelitian.
3.4 METODE ANALISIS DATA
3.4.1. Analisis Suhu Permukaan Laut
Citra yang terpilih untuk diolah yaitu dengan pertimbangan citra tersebut bebas awan yang merupakan data bulanan selama lima tahun (1999-2003) sebanyak 26 citra. Citra SPL dikelompokkan berdasarkan variasi musiman, yaitu Musim Timur diwakili 13 citra, Musim Peralihan Timur-Barat diwakili 13 citra, (Tabel 1).
Tabel 1. Citra Suhu Permukaan Laut Terpilih

Pengolahan data citra suhu permukaan laut satelit NOAA-AVHRR menjadi kontur SPL terdiri dari 7 tahap sebagai berikut, yaitu tahap pemilihan citra bebas awan, tahap pemotongan citra (cropping), tahap perhitungan nilai spl, tahap klasifikasi SPL, tahap koreksi geometrik, tahap pembuatan kontur SPL, tahap penggabungan kontur SPL dengan hasil digitasi bentuk daratan

3.4.2 Analisis Klorofil-a
Data citra satelit SeaWifs merupakan data hasil download yang diperoleh pada homepage NASA: http://seawifs.gsfc.gov/cgibrs/seawifs subreg 12.pl. Berupa data global area coverage (GAC) dengan resolusi 4 km. Citra klorofil-a yang terpilih untuk didown load ialah data citra bulanan selama dua tahun (2002-2003) sebanyak 12 citra, sama halnya dengan citra suhu permukaan laut citra klorofil-a yang didown load merupakan citra yang bebas awan kemudian dikelompokkan berdasarkan variasi musiman. Pada citra Musim Timur diwakili 6 citra, Musim peralihan Timur-Barat diwakili 6 citra,
Tabel 2. Citra Klorofil-a Terpilih

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Suhu Permukaan Laut
Pada musim timur rata-rata suhu permukaan laut sekitar 26.03°C. Suhu dominan merata pada sisi barat dan timur Kepulauan Wakatobi yang berkisar 22-23°C. Suhu hangat cenderung berada di sebelah barat Kepulauan Wakatobi dengan suhu berkisar antara 27-31°C. Suhu dingin lebih berkecenderungan berada di sebelah timur yang berkisar antara 23-25°C. Adapun profil atau penyebaran SPL secara mendetail pada musim timur disajikan dalam bentuk citra pada Lampiran .
Citra SPL tanggal 29 Juni 2000 terlihat lebih hangat dibanding citra SPL tanggal 3 Juni 1999, 29 Juni 2001, 7 Juni 2002 dan 11 Juni 2003. Suhu hangat nampak cenderung berada di sebelah barat perairan Kepulauan Wakatobi. Suhu dingin terlihat cenderung berada di sebelah timur. Penyebaran citra SPL tanggal 21 Juli 1999 dan 17 Juli 2003 memperlihatkan suhu lebih hangat dibanding citra SPL tanggal 14 Juli 2001 dan 4 Juli 2002. Suhu hangat terlihat masih berada di sisi barat Kepulauan Wakatobi sedangkan suhu dingin terlihat pada sisi timurnya.
Sebaran citra SPL pada tanggal 22 Agustus 2000 terlihat lebih hangat dibanding citra SPL tanggal 30 Agustus 1999, 10 Agustus 2001, 26 Agustus 2002 dan 13 Agustus 2003. Suhu hangat pada bulan Agustus terlihat cenderung tetap yaitu pada sisi barat seperti pada bulan Juni dan Juli selanjutnya suhu dingin terlihat pada sisi timur.
Pada Musim peralihan timur-barat suhu permukaan laut rata-rata sekitar 26.7°C. Suhu dominan berkisar 26-27°C cenderung berada pada sisi barat Kepulauan Wakatobi yang mana, suhu hangat berkisar antara suhu 28-32°C berada pada sisi timur P.Wangi-wangi dan utara P. Runduma. Suhu dingin berkisar antara 25-26°C terdapat di sekitar bagian timur Kepulauan Wakatobi. Pada bulan September citra SPL tanggal 28 September 2000 terlihat lebih panas dibanding citra tanggal 6 September 2001, 6 September 2002 dan 9 September 2003. Suhu hangat terlihat di sebagian kecil sisi barat perairan Kepulauan Wakatobi sedangkan suhu dingin mendominasi di sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi.
Citra SPL tanggal 3 Oktober 2000 terlihat lebih panas dari citra SPL tanggal 16 Oktober 1999, 16 Oktober 2001, 10 Oktober 2002 dan 22 Oktober 2003. Suhu hangat terlihat pada bagian timur kepulauan Wakatobi, sebagian barat P.Tomia dan P.Binongko. Suhu dingin terlihat pada sisi timur namun cenderung berada di sekitar P.Runduma.
Citra SPL tanggal 7 November 2000 dan 8 November 2003 terlihat lebih panas dibanding citra tanggal 24 November 2001 dan 5 November 2002. Suhu hangat merata pada bagian barat dan timur perairan Kepulauan Wakatobi.
4.2 Pergerakan Sebaran Suhu Permukaan Laut
Pada musim timur pergerakan sebaran SPL, terdapat perbedaan. Kantung-kantung percampuran massa air hangat dan massa air dingin disebagian besar citra SPL musim peralihan barat-timur tidak terlihat lagi berganti dengan massa air dingin yang mulai mendominasi pada hampir seluruh citra pada musim timur ini. Hal ini diduga disebabkan pada wilayah perairan Kepulauan Wakatobi terjadi pengangkatan massa air dari lapisan yang dalam yang bersuhu rendah sampai di permukaan. Kondisi diatas didukung pendapat Boely et el (1990) menyatakan bahwa temperatur terendah di Laut Banda ditemui antara bulan Juni sampai September.
Massa air bersuhu dingin ditemui pada sisi barat dan timur kepulauan Wakatobi. Pada citra tanggal 7 Juni 2002 dan 13 Agustus 2003 khususnya di sebagian kecil sisi barat Kepulauan Wakatobi terlihat jelas terbentuk kantung-kantung massa air hangat yang dikelilingi oleh massa air yang lebih dingin atau fenomena front suhu.
Dari keseluruhan citra sebaran SPL pada musim timur terlihat pola pergerakan SPL secara spasial di perairan Kepulauan Wakatobi bergerak dari timur ke barat dengan membawa massa air yang bersuhu dingin. Sesuai pendapat Schalk (1987) yang menyatakan bahwa massa air dingin dalam jumlah besar di Laut Banda itu akan bergeser ke arah barat mengikuti pergerakan arus permukaan pada musim timur dan terus menuju ke Laut Flores.
Pada musim peralihan timur-barat terlihat sebaran SPL di sebagian besar perairan Kepulauan Wakatobi memiliki suhu perairan yang lebih panas. Hal ini disebabkan pada musim peralihan ini arus permukaan lebih tenang sehingga pemanasan matahari lebih efektif untuk meningkatkan suhu permukaan perairan.
Pada musim peralihan timur-barat, dari sebagian besar citra SPL yang terlihat bukan lagi massa air dingin yang mendominasi perairan tetapi olakan-olakan massa air yang membentuk kantung-kantung massa air. Peristiwa ini nampak cukup intensif terutama pada bulan September dan Oktober
Dari citra SPL (Lampiran) pola pergerakan sebaran SPL pada musim peralihan timur-barat secara spasial terlihat dari sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi ke sisi barat dengan pergerakan SPL cenderung dari suhu dingin ke suhu hangat. Hal ini disebabkan pada musim ini posisi matahari tepat berada di belahan bumi selatan (Equatorial) sehingga intensitas penyinaran lebih efektif. Menurut pendapat Weil yang diacu dalam Hutagalung (1988) bahwa suhu air laut terutama di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah bahang yang diterima dari sinar matahari.
4.3 Profil Klorofil-a
Konsentrasi klorofil-a pada musim timur rata-rata 1.64 mg/m³. Pada musim ini konsentrasi klorofil-a dominan pada kisaran 1.0 mg/m³ terdapat pada bagian barat perairan Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorifil-a tertinggi berkisar antara 0.3-3.0 mg/m³ terdapat dibagian barat dan timur Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorifil-a terendah berkisar antara 0.2-2.5 mg/m³ terdapat di sekitar P. Runduma dan timur Kepulauan Wakatobi . Adapun penyebaran konsentrasi klorofil-a selengkapnya disajikan dalam Lampiran .
Konsentrasi klorofil-a pada musim timur tertinggi terdapat pada citra tanggal 26 Agustus 2002 dan tanggal 14 Agustus 2003 bila dibandingkan dengan citra tanggal 24 Juni 2003, 11 Juni 2003, 23 Juli 2002 dan citra tanggal 17 Juli 2003. Konsentrasi klorofil-a tertinggi pada musim ini terlihat di sebagian besar perairan Kepulauan Wakatobi yaitu pada sisi barat dan timurnya. Konsentrasi klorofil-a terendah hanya terdapat di sebagian kecil pada wilayah ini yaitu sekitar perairan P.Runduma.
Pada musim peralihan timur-barat rata-rata konsentrasi klorofil-a 1.68 mg/m³. Pada musim ini konsentrasi klorofil-a dominan pada kisaran 0.1-0.2 mg/m³ terdapat pada bagian timur perairan Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorofil-a tertinggi berkisar antara 0.3-3.0 mg/m³ terdapat di bagian barat dan timur Kepulauan Wakatobi dan konsentrasi klorifil-a terendah berkisar 0.2-2.0 mg/m³ terdapat di bagian barat P.Kaledupa, P.Tomia , P.Binongko dan bagian selatan P.Runduma. Penyebaran klorofil-a selengkapnya disajikan dalam bentuk citra pada Lampiran .
Pada musim peralihan timur-barat konsentrasi klorofil-a terlihat lebih tinggi pada citra tanggal 6 September 2002, 9 September 2003, 10 Oktober 2002 dan citra tanggal 22 Oktober 2003 bila dibandingkan dengan citra klorofil-a tanggal 4 November 2002 dan citra tanggal 8 November 2002. Konsentrasi klorofil-a tertinggi ditemukan di sebagian besar daerah terumbu karang yaitu Karang Kapota dan Karang Kaledupa yang terletak di sebelah barat perairan Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorofil-a terendah terlihat pada luasan kecil di sebelah timur perairan Kepulauan Wakatobi.

4.4 Pergerakan Klorofil-a
Pada musim timur terlihat wilayah perairan Kepulauan Wakatobi sangat subur (Lampiran). Konsentrasi klorofil-a tertinggi dijumpai pada sisi barat dan timur, sedangkan pada musim peralihan barat-timur konsentrasi klorofil-a tertinggi hanya terlihat pada bagian barat. Kondisi ini diduga disebabkan di perairan Kepulauan Wakatobi terjadi Upwelling. Menurut Wyrtki (1961), berdasarkan sirkulasi massa air permukaan dan pola angin yang bertiup menunjukkan di Laut Banda memungkinkan untuk terjadinya penaikan massa air (Upwelling) pada musim timur (Juni-Agustus). Pergerakan konsentrasi klorofil-a tertinggi pada musim timur mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Konsentrasi klorifil-a cukup tebal terutama pada sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi. Hal ini sesuai dengan hasil studi Nontji (1975) yang menyimpulkan bahwa konsentrasi klorofil-a tertinggi terdapat di bagian timur Laut Banda. Konsentrasi klorofil-a memperlihatkan pola pergerakan yang sama dari bulan Juni sampai Agustus.
Konsentrasi klorofil-a pada musim peralihan timur-barat mengalami penurunan dibanding pada musim timur (Lampiran 9). Namun pada bulan September konsentrasi klorofil-a terlihat masih cukup tinggi tetapi tidak setebal pada bulan Agustus (musim timur). Vosjan and Nieuwland (1987) menyatakan di Laut Banda pada musim timur terdapat dua periode bloom plankton, pertama pada bulan Juni dan kedua di bulan Agustus-September. Pola pergerakan klorofil-a tertinggi terlihat tetap berada di sekitar Karang Kapota dan Karang Kaledupa (barat Kepulauan Wakatobi). Secara umum dari citra klorofil-a terlihat konsentrasi klorofil-a berangsur-angsur menurun pada bulan November.
4.5 Pendugaan Daerah Penangkapan Ikan
4.5.1 Thermal Front
Pada musim timur pergerakan sebaran SPL, terdapat perbedaan. Kantung-kantung percampuran massa air hangat dan massa air dingin disebagian besar citra SPL musim peralihan barat-timur tidak terlihat lagi berganti dengan massa air dingin yang mulai mendominasi pada hampir seluruh citra pada musim timur ini. Hal ini diduga disebabkan pada wilayah perairan Kepulauan Wakatobi terjadi pengangkatan massa air dari lapisan yang dalam yang bersuhu rendah sampai di permukaan. Kondisi diatas didukung pendapat Boely et el (1990) menyatakan bahwa temperatur terendah di Laut Banda ditemui antara bulan Juni sampai September.
Massa air bersuhu dingin ditemui pada sisi barat dan timur kepulauan Wakatobi. Pada citra tanggal 7 Juni 2002 dan 13 Agustus 2003 khususnya di sebagian kecil sisi barat Kepulauan Wakatobi terlihat jelas terbentuk kantung-kantung massa air hangat yang dikelilingi oleh massa air yang lebih dingin atau fenomena front suhu.
Dari keseluruhan citra sebaran SPL pada musim timur terlihat pola pergerakan SPL secara spasial di perairan Kepulauan Wakatobi bergerak dari timur ke barat dengan membawa massa air yang bersuhu dingin. Sesuai pendapat Schalk (1987) yang menyatakan bahwa massa air dingin dalam jumlah besar di Laut Banda itu akan bergeser ke arah barat mengikuti pergerakan arus permukaan pada musim timur dan terus menuju ke Laut Flores.
Pada musim peralihan timur-barat (Lampiran ) terlihat sebaran SPL di sebagian besar perairan Kepulauan Wakatobi memiliki suhu perairan yang lebih panas. Hal ini disebabkan pada musim peralihan ini arus permukaan lebih tenang sehingga pemanasan matahari lebih efektif untuk meningkatkan suhu permukaan perairan.
Pada musim peralihan timur-barat, dari sebagian besar citra SPL yang terlihat bukan lagi massa air dingin yang mendominasi perairan tetapi olakan-olakan massa air yang membentuk kantung-kantung massa air. Peristiwa ini nampak cukup intensif terutama pada bulan September dan Oktober
Dari citra SPL pola pergerakan sebaran SPL pada musim peralihan timur-barat secara spasial terlihat dari sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi ke sisi barat dengan pergerakan SPL cenderung dari suhu dingin ke suhu hangat. Hal ini disebabkan pada musim ini posisi matahari tepat berada di belahan bumi selatan (Equatorial) sehingga intensitas penyinaran lebih efektif. Menurut pendapat Weil yang diacu dalam Hutagalung (1988) bahwa suhu air laut terutama di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah bahang yang diterima dari sinar matahari. Posisi front pada bulan Juni, Juli dan Agustus disajikan pada Gambar 6. Front ditemukan tersebar pada posisi 123°30’00” – 124°35’00” BT dan 5°10’00” – 6°05’00” LS di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa, Karang Koromaha dan Karang Koka. Tingginya frekuensi front pada daerah karang hal ini diduga disebabkan pada wilayah karang terjadi upwelling. Wyrtki (1958) melaporkan bahwa di Laut Banda pada musim timur (Juni, Juli dan Agustus) terjadi upwelling yang dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September.
Pada bulan Juni front terbentuk pada sisi barat P.Tomia dan P. Binongko dengan gradien suhu 0.5°C. Pada bulan Juli front terlihat bergeser ke utara yaitu di sebelah barat P.Kaledupa (di sekitar Karang Kaledupa). Selanjutnya front terlihat bertahan pada posisi yang sama sampai bulan Agustus. Dari analisis visual (Lampiran ) terlihat adanya kantung-kantung massa air hangat (water pocket) yang di kelilingi oleh massa air dingin. Pola pergeseran front cenderung berada di sekitar Karang Kaledupa terutama pada bulan Juli dan Agustus.
Wyrtki (1961) melaporkan bahwa pada bulan Juni arah arus dari Laut Halmahera menuju ke Laut Banda dan pada saat tiba di perairan Kepulauan Wakatobi dengan kecepatan yang cukup tinggi (75 cm/sec) kemudian pada bulan Agustus menurun dengan kecepatan 50 cm/sec (Lampiran). Akibatnya kecepatan arus dan angin yang cukup kuat diduga akan menyebabkan terjadinya daerah front. Pada bulan Juni, Juli dan Agustus jarak gradien suhu front berkisar 1,64-3,00 km dengan kisaran suhu 21,42 – 27,93°C.
Pada bulan September, Oktober dan November posisi front seperti ditunjukkan pada Gambar 7. Front ditemukan tersebar pada posisi 123°25’00” – 124°30’00” BT dan 5°40’00” – 6°01’00” LS pada wilayah Karang Kapota, Karang Kaledupa , Karang Koromaha dan Karang Koka. Gradien suhu di sekitar Karang Kaledupa dan Karang koromaha berkisar 0.5-1.0°C. Front yang terdeteksi di sekitar Karang Kaledupa pada bulan September terlihat tetap bertahan sampai bulan Oktober. Front di sekitar Karang Koromaha terlihat bergeser ke selatan sekitar Karang Koka pada bulan Oktober dengan gradien suhu 0.5°C.
Pada bulan November front terlihat masih tetap bertahan di sekitar Karang Kaledupa dan Karang Koka. Front pada bulan Oktober ini cenderung bergeser ke Karang Koka dan kemudian pada bulan November terbentuk di sekitar Karang Koromaha dengan gradien suhu 0.5°C. Hal ini memberikan informasi bahwa terdapat hubungan yang erat antara wilayah sekitar karang dengan fenomena terbentuknya front di lokasi penelitian. Arus convergen dan divergen yang bertemu atau terbentur dengan punggung karang (ridge) yang memiliki kedalaman relatif dangkal dibandingkan dengan wilayah perairan sekitarnya.
Dari analisis visual yang dilakukan (Lampiran) menunjukkan fenomena terbentuknya front di Kepulauan Wakatobi pada musim peralihan timur-barat. Front terbentuk dari kantung-kantung massa air dingin yang dikelilingi massa air yang lebih hangat dengan pola pergerakan relatif stabil berada di sekitar karang.
Pada bulan Juli indikasi upwelling terdeteksi pada tanggal 23 Juli 2002 dan 17 Juli 2003. Indikasi upwelling terlihat masih bertahan di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan di sekitar P. Runduma. Pada citra terlihat pada bulan Juli ini konsentrasi klorofil-a lebih tebal dibanding pada bulan Juni, seperti terlihat pada Gambar 9.
Menurut Nontji (1987) di Laut Banda peristiwa upwelling hanya terjadi pada musim timur. Dimana angin musim timur mendorong keluar air permukaan Laut Banda dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. Menurut Wyrtki (1961) Upwelling yang terjadi di Laut Banda dapat digolongkan upwelling silih berganti (Alternating type) yaitu upwelling dan downwelling terjadi bergantian dalam satu tahun. Pada satu musim (musim timur) terjadi upwelling dan musim berikutnya (musim barat) terjadi downwelling.
Pada bulan Agustus, upwelling terjadi pada tanggal 26 Agustus 2002 dan 14 Agustus 2003. Upwelling terjadi di sisi barat dan timur Kepulauan Wakatobi yang diindikasikan dengan konsentrasi klorofil-a yang tinggi (>1,0 mg/m³) seperti terlihat pada Gambar 10. Tingginya konsentrasi klorofil-a pada bulan Agustus disebabkan kuatnya angin musim tenggara (arus musim timur) yang mengaduk lapisan perairan sehingga mengangkat zat-zat hara (silikat, phosphat dan nitrat) dari lapisan bawah yang kaya akan nutrient. Pada citra tanggal 26 Agustus 2002, menunjukkan indikasi upwelling terkonsentrasi di sekitar Karang Kapota dan Karang Kaledupa pada posisi 123°30’00” – 123°55’00” BT dan 5°30’00” – 5°58’00” LS sedangkan pada citra tanggal 14 Agustus 2003, menunjukkan indikasi upwelling terjadi di sekitar P. Runduma pada posisi 124°15’00” – 124°39’00” BT dan 5°10’00” – 6°01’00” LS.
Pada bulan September indikasi upwelling terdeteksi pada citra tanggal 9 September 2003. Pada bulan September konsentrasi klorofil tinggi sebagai indikator upwelling terlihat menurun. Hal ini diduga seiring menurunnya intensitas angin yang mendorong massa air permukaan. Indikasi upwelling terkonsentrasi di sekitar Karang Kapota dan Karang Kaledupa dan sekeliling P. Wangi-wangi pada posisi 123°20’00” – 123°05’00” BT dan 5°10’00” – 5°55’00” LS.

4.5.3 Hasil Tangkapan Madidihang
Hasil tangkapan madidihang pada tahun 1999 sampai 2003 menunjukkan trend yang cenderung menurun. Produksi hasil tangkapan tertinggi terjadi pada tahun 1999 yaitu sebesar 11286 kg sedangkan produksi tangkapan terendah terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar 5486 kg. Pada tahun 2003 produksi hasil tangkapan meningkat lagi sebesar 10500 kg.

Berdasarkan rata-rata bulanan hasil tangkapan madidihang dari tahun 1999 sampai tahun 2003 (Gambar 2) terlihat bahwa hasil tangkapan tertinggi terjadi pada bulan Juni sebesar 1500 kg dimana pada bulan ini merupakan awal musim timur. Hasil tangkapan terendah terjadi pada bulan November yaitu sebesar 215 kg dimana pada bulan ini merupakan akhir dari musim peralihan timur-barat.
Tingginya hasil tangkapan madidihang pada bulan Juni, diduga berkaitan erat dengan upwelling pada bulan tersebut sehingga wilayah perairan Kepulauan Wakatobi menjadi subur. Selain karena faktor tersebut, ditemukannya kisaran suhu front pada bulan Juni sekitar 21.2-26.8°C menunjukkan masih dalam batas toleransi kisaran suhu penangkapan ikan madidihang yaitu sekitar 14-27°C (Burhanuddin et al.,1984).
Berdasarkan hasil ground check yang dilakukan (Lampiran) menunjukkan daerah penangkapan ikan madidihang masih berada dalam daerah ditemukannya front dan upwelling. Dari hasil ground check ditemukan pula terdapat daerah front dan upwelling tetapi di daerah tersebut sampai saat ini nelayan setempat belum melakukan penangkapan ikan. Daerah yang dimaksud terdapat di sekitar Karang Koromaha dan Karang Koka.

Gambar 15. Grafik rerata bulanan hasil tangkapan madidihang di Kabupaten Wakatobi Tahun 1999 – 2003

5. KESIMPULAN DAN SARAN

(1) Pada musim timur SPL berkisar 23-31°C dengan rata-rata 26.03°C. Pada musim peralihan timur-barat berkisar 25-31°C rata-rata SPL 27.6 °C
(2) Suhu dingin yang terjadi pada bulan Juni cenderung bergerak dari arah timur ke arah barat Kepulauan Wakatobi sampai bulan Agustus.
(3) pada musim timur klorofil-a berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.64 mg/m³. Pada musim peralihan timur-barat berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.68 mg/m³.
(4) Konsentrasi klorofil-a yang tinggi pada bulan Juni cenderung bergerak dari arah timur ke arah barat Kepulauan Wakatobi hingga pada bulan September.
(5) Pada bulan Juni upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan Karang Koka. Upwelling terjadi di sekitar P. Runduma, Karang Kapota, Karang Kaledupa pada bulan Juli dan Agustus. Upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan P.Wangi-wangi pada bulan September
(6) Berdasarkan hasil ground check yang dilakukan menunjukkan daerah penangkapan ikan madidihang berada dalam daerah ditemukannya front dan upwelling, ditemukan pula pada daerah front dan upwelling (karang koromaha dan karang koka) nelayan setempat belum melakukan aktifitas penangkapan ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.

[BPS] Biro Pusat Statistik Resort Wangi-wangi. Laporan Triwulanan Tahun 1999-2003. Mandati. hlm.1-25.

Blackburn M. 1965. Oceanography and The Ecology of Tunas. In H. Barnes (editor), Oceanography Marine Biology Ann. Rev. 3. George Allen and Unwin Ltd. London. p.299-322.

Harsanugraha WK dan Ety Parwati. 1996. Aplikasi Model-Model Estimasi Suhu Permukaan Laut Berdasarkan Data NOAA-AVHRR. Warta Inderaja Vol VIII. No.2 : P23-35.

.Hasyim B, Chandra E. Adi. 1999. Analisis Pola Distribusi Suhu Permukaan Laut dan Hasil Tangkapan Ikan Cakalang di Perairan Utara Pulau Bali. Majalah LAPAN No.01Vol 01 p 1-8.

Hela I dan T. Laevastu. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing News (Books) Ltd. London. hlm. 123.

Nasa, http://Seawifs.gsfc.nasagov/

Narain A. 1993. Remote Sensing and Fisheries Exploration : Case studies. In International Workshop on Aplication of Satelite Remote Sensing for Identifying and Foresting Potential Fishing Zone in Developing Counteries. Hyderabad, India. p. 1-24.

Pickard GL and WJ Emery. 1990. Descriptive Physical Oceanograpy An Introduction . Pergamon Press. 320 p

Wyrtki K. 1961. Physical Oceanography of The South East Asian Waters. Naga Report. Vol. 2. Scripps Institution of Oceanography. The University of California. La Jolla. California. 195 p.

Kajian Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Menurut Klasifikasi Statistik Internasional Standar FAO

Januari 28, 2009

( Analysis Environmental Friendly for International Standard Statistical Classification on Fishing Gears /ISSCFG )

Oleh :
MUSLIM TADJUDDAH
KHAIRUL AMRI
RATNA KOMALA

PENDAHULUAN

Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang berkelanjutan (sustainable fisheries cupture) sesuai dengan ketentuan pelaksanaan perikanan yang bertanggung jawab (FAO Code of conduct for Responsible Fisheries/CCRF) maka eksploitasi sumberdaya hayati laut harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (Responsible fisheries).
Data dari SOFIA (The State of World Fisheries and Aquaculture) menyatakan bahwa 5 % dari perikanan dunia dalam status deplesi atau penurunan produksi secara terus menerus, 16 % terlah dieksploitasi secara berlebihan dan melampaui batas optimim produksi, 52 % telah penuh eksploitasi, 23 % pada tahap moderat yang artinya produksinya masih dapat ditingkatkan meskipun dalam jumlah yang kecil, 3 % sumberdaya ikan masih dibawah tingkat eksploitasi optimumnya dan hanya 1 % yang dalam proses pemulihan melalui program-program konservasi.
Berdasarkan tersebut di atas, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu dikaji penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan dari segi pengoperasian alat penangkapan ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana untuk perikanan yang bertanggungjawab atau Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Kedepan, trend pengembangan teknologi penangkapan ikan ditekankan pada teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan (environmental friendly fishing tecnology) dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan. Teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan adalah suatu alat tangkap yang tidak memberikan dampat negatif terhadap lingkungan, yaitu sejauh mana alat tangkap tersebut tidak merusak dasar perairan, tidak berdampak negatif terhadap biodiversity, target resources dan non target resources
Di Indonesia saat ini dikenal 3 (tiga) klasifikasi alat penangkapan ikan. yang pertama : menurut klasifikasi A. Von Brandt, (1964), Kedua : klasifikasi statistik internasional alat tangkap standar FAO, yang ketiga : klasifikasi standar alat tangkap berdasarkan statistik perikanan Indonesia (Anonim, 2007).
Makalah ini bertujuan untuk mengkaji keramahan alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO. adapun alat analisis yang digunakan menurut FAO (1995) sesuai dengan standar Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yaitu terdapat 9 (sembilan ) kriteria suatu alat tangkap dikatakan ramah terhadap lingkungan, antara lain :

1. Mempunyai selektifitas yang tinggi
2. Tidak merusak habitat
3. Menghasilkan ikan yang berkualitas tinggi
4. Tidak membahayakan nelayan
5. Produksi tidak membahayakan konsumen
6. By-catch rendah
7. Dampak ke biodiversty rendah
8. Tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi
9. Dapat diterima secara sosial

KRITERIA ALAT TANGKAP IKAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

Di Indonesia saat ini, telah banyak dikembangkan metode penangkapan yang tidak merusak lingkungan (Anonim. 2006). Selain karena tuntutan dan kecaman dunia internasional yang akan memboikot ekspor dari negara yang sistem penangkapan ikannya masih merusak lingkungan, pemerintah juga telah berupaya untuk melaksanakan tata cara perikanan yang bertanggung jawab.
Food Agriculture Organization (FAO, sebuah lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa yang menangani masalah pangan dan pertanian dunia), pada tahun 1995 mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (Code of Conduct for Resposible Fisheries- CCRF). Dalam CCRF ini, FAO menetapkan serangkaian kriteria bagi teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan. Sembilan kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
1. Alat tangkap harus memiliki selektivitas yang tinggi.
Artinya, alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja. Ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis. Sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah hingga yang paling tinggi):
– Alat menangkap lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh
– Alat menangkap tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh
– Alat menangkap kurang dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama.
– Alat menangkap satu spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama.
2. Alat tangkap yang digunakan tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya.
Ada pembobotan yang digunakan dalam kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan alat penangkapan. Pembobotan tersebut adalah sebagai berikut (dari yang rendah hingga yang tinggi):
– Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang luas
– Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit
– Menyebabkan sebagian habiat pada wilayah yang sempit
– Aman bagi habitat (tidak merusak habitat)

3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan).
Keselamatan manusia menjadi syarat penangkapan ikan, karena bagaimana pun, manusia merupakan bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif. Pembobotan resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin dialami oleh nelayan, yaitu (dari rendah hingga tinggi):
– Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan
– Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan
– Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara
– Alat tangkap aman bagi nelayan
4. Menghasilkan ikan yang bermutu baik.
Jumlah ikan yang banyak tidak berarti bila ikan-ikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara morfologis (bentuknya). Pembobotan (dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut:
– Ikan mati dan busuk
– Ikan mati, segar, dan cacat fisik
– Ikan mati dan segar
– Ikan hidup
5. Produk tidak membahayakan kesehatan konsumen.
Ikan yang ditangkap dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar oleh racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan adalah (dari rendah hingga tinggi):
– Berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen
– Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan konsumen
– Berpeluang sangat kecil bagi gangguan kesehatan konsumen
– Aman bagi konsumen
6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum.
Alat tangkap yang tidak selektif (lihat butir 1), dapat menangkap ikan/organisme yang bukan sasaran penangkapan (non-target). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang terbuang akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil tangkapan non target, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi):
– Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak laku dijual di pasar
– Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang laku dijual di pasar
– Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual di pasar
– Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi di pasar.
7. Alat tangkap yang digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity).
Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasasrkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi):
– Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat.
– Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat
– Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat
– Aman bagi keanekaan sumberdaya hayati
8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah.
Tingkat bahaya alat tangkap terhadap spesies yang dilindungi undangundang ditetapkan berdasarkan kenyataan bahwa:
– Ikan yang dilindungi sering tertangkap alat
– Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat
– Ikan yang dilindungi .pernah. tertangkap
– Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap
9. Diterima secara sosial.
Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh masyarakat bila: (1) biaya investasi murah, (2) menguntungkan secara ekonomi, (3) tidak bertentangan dengan budaya setempat, (4) tidak bertentangan dengan peraturan yang ada. Pembobotan Kriteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang rendah hingga yang tinggi):
– Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir persyaratan di atas
– Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir persyaratan di atas
– Alat tangkap memenuhi tiga dari empat butir persyaratan di atas
– Alat tangkap memenuhi semua persyaratan di atas

Bila ke sembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan, maka dapat dikatakan ikan dan produk perikanan akan tersedia untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal yang penting untuk diingat bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan ketersediaan sumberdaya ikan bagi generasi yang akan datang dengan pemanfaatan sumberdaya ikan yang berkesinambungan dan lestari. Perilaku yang bertanggung jawab ini dapat memelihara, minimal mempertahankan stok sumberdaya yang ada kemudian akan memberikan sumbangan yang penting bagi ketahanan pangan (food security), dan peluang pendapatan yang berkelanjutan.

Jenis-jenis Alat Tangkap Ikan Menurut Klasifikasi FAO

1. Surrounding net (Jaring Lingkar)
Jaring lingkar merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara melingkari gerombolan ikan sasaran tangkap menggunakan jaring yang dioperasikan dengan perahu atau kapal serta didukung sarana alat bantu penangkapan sesuai untuk mendukung efektivitas dan efisiensi pengoperasiannya. Desian dan konstruksi jaring ingkar berkembang disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat bergagai bentuk dan ukuran jaring lingkar serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan yang digunakan.
Alat ini ditujukan sebagai penangkap ikan pelagis yang bergerombol di permukaan. Pada umumnya, alat ini berbentuk empat persegi panjang dilengkapi yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah. Dengan menarik tali kerucut bagian bawah ini, jaring dapat dikuncupkan (lihat gambar) dan jaring akan membentuk semacam “mangkuk”.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap jaring lingkar terdiri dari :
– With purse lines (Purse seines)
b. One boat operated purse seines
c. Two boats operated purse seines
– Without purse lines (lampara)

Purse seine (Sumber: Subani dan Barus 1989)

2. Seine net (Pukat)
Seine nets atau pukat atau pukat tarik merupakan alat penangkapan ikan berkantong tanpa alat pembuka mulut jaring. Pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap tali selambar.
Desain dan konstruksi pukat tarik disesuaikan dengan terget ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pukat tarik serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap pukat tarik terdiri dari :
– Beach seines
– Boat or vessel seines
a. Danish seines
b. Scottish seines
c. Pair seines
– Seine nets (not specified)

Pukat (Sumber: Subani dan Barus 1989)

3. Trawl
Secara teknis, baik menurut umum ataupun mengikuti standar ISSCFG (International Standard Statistical Classification Fishing Gear), FAO (Nedelec and Prado 1990) “Trawl” adalah alat penangkap ikan yang mempunyai target spesies baik untuk menangkap ikan maupun untuk udang. Trawl memiliki kreteria yaitu (a) jaring berbentuk kantong (pukat) baik yang berasal dari karakteristik asli maupun hasil modifikasi. (b) miliki kelengkapan jaring (pukat) untuk alat pembuka mulut jaring baik palang/gawang (beam) atau sepasang papan rentang (otter board) dengan cara operasi dihela atau diseret (towing) oleh sebuah kapal (c) Tanpa memiliki kelengkapan jaring (pukat) dengan cara operasi dihela oleh dua buah kapal.
Trawl asli adalah jaring (pukat) trawl yang dirancang bukan dari hasil modifikasi tidak ada perubahan dari aspek desain – konstruksi, karakteristik dan metoda pengoperasian dengan ciri-ciri yaitu (a) karakteristik bentuk konstruksi masih sesuai ketentuan teknis jaring yang lazim (b) banyak menggunakan potongan miring (cutting rate) pada bagian¬ jaring (c) miliki bagian jaring berupa medan jaring atas (square) bagi trawl dasar (bottom trawl) atau medan jaring bawah (bosoom trawl) pertengahan permukaan (mid water trawl) (d) cara operasi dirancang dengan dihela / diseret oleh sebuah atau dua buah kapal.

Trawl hasil modifikasi adalah alat tangkap yang masuk kategori trawl, karena adanya perubahan desain konstruksi , karakteristik jaring dan metode operasi penangkapan dengan ciri-ciri (c) ada perubahan bentuk dan ukuran dari jaring aslinya , terutama pemendekan ukuran sayap (b) teknik pemotongan bagian jaring masih menggunakan potongan lurus (all point dan all mesh), (c) kebanykan belum menambah bagian medan jaring (square) masih tetap seperti kondisi aslinya (d) ada penambahan kelengkapan janng berfungsi alat pembuka mulut jaring baik berupa palang/gawang (beam) maupun papan rentang (otter board) dad kondisi aslinya. Okda perubahan metode pengoperasian dari cara ditarik dari atas perahu atau pantai menjadi cara dengan diseret / dihela oleh sebuah kapal.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap trawl terdiri dari:
– Bottom trawls
a. beam trawls
b. otter trawls
c. pair trawls
d. nephrops trawls
e. shrimp trawls
f. bottom trawls (not specified)
– Midwater trawls
– Otter twin trawls
– Otter trawls (not specified)
– Pair trawls (not specified)
– Other trawls (not specified)

4. Dredge (Penggaruk)
Penggaruk merupakan alat penangkap ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di bagian bawahnya, yang dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya. Penggaruk dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kekerangan dan biota lainnya.
Desain dan konstruksi penggaruk disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran penggaruk serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap penggaruk terdiri dari : 1 ). Boat Dredges dan; 2). Hand Dredges.
Metode pengoperasian penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela pengaruk di dasar perairan sehingga hasil tangkapan berupa kekerangan, teripang, dan lainnya bisa terkumpul dan tertangkap serta masuk ke dalam penggaruk.

5. Lift net (Jaring Angkat)
Jaring angkat dioperasikan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal. Jaring ini biasanya dibuat dengan bahan jaring nion yang menyerupai kelambu, karena ukuran mata jaringnya yang kecil (sekitar 0,5 cm). Jaring kelambu kemudian diikatkan pada bingkai bambu atau kayu yang berbentuk bujur sangkar.
Dalam penggunaannya, jaring angkat sering menggunakan lampu atau umpan untuk mengundang ikan. Biasanya dioperasikan dari perahu, rakit, bangunan tetap, atau langsung.
Dari bentuk dan cara penggunaannya, jaring angkat dapat mencakup bagan perahu, bagan tancap (termasuk kelong), dan serok

Jaring Angkat (Sumber: Subani dan Barus. 1989)

6. Falling gear (alat yang dijatuhkan)
Alat yang dijatuhkan atau ditebarkan merupakan alat penangkapan ikan yang pengoperasiannya dilakukan dengan ditebarkan atau dijatuhkan untuk mengurung ikan dengan atau tanpa kapal.
Desain dan konstruksi alat yang dijatuhkan atau ditebarkan disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dihendaki. Berkaitan dengan hal ini maka terdapat berbagai bentuk dan ukuran serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan. Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap yang dijatuhkan atau ditebarkan terdiri dari: 1) Cast nets; dan 2); Falling gears (not specified).

7. Gill net, entangling nets (Jaring Insang Dan Jaring Puntal)
Jaring insang (gill net) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah.
Jaring insang digunakan untuk menangkap ikan dengan cara menghadang ruaya gerombolan ikan. Ikan-ikan yang tertangkap pada jaring umumnya karena terjerat di bagian belakang penutup insang atau terpuntal oleh mata jaring. Biasanya ikan yang tertangkap dalam jaring ini adalah jenis ikan yang migrasi vertical maupun horizontalnya tidak terlalu aktif.
Ada berbagai jenis jaring insang, yang terdiri dari satu lapis jaring, dua lapis, maupun tiga lapis jaring. Jaring insang memiliki mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh badan jaring. Jaring ini kemudian dibentangkan untuk membentuk semacam dinding yang dapat menjerat. Jaring insang dilengkapi dengan pelampung di bagian atas jaring dan pemberat pada bagian bawahnya.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap jaring insang terdiri dari:
– Set gillnets (anchored)
– Driftnets
– Encircling gillnets
– Fixed gillnets (on stakes)
– Trammel nets
– Combined gillnets-trammel nets
– Gillnets and entangling nets (not spicied)
– Gillnets (not specified)

Jaring Insang (Sumber: Subani dan Barus. 1989)

8. Trap (perangkap)
Perangkap merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara memperangkap ikan dengan menggunakan jaring dan atau bahan lainnya yang dioperasikan dengan atau tanpa perahu atau kapal.
Desain dan konstruksi perangkap disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran perangkap.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap perangkap terdiri dari:
– Stationary uncovered pounds nets
– Pots
– Fyke nets
– Stow nets
– Barriers, fences, weirs, dll
– Aerial traps
– Traps (not specified)

9. Hook and line (pancing)
Hook and line (pancing) merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan memancing ikan target sehingga terkait dengan mata pancing yang dirangkai dengan tali menggunakan atau tanpa umpan.
Desain dan konstruksi pancing disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pancing serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap hooks and lines ini terdiri dari:
– Handlines and pole-lines (hand operated)
– Handlines and pole-lines (mechanized)
– Set longlines
– Drifting longlines
– Longlines (not specified)
– Trolling lines
– Hook and lines (not specified)

10. Grappling and wounding gear (pengait dan alat yang melukai)
Alat pengait/penjepit dan alat yang melukai merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara menerkam, mengait/menjepit, melukai atau membunuh sasaran tangkap yang dilakukan dari atasu kapal atau tanpa menggunakan kapal. Desain dan konstruksi alat penjepit dan melukai mempunyai bentuk runcing/tajam pada salah satu ujungnya.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap pengait dan alat yang melukai ini adalah harpoon.

11. Harvesting machine (mesin pemanen)
Yang dimaksud dengan Pump fishing adalah suatu alat tangkap tanpa menggunakan jaring tetapi dengan menggunakan pompa untuk menyedot ikan,udang,cumi-cumi dan krill plankton masuk ke dalam kapal. Alat tangkap ini dioperasikan pada kedalaman 110 meter dengan catchable area 20cm. Efektifnya menangkap cumi-cumi .

12. Alat tangkap lainnya.
Alat-alat lainnya merupakan alat penangkapan ikan yang tidak termasuk ke dalam penggolongan kelompok sebelumnya, dimana prinsip penangkapan tidak dengan cara menjerat, memancing, memerangkap, mencengkram, mengait/menjepit, melukai atau membunuh sasaran tangkap.
Desain dan konstruksi alat tangkap lainnya ini merupakan konstruksi yang bentuknya tidak terdapat pada setiap kelompok sebelumnya. Sehingga dapat digolongkan sebagai kelompok tersendiri dan dimungkinkan akan mengalami perkembangan sesuai dengan modifikasi dan kreatifitas nelayan dalam rangka menciptakan rancang bangun alat penangkap ikan ke depan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi penangkapan ikan yang ada.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap lainnya ini adalah: Miscellaneous Gear. Sebagai informasi, di Indonesia alat tangkap muro ami, serok teri dan alat penangkap lobster termasuk dalam kategori alat tangkap ini.

Kajian Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Menurut Klasifikasi Statistik Internasional Standar FAO

Metode yang digunakan dalam kajian keramahan alat tangkap ikan ini dengan pendekatan destkriptif yaitu menilai dan mengkaji karakteristik dari suatu alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO dengan ke-9 (sembilan) kriteria keramahan menurut standart FAO. Disebabkan karena banyaknya jenis alat tangkap dalam suatu klasifikasi, maka untuk memudahkan pengkajiannya penulis membatasi salah satu alat tangkap saja yang disebutkan sebagai dalam contoh yang termasuk dalam klasifikasi alat tangkap tersebut.
Selanjutnya mencatat kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan dan dari kriteria tersebut diberikan solusi untuk meningkatkan keramahannya. Adapun alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO :
13. Surrounding net (Jaring Lingkar)
Contoh : Jaring Lingkar/Puse seine
Dari sembilan kriteria yang digunakan dalam mengkaji keramahan alat tangkap surrounding net, dua kriteria yang kurang memenuhi sebagai persyaratan puse seine yang ramah lingkungan. Kedua kriteria tersebut adalah :
1. Selektifitas. Khusus selektifitas ini diperlukan penelitian lebih lanjut terutama untuk mengetahui berapa spesies yang tertangkap dalam satu kali hauling dan ukuran catch (panjang total dan lingkar tubuh) di fishing ground tertentu. Hal ini disebabkan dapat saja diketahui selektifitas yang berbeda pada fishing ground yang berbeda pula
2. Biaya investasi yang tinggi dalam satu unit penangkapan
Dari kedua kriteria tersebut dapat diberikan solusi untuk meningkatkan keramahannya, untuk selektifitas diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kurva selektifitasnya. Biaya investasi yang tinggi dapat diatasi dengan memberdayakan kelompok nelayan,setiap anggota mempunyai saham sesuai dengan jenis dan besarnya kontribusinya.

2. Seine net (Pukat)
Contoh : Pukat pantai/Beach seine
Dari sembilan kriteria yang digunakan dalam mengkaji keramahan alat tangkap pukat pantai, terdapat satu kriteria yang kurang memenuhi sebagai persyaratan puse seine yang ramah lingkungan. Kedua kriteria tersebut adalah :
1. Selektifitas. Sama halnya dengan puse seine, pukat pantai juga diperlukan penelitian lebih lanjut dalam hal selektifitasnya ukuran catch (panjang total dan lingkar tubuh) pada suatu fishing ground tertentu.
Dari kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kurva selektifitasnya.

3. Trawl
Contoh : Pukat dasar/bottom trawl
Pada alat tangkap trawl ini saat dioperasikan sesuai dengan habitat pengoperasiannya yaitu didaerah pasir atau lumpur maka, kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai botttom trawl yang ramah lingkungan, adalah :
1. Selektifitasnya rendah, hal ini disebabkan dapat menangkap ikan juvenil sampai yang dewasa
2. By-catchnya rendah, menangkap tidak saja pada target spesies tetapi juga terkadang banyak menangkap ikan non target spesies
3. Dampak pada biodiversity tinggi, sering juga tertangkap biota yang dilindungi seperti penyu,dll
4. Kadang menimbulkan koflik sosial, terutama dengan nelayan bubu
Dari ketiga kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya, untuk selektifitas dan by-catch yang rendah diperlukan perbaikan mesh size terutama pada codend. Pada dampak biodiversity diperlukan pemasangan BED (By catch excluder devise) dan TED (Turtle excluder devise) dengan sistem pengawasan yang terpadu. Sedangkan konflik yang terjadi dengan nelayan bubu biasanya masalah pengoperasian alat tangkap yang sama dengan bubu, maka solusi yang dapat diberikan dengan pengaturan fishing ground trawl diluar zona I dan Zona II.

4. Dredge (Penggaruk)
Contoh : Scoop Nets
Pada alat tangkap ini Ke-sembilan kriteria memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan.
5. Lift net (Jaring Angkat)
Contoh : Bagan perahu
Pada alat tangkap bagan perahu ini kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah :
1. Selektifitasnya rendah, khususnya ikan teri, bagan apung cukup selektif terhadap ikan ini
2. By-catch tinggi, menangkap tidak saja pada target spesies tetapi juga terkadang banyak menangkap ikan non target spesies
3. Konsumsi BBM
Dari ketiga kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya, untuk selektifitas dan by-catch yang rendah diperlukan perbaikan mesh size. Untuk konsumsi BBM yang tinggi dianjurkan menggunakan solar cell sebagai alternatif yang perlu dicoba

5. Falling gear (alat yang dijatuhkan)
Contoh : Jala Lempar/Hand cast nets
Pada alat tangkap jala lempar ini apabila dioperasikan di daerah pasir atau lumpur tidak dioperasikan di daerah karang maka, kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah :
1. Selektifitasnya rendah, hal ini disebabkan dapat menangkap ikan kecil sampai ikan dewasa yang masuk dalam catchable area alat tangkap ini.
solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya ialah diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dan meningkatkan selektifitasnya.

7. Gill net, entangling nets (jaring insang dan jaring puntal)
Contoh : Trammel nets
Pada alat tangkap ini delapan kriteria memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan. Kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah :
1. By-catch, target spesies alat tangkap ini adalah udang tetapi juga menangkap ikan.seperti misalnya ikan gulamah. Perlu juga diketahui alat tangkap ini direkomendasikan untuk menggantikan pengoperasian trawl karena dapat menangkap udang dengan efektif. Solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keramahannya ialah perbaikan mesh size terutama inner net dari bahan multifilamen.
8. Trap (perangkap)
Contoh : Bubu
Pada alat tangkap bubu kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah :
1. Selektifitas, perlu penelitian tentang ukuran panjang total dan ukuran lingkar tubuh ikan yang tertangkap dengan bubu untuk mengetahui selektifitasnya pada setiap fishing ground.
2. Dapat merusak habitat karang, apabila digunakan batu karang sebagai pemberat
Dari kedua kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya, untuk selektifitas diperlukan penelitian lebih lanjut tentang hasil tangkapan hubungannya dengan selektifitasnya. Untuk penggunaan batu karang diperlukan modifikasi bahan seperti dengan menggunakan bahan dari besi,kawat dan sebagainya sehingga tidak diperlukan lagi batu karang sebagai pemberat.

9. Hook and line (pancing)
Contoh : Pancing (Hand line)
Dari semua alat tangkap, yang dibahas dalam makalah ini pancing adalah alat tangkap yang paling selektif dan ramah terhadap lingkungan, sangat memenuhi dari Ke-sembilan kriteria persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan

10. Grappling and wounding gear (pengait dan alat yang melukai)
Contoh : Tombak/Harpoon
Pada alat tangkap tombak atau harpoon kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah :
1. Dapat membahayakan nelayan. Apabila digunakan tidak menggunakan prinsip kehati-hatian maka alat tangkap ini dapat melukai operator(nelayan). Solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya ialah dengan menggunakan pendekatan prinsip kehati-hatian dalam pengoperasian alat tangkap tombak.

11. Harvesting machine (mesin pemanen)
Contoh : Pump fishing
Yang dimaksud dengan Pump fishing adalah suatu alat tangkap tanpa menggunakan jaring tetapi dengan menggunakan pompa untuk menyedot ikan,udang,cumi-cumi dan krill plankton masuk ke dalam kapal. Kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah :
1. Selektifitasnya rendah
2. Menghasilkan ikan dengan kualitas yang rendah
3. By-catch tinggi
Solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya ialah untuk selektifitas dan dan by-catch yang rendah agar menggunakan alat bantu penangkapan seperti cahaya kemudian dalam catchable area yang remang-remang(cahaya redup) alat tangkap di tawing ke perairan sehingga cumi-cumi saja yang mendekat dan tertangkap(untuk metode ini perlu penelitian lebih lanjut)sedangkan untuk ikan yang berkualitas rendah sebaiknya alat tangkap ini menangkap cumi-cumi dan krill plankton saja agar untuk menghindari penurunan kualitas hasil tangkapan
12 Alat tangkap lainnya.
Contoh : Tangan , pisau dan sabit
Alat ini digunakan untuk mengumpulkan rumput laut dan kerang-kerangan.
Paling selektif dan ramah terhadap lingkungan, sangat memenuhi Ke-sembilan kriteria persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Dari makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

– Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang selektifitas pada alat tangkap Jaring Lingkar, Pukat Pantai, Jala Lempar dan Bubu.

Saran
Pada masa yang akan datang seyogya seluruh alat tangkap yang operasional di perairan telah memiliki kriteria keramahannya terhadap lingkungan untuk mewujudkan perikanan tangkap yang bertanggung jawab (Sustainable Fisheries Cupture) sesuai dengan Code of conduct for Responsible Fisheries (CCRF)

DAFTAR BACAAN

Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Anonim. 2006. Panduan Jenis-Jenis Penangkapan Ikan. Ramah Lingkungan. COREMAP II. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan Dan Perikanan. Jakarta.

Brant A Vont,1984. Fish Catch Methods of the World, Fishing News Book Ltd England

Baskoro,S.B,2002. Metode Penangkapan Ikan. Diktat Kuliah (tidak dipublikasikan)
Fakultas Perikanan dan ilmu Kelautan IPB, Bogor.

Nedelec, C. and J. Prado. 1990. Definition and Clasification of Fishing Gears Categories. FAO FISEHRIES TECHNICAL PAPER 222 Rev.1, FAO Fisheries Industries Division, Rome. 92p.

Nomura,M 1985. Fishing Techniques 1,2,3, Kanagawa International Training Center , JICA, Tokyo

Subani, W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indoensia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut, BPPL, BPPP, Departemen Pertanian, Jakarta.

MODEL PENGELOLAAN KABUPATEN KEPULAUAN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA BERBASIS KLUSTER DAN KARAKTERISTIK TIPOLOGI

Januari 28, 2009

 

 

 

 

 

Oleh :

MUSLIM  TADJUDDAH

 

 

 

1.1      Latar  belakang

Sulawesi Tenggara (Sultra) mempunyai luas wilayah daratan diperkirakan 38.140 km² dan luas perairan laut diperkirakan 114.879 km² dengan garis pantai diperkirakan 1.740 Km (Anonymous,2001).  Dengan luas perairan dua per tiga dari wilayah daratan  maka Sultra dapat digolongkan sebagai Propinsi Maritim di Indonesia. Kabupaten Wakatobi merupakan daerah pemekaran dari kabupaten Buton Provinsi Sultra yang disyahkan dengan Undang- Undang  R I No. 29 tahun 2003. Luas Kabupaten Wakatobi diperkirakan sekitar 16.890 Km² atau 1.689.000 ha dimana 95% dari wilayah ini merupakan perairan laut. Kabupaten Wakatobi Propinsi Sultra terletak antara  5°12′ – 6°10 LS dan 123°20′ – 124°39′ BT.

Kabupaten Wakatobi sendiri di sebelah utara berbatasan dengan Laut Banda, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores, sebelah timur berbatasan dengan Laut Banda dan sebelah barat berbatasan dengan P. Buton (Kec. Lasalimu). Penamaan Kabupaten Wakatobi diambil dari nama pulau-pulau yang ada di sekitar gugusan kepulauan tersebut. Wa diambil dari singkatan P. Wangi-wangi, Ka diambil dari singkatan P. Kaledupa, To diambil dari singkatan P. Tomia dan Bi diambil dari singkatan P. Binongko.

Luas wilayah setiap pulau di Kabupaten Wakatobi antara lain, P.Wangi-Wangi dengan luas 448 km² dan memiliki 9 buah pulau kecil. P. Kaledupa dengan luas 104 km² dan memiliki 24 buah pulau kecil, P. Tomia dengan luas 115 km² dan memiliki 11 buah pulau kecil dan P. Binongko dengan luas 156 km² dan memiliki 4 buah pulau kecil (BPS Kab. Buton,1999).

            Sampai saat ini terlihat pengelolaan serta penentuan kebijakan yang berhubungan dengan pulau-pulau kecil masih kurang terkoordinasi dan terpadu, tumpang tindih kebijakan dan keputusan diantara lembaga pemerintah dan non pemerintah seringkali menjadi faktor terhambatnya kegiatan yang sudah ditetapkan bagi pengelolaan dan pengembangan pulau-pulau kecil. Oleh karena itu model perencanaan dan pengembangan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara terpadu lintas sektoral dan lintas lembaga serta lintas struktur dari tingkat pemerintahan yang paling tinggi ke tingkat pemerintahan yang paling rendah di tingkat desa, serta lintas waktu  antara kegiatan yang direncanakan dengan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.             Tujuan pengelolaan pulau kecil itu sendiri adalah untuk menjaga atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat dipulau itu serta untuk memelihara atau meningkatkan kondisi sumberdaya alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya. tujuan ini mengandung makna agar menjaga kelestarian pemanfaatan sumberdaya alam dengan cara memelihara kondisi dan kelestarian sumberdaya alam yang ada. (Wiryawan et el, 1999). Salah satu alternatif untuk menjawab kondisi tersebut diatas dengan membuat model pengelolaan pulau-pulau kecil seperti Kabupaten Kepulauan Wakatobi berbasis kluster dan karakteristik dari setiap pulau yang ada.

 

1.2   Tujuan

      Makalah ini bertujuan  :

1.)  Memberikan arahan pengembangan Kabupaten Kepulauan Wakatobi berbasis kluster dan Tipologi setiap pulau

2.)  Dengan konsep pengembagan berbasis kluster dan karakteristik tipologi setiap pulau maka azas  keterpaduan dan keharmonisan (Networking System) dapat terwujud

 

1.3   Permasalahan

Kabupaten Wakatobi Propinsi Sulawesi Tenggara dewasa ini dihadapkan beberapa permasalahan antara lain  :

1.)  Kabupaten Kepulauan Wakatobi sebagai wilayah otonom yang baru dimekarkan dituntut untuk segera untuk mengadakan pengembangan wilayah guna mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya

2.)  Diharapkan dengan menyusunan strategi kebijakan pengembangan dan pemanfaatan

       potensi Kabupaten Kepulauan Wakatobi dalam satu kesatuan tata lingkungan yang harmonis dan dinamis berbasis kluster dan karakteristk dari setiap pulau yang ada dapat menjawab permasalahan pada point satu diatas.                  

               Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, maka makalah ini mencoba memberikan alternatif pemikiran pengembangan kabupaten Kepulauan Wakatobi berbasis kluster dan karakteristik setiap pulau dengan harapan model pengembangan ini dapat menambah khasanah model-model pengembagan pulau-pulau kecil sehingga dapat dijadikan sebagai penunjang sektor ekonomi.  Dengan demikian pengelolaan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dapat lebih dioptimalkan serta terjadi peningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir.

 

1.4    Metodologi

            Metode yang digunakan dalam makalah ini dengan pendekatan deskriptif yaitu berdasarkan studi literatur dan survey lapangan yang dilakukan pada tanggal 22-25 Desember 2008. Disebabkan karena terbatasnya literatur yang didapatkan dan waktu survey yang amat singkat maka kajian pengembagan berbasis kluster dan tipologi Kabupaten Kepulauan Wakatobi dalam makalah ini membatasi dalam kajian secara umum saja.  

 

1.5    Hasil Kajian

     Berdasarkan penelusuran literatur dan dari survei yang telah dilakukan maka alternatif  pengembangan Kabupaten Kepulauan  Wakatobi dapat dibagi menjadi 4 (empat) kluster berdasarkan dari karakteristik yang dimilki setiap pulau. Kluster tersebut antara lain  :

  • Kluster A.

            Yang terdiri dari Pulau Wangi-wangi dengan 9 (sembilan) pulau kecil yang dimilikinya. Arahan pengembagannya dapat  menjadi pusat perdagangan hal ini disebabkan letaknya yang sangat strategis terutama dalam alur pelayaran Timur – Barat dan mengantisipasi pengembangan kawasan pertumbuhan daerah tetangga yang dikenal dengan istilah kawasan Palawa (Pasar Wajo, Lasalimu dan Wangi-wangi). Untuk itu dalam kluster ini memungkinkan untuk dibangun pelabuhan mongkar-muat yang memadai sebagai sarana dan perasana yang menunjangnya.

            Disebabkan perencanaan dan pengembangan pengelolaan kepulauan ini menggunakan strategi keterpaduan pengelolaan (Networking system) dimana masing-masing Kluster (simpul) saling menguatkan, maka dibutuhkan satu kluster (satu pulau) sebagai  koordinasi (Mainline).  Kluster A yang terdiri dari P. Wangi-wangi dan 9 (sembilan) pulau kecil didalamnya sebagai pilihan yang paling memungkinkan, hal ini disebabkan  :

1. Pulau Wangi-wangi  memiliki luas wilayah  yang paling besar

2. Memiliki infrastruktur yang paling lengkap

3. Jumlah penduduk paling banyak

4. Jumlah  uang yang beredar lebih besar diantara pulau yang lain

 

  • Kluster B

      Yang terdiri dari Pulau Kaledupa dan 24 (dua puluh empat) pulau kecil didalamnya  dapat menjadi pusat administrasi, mengingat letaknya ditengah kepulauan ini sehingga koordinasi antar pulau dapat lebih efisien, efektif dan ekonomis. Untuk tujuan tersebut perlu dikembangkan sarana komunikasi yang efektif dan murah dengan pembangunan tower telepon selulur dan server internet dalam menunjang lalu-lintas administrasi,seperti pengiriman antar dokumen dapat dilakukan via internet.

 

 

  • Kluster  C

            Yang terdiri dari Pulau Tomia dan 11 (sebelas) pulau kecil didalamnya. Dapat dikembangkan pada sektor wisata bahari (Marine tourism) karena daerah ini memiliki kondisi perairan dan terumbu karang terbaik dari seluruh terumbu karang yang ada di kepulauan ini. Dan salah satu pulaunya yaitu Pulau Runduma merupakan tempat bertelurnya penyu pada musim-musim tertentu seta kondisi sosial dan budaya masyarakat pulau ini sangat mendukung,seperti keterbukaan dan penerimaan pada pendatang yang relatif baik. 

 

  • Kluster  D

            Yang terdiri dari Pulau Binongko dan 4 (empat) pulau kecil didalamnya pengembangan dapat diarahkan pada sektor industri seperti Industri perikanan dan perkapalan dan pusat pendidikan  perikanan dan kelautan seperti sekolah dan pelatihan ABK kapal perikanan dan teknisi dok perkapalan.

 

 

1.6      Kesimpulan

               Dari hasil kajian dalam makalah ini pengembangan kabupaten Kepulauan Wakatobi yang berbasis kluster dan karakteristik setiap pulau tidak bisa lepas dari sektor perikanan, kelautan dan pariwisata bahari sebagai mainstream pembangunan dimasa yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

Anonymous, 2002. Rencana Strategis Pengelolaan Sumberdaya Wilayah  Pesisir dan Laut  Propinsi Sulawesi Tenggara tahun 2002-2006

 

 

Anonymous, 2002.     Laporan Akhir Penyelenggaran Pelatihan ICZPM  (Buku 3)

 

Anonymous.2007.  Laporan Tahunan Statistik Kabupaten Wakatobi, BPS

 

 

Budiharsono,S.2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan.  Pradnya Paramita. Jakarta.

 

 

Dahuri, R.  Rais, J., Ginting, S.P., dan Sitepu, M.J. 2001.  Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan lautan Secara Terpadu.  Pradnya Paramita.  Jakarta.

 

 

   PurwantoJ,2000. Rencana Strategik Pembangunan Kelautan dan Perikanan Terbentuknya Departeman Eksplorasi Laut dan Perikanan  Republik Indonesia. (DELP)

 

 

Supriharyono.  2000.  Pelastarian dan Pengelolaan  Sumberdaya Alam di Wilayah   Pesisir Tropis.  Gramedia Pustaka Umum.  Jakarta.

 

 

 

 

PEMBENTUKAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DENGAN LIGHT FISHING DAN RUMPON

Januari 28, 2009

 

Oleh :

MUSLIM  TADJUDDAH

 

 

 

BAB I  PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar belakang

 

Indonesia memiliki wilayah perairan yang luas, yaitu sekitar 3,1 juta km² wilayah perairan territorial dan 2,7 juta km² wilayah perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia. Wilayah Perairan Indonesia memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat besar, diperkirakan sebesar 6,41 juta ton per tahun. Potensi tersebut terdiri atas ikan pelagis besar 1,17 juta ton, pelagis kecil 3,61 juta ton, ikan demersal 1,37 juta ton, ikan karang 145,25 ribu ton, udang penaeid 94,80 ribu ton, lobster 4,80 ribu ton dan cumi-cumi 28,25 ribu ton. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) adalah 80 % dan potensi lestari atau sekitar 5,12 juta ton per tahun (PRPT,2001)

            Pemanfaatan sumberdaya perikanan dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan, mengikuti permintaan yang cenderung terus bertambah, baik jumlah maupun jenisnya. Meningkatnya upaya sumberdaya perikanan mendorong berkembangnya teknik dan taktik penangkapan (fishing technique and fishing tactics) untuk dapat memproduksi secara lebih efektif dan efisien.

            Berhasil tidaknya suatu alat tangkap dalam operasi penangkapan sangatlah tergantung pada bagaimana mendapatkan daerah penangkapan yang baik, potensi perikanan yang ada dan bagaimana operasi penangkapan dilakukan. Beberapa cara dapat dilakukan dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan diantaranya dengan menggunakan alat bantu penangkapan. Macam-macam alat bantu penangkapan yang umum digunakan dalam operasi penangkapan ikan di Indonesia diantaranya dengan menggunakan rumpon (FAD) dan cahaya lampu (Light Fishing). 

            Secara alami tanda-tanda fisik daerah penangkapan ikan (Fishing ground) berdasarkan pengalaman nelayan, yang catchable area diantaranya ditandai oleh :Warna perairan lebih gelap dibandingkan perairan sekitarnya ; Ada banyak burung beterbangan dan menukik-nukik ke permukaan air ; Banyak buih di permukaan air ; dan Umumnya jenis ikan ini bergerombol di sekitar batang-batang kayu yang hanyut di perairan atau bersama dengan ikan yang berukuran besar seperti paus. Dengan adanya rumpon dan penggunaan cahaya lampu disuatu perairan maka daerah penangkapan ikan dapat dibentuk, sehingga nelayan dan unit kapal penangkap ikan tidak tergantung lagi dengan  tanda-tanda fisik daerah penangkapan ikan yang bergantung pada kondisi lingkungan alami perairan. Oleh karena itu dengan penggunaan rumpon (FAD) dan light fishing dapat dikatakan sebagai pembentuk daerah penangkapan ikan buatan (Artificial fishing ground)

BAB II  PERIKANAN LIGHT  FISHING

 

 

  1. Sejarah Perikanan Light Fishing di Indonesia

 

     Beberapa alat tangkap dalam pengoperasiannya menggunakan bahan dan alat tertentu untuk memberikan rangsangan guna menarik perhatian ikan. Salah satu alat yang digunakan untuk memberikan rangsangan pada ikan adalah cahaya. Cahaya digunakan untuk menarik perhatian ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif dan akan direspons dengan berkumpulnya ikan pada sumber cahaya atau catchable area tertentu untuk kemudian ditangkap dengan menggunakan jaring maupun alat pancing lainnya. Penangkapan ikan dengan memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu umumnya disebut dengan light fishing.

            Menurut Brant (1984) light fishing atau penangkapan ikan dengan cahaya adalah suatu bentuk dari umpan yang berhubungan dengan mata (optical bait) yang digunakan untuk menarik dan untuk mengumpulkan ikan. Light fishing oleh Brant (1984) diklasifikasikan ke dalam kelompok attracting concentrating and fringhting fish, karena dalam hal ini cahaya digunakan untuk mengumpulkan (concentrating) ikan pada suatu daerah tertentu sehingga mudah untuk dilakukan operasi penangkapan.  

 

Pada awalnya penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan di Indonesia belum diketahui secara pasti siapa yang memperkenalkannya. Namun yang jelas sekitar tahun 1950an di pusat-pusat perikanan Indonesia Timur, dimana usaha penangkapan cakalang dengan pole and line marak dilakukan, penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan telah dikenal secara luas.  Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II. Di Norwegia penggunaan lampu berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni Soviet baru mulai digunakan pada tahun 1948 (Nikonorov, 1975)

 

  1. Prinsip Dasar Perikanan Light Fishing

Ayodhyoa (1981) menyebutkan bahwa peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:

 1. Peristiwa langsung, yaitu ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul. Ini tentu berhubungan langsung dengan peristiwa fototaksis, seperti pada jenis-jenis sardinella,kembung dan layang.

2. Peristiwa tidak langsung, yaitu karena ada cahaya maka plankton, ikan-ikan kecil dan lain-lain sebagainya berkumpul, lalu ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan mencari makan (feeding). Beberapa jenis ikan yang termasuk dalam kategori ini seperti ikan tenggiri, selar dan lain-lain

  Selain dua kelompok diatas terdapat ikan yang tertarik pada cahaya sebagai hasil dari reflex defensive ikan terhadap predator. Hal ini terjadi berkaitan dengan pembentukan schoollng dan kemampuan penglihatan pada ikan. Ikan pada umumnya akan membentuk schooling pada saat terang dan menyebar saat gelap. Dalam keadaan tersebar ikan akan lebih mudah dimangsa predator dibandingkan saat berkelompok. Adanya pengaruh cahaya buatan pada malam hari akan menarik ikan ke daerah iluminasi, sehingga memungkinkan mereka membentuk schooling dan lebih aman dan incãran predator. Ikan yang tergolong fototaksis positif akan memberikan respon dengan mendekati sumber cahaya, sedangkan ikan yang bersifat fototaksis negatif akan bergerak menjauh.

Persoalan-persoalan yang terkait dengan aktifitas light fishing antara lain :

  1. Persoalan-persoalan fisika

1. Cahaya : kuat cahaya (light intensity.), warna cahaya (light colour, merambatnya                  cahaya ke dalam air laut, pengaturan cahaya, dan lain-lain sebagainya.

2.  Air laut gelombang, kekeruhan (turbidity), kecerahan (transparancy), arus,dll.

3. Hubungan cahaya dengan air laut : refraction, penyerapan (absorption).    penyebaran (scattering), pemantulan, extinction dan lain-lain sebagainya.

        B. Persoalan-persoalan biologi

 1. Jenis cahaya yang disenangi ikan : berapa besar atau volume rangsangan   (stimuli) yang harus diberikan, supaya ikan terkumpul dan tidak berusaha untuk melarikan diri dalam suatu jangka waktu tertentu. Tidaklah dikehendaki, sehubungan dengan berjalannya waktu, pengaruh rangsangan ini akan lenyap, karena  ikan menjadi terbiasa (accustomed).

2. Kemampuan daya tarik (attracting intensity) dari cahaya yang dipergunakan haruslah sedemikian rupa sehingga dapat mengalahkan (minimum meng-eliminir) pengaruh intimidasi dari beradanya jaring, kapal, suara mesin dan lain-lain.

3. Berbeda spesies, besar, umur, suasana sekeliling (environment) akan berbeda pula cahaya (intensity, colour, waktu) yang disenangi; dan faktor suasana sekeliling (environmental condition factor) yang berubah-ubah (gelombang, arus, suhu, salinitas, sinar bulan) akan sangat mempengaruhi.

            4. Bersamaan dengan spesies ikan yang menjadi tujuan penangkapan akan berkumpul juga jenis lain yang tak diinginkan (ikan kecil, larvae), sedang kita menghendaki catch yang selektif. Ada tidaknya pengaruh cahaya terhadap spawning season, over fishing, resources,dll.

Agar cahaya dalam kegiatan light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, diperlukan syarat-syarat antara lain sebagai berikut: (1) Mampu mengumpulkan ikan-ikan yang berada pada jarak yang jauh (horizontal maupun vertikal)     
(2) Ikan-ikan tersebut hendaklah berkumpul ke sekitar sumber cahaya, di mana mungkin akan tertangkap (catchable area).(3) Setelah ikan berkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada di sana pada suatu jangka waktu tertentu (minimum sampai saat alat tangkap mulai beroperasi atau diangkat). (4) Sekali ikan berkumpul  disekitar sumber cahaya hendaklah ikan-ikan tersebut jangan melarikan diri ataupun menyebarkan diri (escape, disperse).Perikanan Light fishing seperti terlihat pada gambar 3.

 

 

 

 

Sumber: Sudirman (2003)

 

 

    Gambar 3. Light Fishing dengan Bagan Rambo

Faktor yang cukup krusial dalam kegiatan light fishing adalah kekuatan dari cahaya lampu yang digunakan, dimana keberadaan cahaya lampu sendiri yang masuk atau menembus perairan akan dipengaruhi kondisi cuaca saat penangkapan (gelap atau terang). Selanjutnya Verheyen (1959) mengemukakan bahwa mekanisme tertariknya ikan pada cahaya belum diketahui dengan jelas, namun diduga berkumpulnya ikan-ikan disebabkan oleh keinginan mencari intensitas cahaya yang sesuai.

Terkait dengan persoalan-persoalan tersebut, maka perlu kajian-kajian mendalam, antara lain:

   1. Kajian tentang cahaya lampu dalam kegiatan light fishing sebagai suatu sumber 

       cahaya   (light resources).

2. Kajian tentang pemantulan, penyerapan, refraction, pemadaman, dan lain-lain peristiwa     fisika dari cahaya yang dihasilkan oleh fishing lamp yang mengenai permukaan air atau air.

3. Hubungan yang ada antara jumlah terang yang terjadi dalam perairan (light intensity, brightness, lux) akibat penyinaran lampu dalam kegiatan penangkapan dan ikan-ikan yang berkumpul. Ikan-ikan ini hendaklah berada dalam keadaan alamiahnya dan hubungan tersebut hendaklah dapat diungkapkan dengan suatu satuan (unit) (besar attracting intensity, besar intimidation effect, besar stimulus, dan lain-lain sebagainya).

4. Pola pergerakan ikan terhadap cahaya dalam aktivitas light fishing, serta motivasi ikan berada disekitar cahaya tersebut.

 

C. Sumber Cahaya sebagaia Alat Bantu Penangkapan

Yami (1988)   mengemukakan bahwa perikanan dengan cahaya sudah dilakukan pada banyak cara yang berbeda dan berbagai teknik yang dapat dipakai. Pilihan metode, tentunya tergantung pada besarnya faktor pengembangan setiap tingkat teknologi pada suatu tempat dan pengembangan investasi pada peralatan dan sebagainya. Ada berbagai laporan tentang penangkapan ikan dengan cahaya pada zaman dahulu dan digunakan sebagai informasi bagaimana proses perkembangannya. Seperti halnya di Jepang, dimana penggunaan lampu untuk menangkap ikan sudah dilakukan sejak tahun 1990-an (Nomura dan Yamazaki, 1977).

Adapun di beberapa negara lain, misalnya Norwegia, cahaya sudah digunakan sejak tahun 1885, tetapi untuk perikanan komersial baru digunakan sejak tahun 1930, di Filipina lampu tekan kerosene yang berkekuatan 150-500 candela sudah diperkenalkan pada tahun 1924 dan lampu generator listrik (8-16 kW) dipakai pada pertengahan tahun 1950-an, di Mediterania operator penangkapan ikan bangsa Yunani memperkenalkan jenis alat tangkap purse seine dengan cahaya pada tahun 1954 dan di beberapa negara Pantai Afrika Barat penggunaan cahaya sudah dilakukan sejak tahun 1963 (Yami, 1987). Sedangkan Soviet telah melakukan penyelidikan penangkapan ikan dengan cahaya dimulai di Atlantik (1957) dengan suatu ekspedisi yang dipimpin oleh kapal trawl Kazan, dan di dalam ekspedisi tersebut diketahui adanya reaksi yang positif dari ikan terhadap cahaya yang diamati di Pantai Atlantik Afrika dengan hasil tangkapan yang pertama adalah Jenis Ikan Sardinella

Kini semakin banyak masyarakat yang menggunakan lampu listrik dengan intensitas yang tinggi dalam upaya penangkapan. Lampu listrik selain lebih efektif juga memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan lampu lainnya. Lampu listik dapat ditempatkan pada berbagai posisi di atas kapal maupun di perairan, memiliki daya iluminasi yang tetap dan tidak terganggu oleh keadaan lingkungan seperti angin atau hujan. Dalam perkembangannya beberapa sumber cahaya yang digunakan sebagal alat bantu penangkapan di Indonesia antara lain:

A.Obor
           
Obor dibuat dari bambu yang kemudian diisi dengan minyak tanah dan diberi sumbu pada bagian ujung atasnya. Pada waktu operasi penangkapanq obor ditempatkan pada sisi perahu sedemikian rupa sehingga pancaran cahayanya dapat menerangi permukaan air. Penggunaan alat ini memiliki beberapa kelemahan yaitu cahayanya mudah berubah oleh tiupan angin dan bila turun hujan alat ini tidak dapat digunakan. Dahulu alat ini banyak digunakan untuk penangkapan di Selat Bali. namun sekarang penggunaannya sulit ditemukan lagi.                                                                                                                                                      

B.Lampu.Petromaks     
          
Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200 lilin atau sekitar 200 watt. Terdapat dua jenis lampu yang digunakan oleh nelayan yaitu lampu petromaks dengan bola gelas yang berada pada bagian bawah dan tabung lampu yang berada di atas, sedangkan yang satu lagi adalah petromaks dengan tabung minyak pada bagian bawah dan lampu berupa kaos lampu pada bagian atas. Di daerah Indonesia bagian timur penggunaan petromaks jenis kedua biasa dilakukan untuk melakukan penangkapan ikan di pinggiran pantai dengan cara menombak. Spesifikasi cahaya lampu petromaks umumnya dipengaruhi oleh cahaya bulan. Oleh karena itu, biasanya lampu petromaks tidak efisien jika digunakan pada saat terang bulan (purnama). Keadaan ini disebabkan karena pada kondisi demikian ikan-ikan akan cenderung menyebar di dalam kolom air dan tidak naik ke atas permukaan air. Pada saat terang bulan umumnya nelayan-nelayan yang menggunakan atraktor lampu sebagai alat penarik ikan, tidak melakukan operasi penangkapan ikan (Gunarso, 1985).

C.Lampu.Listrik
                        Meskipun pemakaian lampu yang bersumber dari tenaga listrik ini lebih mudah, efektif dan efisien, sebab penempatannya dapat diatur sesuai dengan keinginan, namun penggunaan lampu listrik bagi nelayan kecil di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini karena dibutuhkan biaya yang cukup besar dalam pemakaiannya. Di beberapa negara seperti Jepang dan Norwegia penggunaan alat ini mulai berkembang setelah perang dunia II. Penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan di Indonesia dewasa ini hampir merata di seluruh wilayah. Di Indonesia nelayan tradisional lebih banyak menggunakan lampu strongking dan petromaks dalam operasi penangkapan, sedangkan lampu listrik lebih sering digunakan oleh kapal-kapal penangkapan yang lebih modern. Pada usaha penangkapan cakalang di Indonesia bagian timur, cahaya digunakan untuk menangkap umpan hidup (life bait fish).

d. Persyaratan Daerah Penangkapan Ikan Buatan dengan Alat bantu Cahaya                                              

Operasi penangkapan dengan menggunakan alat bantu  cahaya tidak dapat dilakukan pada setiap kondisi, ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal. Beberapa persyaratan dalam penangkapan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang  maksimal dengan memperhatikan antara lain:

A. Syarat Lingkungan

            Persyaratan utama dalam penggunaan cahaya lampu sebagai alat bantu penangkapan adalah kondisi lingkungan yang mendukung sehingga peran dan fungsi cahaya menjadi lebih efisien. Kondisi lingkungan yang baik adalah cahaya lampu yang digunakan pada malam yang gelap. Fase bulan menjadi faktor yang menentukan gelap dan terangnya bulan. Light fishing hanya akan efektif dilaksanakan pada bulan gelap, dengan demikian cahaya lampu tidak dapat dioperasikan pada siang hari. Pada saat bulan terang penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan menjadi sangat tidak  efektif. Akibat adanya cahaya lain yang turut mempengaruhi behavior dari ikan-ikan di perairan. Kondisi ini biasanya diantisipasi oleh nelayan dengan menggunakan cahaya yang lebih terang, namun hal ini hanya akan sedikit membantu dalam operasi penangkapan.

            Selain dari fase bulan keadaan keadaan tingkat kekeruhan dalam perairan juga akan mengurangi daya tembus cahaya di perairan pada akhirnya hal ini mempengaruhi efisiensi penggunaan cahaya. Dalam keadaan cuaca yang baik dan arus laut yang tidak terlalu kencang, operasi penangkapan dengan menggunakan lampu akan memberikan pengaruh positif terhadap hasil tangkapan. Arus yang terlampau kencang akan mempengaruhi posisi alat tangkap di dalam air.

B.       Syarat Penangkapan

Selain faktor-faktor lingkungan diatas, ada beberapa syarat lain yang menentukan keberhasilan suatu operasi penangkapan. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan  antara lain :

1.)    Cahaya yang akan digunakan harus tepat untuk jenis ikan yang akan ditangkap dengan mengetahui behavior dari ikan-ikan yang hendak ditangkap terhadap jenis cahaya. 

2.)    Cahaya yang digunakan juga harus mampu menarik ikan pada jarak yang jauh baik vertikal maupun horisontal, untuk syarat ini biasa digunakan cahaya berwarna biru atau hijau.

3.)    Ikan-ikan diusahakan untuk berkumpul pada area penangkapan tertentu.

4.)    Waktu yang tepat untuk menentukan mulai penangkapan terhadap ikan-ikan yang telah berkumpul, setelah ikan mulai berkumpul diusahakan ikan tetap tenang berada pada area penangkapan sampai batas waktu tertentu sebelum dilakukan penangkapan, untuk itu diusahakan agar ikan tidak melarikan diri atau menyebar.

C.     Syarat Biologi

Dalam hubungannya dengan keberhasilan operasi penangkapan dengan menggunakan cahaya, perlu kiranya diketahui kebiasaan dari ikan-ikan yang akan ditangkap. Salah satu kebiasan ikan yang perlu diperhatikan dalam penangkapan adalah ruaya vertikal harian ikan tersebut.  Berdasarkan ruaya vertikal hariannya, ikan dan hewan laut lainnya dapat dibagi atas 6 kelompok, yaitu :

1.)               Jenis ikan pelagis yang muncul sedikit  diatas termoklin pada siang hari. Jenis ikan ini akan beruaya ke lapisan permukaan pada sore hari, sedangkan saat malam hari, akan menyebar pada lapisan antara permukaan dan termoklin. Kemudian pada pagi harinya ikan akan menghindar dari lapisan diatas termoklin tersebut

2.)               Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin pada waktu siang hari. Ikan ini beruaya melalui lapisan termoklin ke lapisan permukaan pada sore hari lalu menyebar pada lapisan antara permukaan dengan dasar perairan selama malam hari, dan sebagian besar dari ikan tersebut berada diatas termoklin. Pada waktu matahari terbit ikan akan turun  ke lapisan yang lebih dalam.

3.)                Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin selama waktu sore hari. Malam hari ikan tersebut akan menyebar antara lapisan termoklin dan dasar perairan, bahkan mungkin turun ke lapisan yang lebih dalam pada waktu terbit matahari.

4.)               Jenis ikan dasar (demersal fish)  berada dekat dasar perairan pada waktu siang hari, beruaya dan menyebar di bawah termoklin, terkadang berada diatas termoklin pada sore hari kemudian turun ke dasar atau lapisan yang lebih dalam pada waktu pagi hari.

5.)               Jenis-jenis ikan yang menyebar melalui kolom air selama siang hari, sedangkan pada  waktu malam ikan tersebut akan turun ke dasar perairan

6.)               Jenis ikan pelagis maupun demersal yang tidak memiliki migrasi harian yang jelas.

Pada umumya ikan pelagis akan naik ke lapisan permukaan sebelum matahari terbenam dan akan membentuk kelompok yang besar. Sesudah matahari terbenam ikan-ikan tersebut menyebar ke kolom air dan mencari lapisan air yang lebih dalam pada siang hari. Ikan-ikan demersal biasanya menyebar ke dalam kolom air selama malam hari, Dengan mengetahui pola kebiasaan harian ikan, akan memudahkan menentukan waktu dan alat yang tepat sehingga keberhasilan penangkapan menjadi lebih besar.

BAB III.  PERIKANAN RUMPON

  1. Definisi Rumpon

     

                  Rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap.

            Definisi rumpon menurut SK Mentan  No. 51/Kpts/IK.250/1/97  adalah  alat  bantu       penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut. Selanjutnya dalam SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97  tentang Pemasangan  dan  Pemanfaatan  rumpon menjelaskan bahwa terdapat 3 jenis rumpon,yaitu:
1. Rumpon Perairan Dasar
            adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar                           perairan laut
2. Rumpon Perairan Dangkal
            adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan padaperairan laut dengan kedalaman sampai dengan 200 meter. Seperti terlihat pada gambar 1.

Sumber : BPPL (1991)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Rumpon Laut Dangkal

 

3. Rumpon Perairan Dalam
            adalah alat bantu  penangkapan  ikan yang  dipasang dan  ditempatkan   pada perairan  laut   dengan  kedalaman  di atas 200 meter. Detailnya  seperti terlihat  pada gambar 2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

                          Sumber : BPPL (1991)

 

Gambar 2. Rumpon Laut Dalam

            Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP-RI) bersama beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) saat ini sedang dan akan terus mengembangkan program rumponisasi di seluruh perairan Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk lebih mengefisiensikan usaha nelayan kecil, dengan cara menghemat biaya operasional penangkapan ikan. Harapan pemerintah terhadap penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan dapat memberikan keuntungan kepada nelayan, seperti nelayan tidak perlu melakukan penangkapan ikan dengan cara mengejar (mengikuti) kemana ikan bergerak, dengan menciptakan daerah penangkapan ikan buatan nelayan cukup menangkap ikan di sekitar rumpon, memberikan kepastian dalam menentukan daerah penangkapan, mendekatkan daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan nelayan, mampu menekan biaya operasional penggunaan BBM (solar) hingga sebesar 30%, dan mampu meningkatkan produksi penangkapan ikan hingga mencapai 300%.

Menurut Naamin dan Kee-Cahi Chong (1987), pada awal penggunaan rumpon laut dalam di Sorong antara tahun 1985 sampai 1986, ternyata dapat meningkatkan hasil tangkapan total sebesar 105% dan hasil tangkapan per satuan upaya sebesar 142%. meningkatkan pendapatan pemilik rumpon sebesar 367%, mengurangi pemakaian bahan bakar minyak untuk kapal sebesar 64,3% serta mengurangi pemakalan umpan hidup sebesar 50%. Namun dengan bertambahnya penggunaan rumpon maka terlihat kecenderungan menurunnya hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE).

                       

  1. Sejarah Rumpon (FAD) di Indonesia

 

            Rumpon telah lama dikenal di Indonesia, terutama di daerah Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai ‘rompong mandar”. Didaerah Indonesia Bagian Timur lain seperti di Sorong, Fakfak. Maluku Utara, Teluk Tomini, Laut Sulawesi, Sulawesi Tenggara berkembang dengan alat tangkap pancing huhate (pole and line) dan pancing ulur (handline) rumpon jenis ini biasanya dipasang di perairan laut dalam untuk menangkap ikan-ikan pelagis besar. Sedangkan rumpon laut dangkal berkembang penggunaannya di perairan Selat Malaka dan Laut Jawa dengan alat tangkap purse seine mini.
            Teknologi rumpon laut dalam baru dikembangkan di Indonesia sekitar tahun 1985 untuk penangkapan ikan pelagis besar. Metode pemasangan dan dua jenis rumpon tersebut hampir sama dan perbedaannya hanya pada daerah pemasangan serta bahan yang digunakan. Pada rumpon laut dangkal digunakan dari alam seperti bambu, rotan. daun kelapa dan batu kali.Sebaliknya pada rumpon laut dalam sebagian besar dari bahan seperti bahan sintetis, plat besi, ban bekas, tali baja, tali nylon dan semen

            Penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan belum menyebar di seluruh wilayah perairan Indonesia terutama untuk rumpon laut dalam. Penggunaan rumpon laut dalam di wilayah Indonesia Bagian Barat atau Samudera Indonesia dapat dikatakan belum ada.

  1. Konstruksi dan Teknis Pemasangan Rumpon

            Secara garis besar rumpon menurut Preston (1982) adalah tersusun dan tiga bagian utama yang terdiri dan attraktor, mooring line dan pemberat. Konstruksi rumpon, terdiri dan komponen-komponen yang sama bila dilihat berdasarkan fungsinya seperti pelampung, alat pengumpul ikan, tali-temali dan pemberat. tetapi untuk rumpon-rumpon yang dipergunakan oleh nelayan diberbagai lokasi di Indonesia mempunyai perbedaan bila dilihat dan material masing-masing komponen konstruksi rumpon tersebut.

            Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa persyaratan umu komponen komponen dan konstruksi rumpon adalah sebagai berikut:

1. Pelampung,
– Mempunyai kemampuan mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung di             atas air 1/3 bagian)
– Konstruksi cukup kuat
– Tahan terhadap gelombang dan air
– Mudah dikenali dari jarak jauh
– Bahan pembuatnya mudah didapat;

2.  Atraktor atau pemikat,
– Mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan
-Tahan lama
– Mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah
-Melindungi ikan-ikan kecil
-Terbuat dan bahan yang kuat, tahan lama dan murah;

3. Tali-temali,
– Terbuat dan bahan yang kuat dan tidak mudah busuk
– Harganya relatif murah  mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah  gesekan terhadap benda-benda lainnya dan terhadap arus
– Tidak bersimpul (less knot);

4. Pemberat,
    Bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh
    Massa jenisnya besar, permukaannva tidak licin dan dapat mencengkeram.

            Daya tahan rumpon yang dipasang di laut sangat bervariasi tergantung jenis material dari masing-masing komponen serta kondisi dan kedalaman perairan dimana rumpon tersebut dipasang. Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa berdasarkan hasil evaluasi rumpon yang dipasang PT. Usaha Mina di Perairan Utara Irian Jaya dan  di perairan Maluku utara dapat disimpulkan bahwa rumpon yang dipasang pada kedaan 600-1000 m dapat bertahan antara 10-17 bulan

            Menurut Atapattu (1991). penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan laju tangkap dengan pengurangan biaya produksi, mengurangi waktu untuk mencari gerombolan ikan sehingga mengurangi biaya operasi kapal, meningkatkan efisiensi penangkapan serta memudahkan operasi penangkapan ikan yang berkumpul di sekitar rumpon.

            Rumpon sebagai alat bantu penangkapan dipasang di tengah laut. Oleh sebab itu agar rumpon dapat berfungsi dengan dengan baik sesuai dengan tujuannya. maka dalam pemasangannya diperlukan adanya informasi tentang kedalaman, kecerahan air. arus. suhu, salinitas dan keadaan topografi dan dasar perairan dimana rumpon akan dipasang. Informasi dasar tersebut sangat diperlukan untuk diketahui agar dalam pemasangan rumpon benar-benar tepat pada perairan yang diharapkan dan menghindari rumpon putus. Pemasangan rumpon harus pula memperhatikan aspek biologis dan ikan yang menjadi sasaran penangkapan. Hal ini bertujuan agar rumpon yang dipasang benar-benar pada perairan yang subur dan banyak ikannya.

      d. Tingkah Laku Ikan Di Sekitar Rumpon
           
Asikin (1985) mengemukakan bahwa keberadaan ikan di sekitar rumpon karena berbagai sebab, antara lain:
1. Rumpon sebagai tempat bersembunyi di bawah bayang-bayang daun rumpon bagi      beberapa jenis ikan tertentu;
2. Rumpon sebagai tempat berpijah bagi beberapajenis ikan tertentu;
3. Rumpon itu sebagai tempat berlindung bagi beberapa jenis ikan yang mempunyai sifat             fototaksis negatif.
            Samples dan Sproul (1985) mengemukakan teori tertariknya ikan yang berada di sekitar rumpon disebabkan karena:
1. Rumpon sebagai tempat berteduh (shading place) bagi beberapa jenis ikan tertentu;
2. Rumpon sebagai tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan-ikan tertentu;
3. Rumpon sebagai substrat untuk meletakkan telurnya bagi ikan-ikan tertentu;
4. Rumpon sebagai tempat berlindung (shelter) dan predator bagi ikan-ikan tertentu;..       5. Rumpon sebagai tempat sebagai  titik acuan navigasi  (meeting point)  bagi i kan-ikan           tertentu yang beruaya.

            Di samping kelima teori di atas Gooding dan Magnuson (1967) melaporkan bahwa rumpon merupakan tempat stasiun pembersih (cleaning place) bagi ikan ikan tertentu. Dikemukakan bahwa dolphin dewasa umumnya akan mendekati bagian bawah floating objects dan menggesekkan badannya.  Breder (1949) juga mendukung hal ini dimana kadang-kadang dolphin mendekati ikan lain untuk membersihkan badannya.  Tingkah laku ini sesuai dengan tingkah laku dan famili coryphaenids yang memindahkan parasit atau menghilangkan iritasi kulit dengan cara menggesekkannya.  Freon dan Dagom (2000) menambahkan teori tentang rumpon sebagai tempat berasosiasi (association place) bagi jenis ikan-ikan tertentu.

            Rumpon yang dipasang. pada suatu perairan akan dimanfaatkan oleh kelompok ikan tertentu sebagai tempat berlindung dan serangan predator. Kelompok jenis ini akan berenang-renang dengan mengusahakan agar posisi tubuh selalu membelakangi bangunan rumpon. Selain sebagai tempat berlindung, rumpon diibaratkan sebagai pohon yang tumbuh di padang pasir yang merupakan wadah pemikat kelompok ikan (Subani, 1972).
      Ikan berkumpul di sekitar rumpon untuk mencari makan. Menurut Soemarto (1962) dalam area rumpon terdapat plankton yang merupakan makanan ikan yang lebih banyak dibandingkan di luar rumpon.  Diterangkan juga oleh Soemarto (1962) bahwa perairan yang banyak planktonnya akan menarik ikan untuk mendekat dan memakannya.
      Subani (1972) mengemukakan bahwa
ikan-ikan yang berkumpul disekitar
rumpon menggunakan rumpon sebagai tempat berlindung juga untuk mencari makan dalam arti luas tetapi tidak memakan daun-daun rumpon tersebut.

d.      Permasalahan Rumpon

            Isu nasional konflik antara kelompok nelayan payang dengan kelompok nelayan rumpon sudah berlangsung sekitar tahun 2002, sejak diperkenalkannya rumpon kepada para nelayan di sekitar Teluk Palabuhan ratu. Pada saat itu di perairan Teluk Palabuhan ratu dibangun 5 unit rumpon yang pengelolaan dan pemanfaatannya diserahkan kepada kelompok nelayan pancing. Namun karena penempatan rumpon tersebut dianggap telah mengganggu jalur penangkapan ikan nelayan jaring, terutama nelayan payang dan gillnet maka keberadaan rumpon tersebut hanya bertahan selama 6 bulan. Menurut pengakuan nelayan jaring kepada pihak Dinas Kelautan Dan Perikanan keberadaan rumpon tersebut telah menyebabkan jaring mengalami kerusakan akibat tersangut pada rumpon. Dan akhirnya para nelayan jaring tersebut “menebas” habis rumpon yang ada di sekitar perairan Teluk Palabuhan ratu tersebut.

            Pada tahun 2005 Yayasan Anak Nelayan Indonesia (YANI) kembali memasang rumpon 2 unit di perairan Teluk Palabuhan ratu, akan tetapi letaknya berada di luar teluk. Hal ini dimaksudkan selain untuk menghindari konflik dengan nelayan jaring juga untuk “menargetkan” sumberdaya ikan yang ada di perairan Samudera Hindia. Namun demikian ternyata keberadaan rumpon milik YANI tersebut juga di protes oleh para nelayan jaring karena dianggap telah turut memperburuk hasil tangkapan nelayan jaring. Menurut aparat Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi konflik ini disebabkan karena adanya salah pemahaman dari kelompok nelayan jaring, khususnya nelayan payang yang beranggapan bahwa penurunan produksi penangkapan perahu payang akibat dari keberadaan rumpon di luar teluk. Sehingga ikan-ikan yang seharusnya beruaya ke dalam teluk tertahan di rumpon yang ada di luar tersebut. Akhirnya pada akhir tahun 2005 sampai triwulan pertama tahun 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi melakukan sosialisasi rumpon kepada seluruh nelayan di Teluk Palabuhan ratu. Hal ini dimaksudkan selain untuk menghindari kesalahpahaman juga untuk memberikan pemahaman kepada para nelayan agar mempu memanfaatkan rumpun guna mengefetifkan pencarian ikan dan meningkatkan produksi penangkapan.

            Pada tahun 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi kembali memasang rumpon di dalam teluk sebanyak 4 unit guna memperpendek jarak jangkauan dan supaya dapat dimanfaatkan oleh perahu yang kecil sedangkan diluar teluk sebanyak 6 unit dari Anggaran Pembangunan Belanja Negara Propinsi (APBNP) Jawa Barat 1 Unit. Pengelolaan sepuluh rumpon tersebut diserahkan kepada sepuluh kelompok pengelola rumpon. Pembagian sepuluh pengelola tersebut tidak hanya didominasi oleh nelayan pancing, tetapi juga melibatkan kelompok nelayan payang dan beleketek. Kesepuluh kelompok tersebut membentuk sebuah forum pengelola rumpon yang diberi nama Perkumpulan Nelayan Bahtera.

            Namun demikian, pemasangan rumpon tersebut saat ini masih menyisakan konflik dilapangan. Menurut sebagian besar nelayan payang menyatakan bahwa konflik tersebut lebih disebabkan tidak dilibatkannya seluruh nelayan payang dan bagan dalam pembangunan rumpon di perairan Teluk Palabuhan ratu. Sehingga masih ada dari para nelayan yang tidak menerima keberadaan rumpon di Teluk Palabuhan ratu. Misalnya penebasan jangkar rumpon oleh nelayan payang pada pertengahan tahun 2006 yang menyebabkan tiga unit rumpon di dalam Teluk Palabuhanratu hilang terbawa arus. Selain itu juga menurut Ketua Kelompok Nelayan Pancing Karang Deet Kecamatan Pelabuhan ratu yang mengelola rumpon di sekitar perairan Sukawayana, kelompoknya terpaksa memindahkan rumpon yang dikelolanya ke lokasi lain karena rumpon tersebut dijadikan tempat bersandarnya bagan apung milik nelayan bagan.

            Permasalahan selanjutnya Menurut Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN), terancamnya populasi ikan tuna. pemasangan rumpon sangat mengancam keberlangsungan ikan tuna. Hal ini disebabkan ikan tuna yang ditangkap di sekitar areal rumpon adalah baby tuna dengan ukuran 3 sampai 10 kg. Padahal idealnya tuna yang layak ditangkap adalah yang berukuran 20 sampai 60 kg per ekor. Sementara rumpon yang dipasang hanya dapat mengumpulkan dan menangkap tuna-tuna kecil yang nota bene masih produktif bertelur (Sumber :Tabloid Maritim No 452). Dengan demikian apabila program rumpon tersebut terus dikembangkan maka 5 tahun ke depan populasi ikan tuna akan terancam.

            Kekhawatiran pengusaha ikan tuna tersebut sangat beralasan, karena sampai saat ini pemasangan rumpon di perairan Indonesia tidak dibarengi dengan sistem kelembagaan yang kuat. Misalnya sampai saat ini belum ada aturan mengenai jenis dan ukuran ikan yang boleh ditangkap oleh para nelayan rumpon, berapa jumlah ikan yang boleh ditangkap oleh setiap kelompok nelayan rumpon, dan bagaimana tanggung jawab nelayan rumpon dalam menjaga kelestarian sumberdaya ikan. Selama ini pemerintah hanya mengatur tentang bagimana mendapatkan ijin pemasangan rumpon saja, tanpa dibarengi dengan beberapa aturan (Suhana,2008)

             Isu internasional tentang rumpon (FAD) sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan mengancam kelestarian sumberdaya ikan di perairan berkembang sejak Konferensi Internasional tentang FAD di Martinique, Perancis pada tahun 1999. Tentu saja isu ini berdasarkan pada Code of conduct for Responsible Fisheries yang dikeluarkan oleh FAO pada tahun 1995.  Hal ini dikarenakan alat tangkap purse seine yang berkembang dengan pesat di Samudera Pasifik bagian Timur yang dioperasikan pada drifting fish aggregating device menangkap ikan-ikan tuna berukuran kecil yang belum matang gonad. Terdapat pro dan kontra tentang hal itu karena FAD merupakan alat bantu yang diyakini sangat efektif dalam menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap purse seine, payang dan.pancing.
          Isu regional
dan nasional tentang perkembangan penggunaan rumpon yang
pesat menimbulkan berbagai masalah diantaranya (Direktorat Jenderal Perikanan,1996):

(1) Ketidakseimbangan produktivitas alat tangkap yang digunakan nelayan di Philippina dengan nelayan plasma di Maluku dan Irian Jaya, di mana produktivitas purse seine Philippina jauh lebih tinggi daripada pancing ulur nelayan plasma di Maluku dan Irian Jaya.

(2) Lokasi pemasangan rumpon laut dalam tidak mencerminkan komposisi yang seimbang antara kepentingan perikanan Industri (Philippina) yang menguasai
hampir seluruh kawasan ZEE Laut Sulawesi
dan Pasifik, sedangkan BUMN dan plasmanya terbatas di beberapa tempat perairan Maluku dan sebagian kecil di Samudera Pasifik yaitu Utara Irian jaya dan Maluku

(3) Pemasangan rumpon oleh nelayan Philippina bahkan semakin cenderung tidak terkontrol, walaupun pembatasannya sudah dilakukan oleh Direktorat jenderal Perikanan, sehingga menimbulkan situasi padat rumpon yang menimbulkan keresahan nelayan-nelayan pole and line di Sulawesi Utara dan Maluku karena rumpon tersebut diduga telah menghalangi ruaya ikan dan Laut Sulawesi dan Pasifik yang menuju ke perairan Maluku dan Laut Banda.

(4) Pemasangan rumpon laut dalam oleh perusahaan perikanan di lepas pantai Jawa Barat dan lepas pantai Flores dan Timor telah menimbulkan gejolak sosial (konfik sosial) karena telah mengganggu produktivitas nelayan setempat.

      Untuk menanggulangi konflik baik secara internasional, regional dan nasional di atas diperlukan peraturan-peraturan dalam skala nasional, regional maupun internasional. Pemerintah Indonesia telah membuat beberapa peraturan secara nasional tentang rumpon yaitu SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97. Selain itu peraturan internasional tentang “Code of Conduct for Responsible Fishing (CCRF)” (FAO, 1995) telah mulai disiapkan untuk diimplementasikan, yang memuat beberapa aspek yaitu:    

(1) Aspek pengelolaan perikanan (Fisheries Management)

(2) Aspek operasi penangkapan ikan (Fishing Operations).

(3) Aspek pembangunan akuakultur (Aquaculture Development).

(4) Aspek integrasi perikanan ke dalam pengelolaan kawasan pesisir (Integration of         Fisheries into Coastal Area Management).

(5) Aspek praktek-praktek pasca panen dan perdagangan (Post-Harvest Practices and Trade).

f. Pengelolaan Rumpon      

            Pengaturan dan pengendalian rumpon di Indonesia saling berkaitan antara aspek operasi penangkapan dengan ke-lima aspek lainnya dalam Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), rumpon sebagai salah satu alat pengumpul ikan secara khusus di jelaskan pada Pasal 9.3 dan Anneks   III pada pedoman teknis untuk perikanan bertanggung jawab aspek operasi penangkapan ikan. Pasal 9.3 mencakup beberapa peraturan, antara lain:

(1) Teknologi pengumpulan ikan sebaiknya dikembangkan lebih jauh untuk memperbaiki

      kinerja alat-alat pengumpul ikan yang dijangkar dan terapung.

(2) Sistem manajemen alat pengumpul ikan sebaiknya mengemukakan tanggung jawab       otoritas yang berwenang dan pengguna untuk standar desain yang minimum, operasi dan pemeliharaan alat  pengumpul ikan tersebut.

(3) Otoritas yang berwenang juga sebaiknya menetapkan suatu sistem persetujuan untuk penempatan alat pengumpul ikan dan memelihara dokumen pemilik. Dokumen harus berisikan sebagai suatu persyaratan minimum :

a). tanda yang ditetapkan otoritas yang berwenang untuk identifikasi kepemilikan;

b). nama dan alamat pemilik;
c). tipe alat pengumpul ikan, dan
d). lokasi dan posisi geografis yang dialokasikan.

(4) Otoritas yang berwenang sebaiknya memastikan bahwa otorisasi menangkap ikan di sekitar alat pengumpul ikan berisikan rincian metoda penangkapan yang digunakan dan juga persyaratan untuk pelaporan hasil tangkapan.

(5) Alat pengumpul ikan, apakah dijangkar atau terapung, sebaiknya mempunyai alat-alat untuk mengidentifikasi posisi alat pengumpul ikan pada siang dan malan hari.

(6) Otoritas yang berwenang juga sebaiknya menetapkan suatu sistem untuk pelaporan alat pengumpul ikan yang hilang dan penemuan kembali alat  pengumpul ikan yang dianggap membahayakan navigasi.


            Sejalan dengan upaya pemerintah untuk peningkatan produksi perikanan maka sangatlah tepat apabila penggunaan rumpon dikembangkan. Akan tetapi dalam perkembangannya, pemasangan rumpon selain menimbulkan efek positif juga menimbulkan beberapa masalah, antara lain akibat pemasangan rumpon yang tidak teratur dan lokasi yang berdekatan dapat merusak pola ruaya ikan yang berimigrasi jauh sehingga mengganggu keseimbangan dan konflik antar nelayan, kemudahan penangkapan ikan dengan menggunakan rumpon dapat menimbulkan overfishing, dll.

            Apabila dilihat dan tingkat pengusahaan sumberdaya perikanan pelagik besar yang masih rendah maka peningkatan usaha penangkapan ikan masih sangat diperlukan. Pengelolaan rumpon harus memperhatikan aspek-aspek biologi, lokasi lingkungan perairan, alat penangkapan. sosial budaya dan ekonomi. Dalam pengelolaan ini harus pula memperhatikan aspek legal yang menyangkut lokasi, jumlah, pemanfaatan dan izin pemasangan dari instansi yang berwenang

            Guna terciptanya penataan pemasangan rumpon agar terjaga kelestarian sumberdaya ikan; terciptanya Pedoman Pembinaan Sarana Perikanan Tangkap khususnya rumpon; untuk menghindarkan konflik sosial antara nelayan pemilik rumpon dan yang tidak memiliki rumpon; terbinanya pengelolaan rumpon yang melibatkan unsur-unsur terkait baik pusat maupun daerah, antara perusahaan perikanan dengan nelayan sehingga tercapai kesinambungan dan keserasian usaha dilapangan dan tujuan untuk kelestarian sumberdaya ikan; tersusunnya mekanisme pendataan, penandaan dalam pemasangan rumpon serta mekanisme evaluasi produktifitas penangkapan ikan di sekitar rumpon.

            Maka, diterbitkan Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep 30/MEN/2004 tentang Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon, antara lain :

Tata Cara Pemasangan Rumpon

1. Rumpon dapat dipasang di wilayah :

a. Perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut      terendah.

b. Perairan diatas 4 mil laut sampai dengan 12 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut terendah

c. Perairan diatas 12 mil laut dan ZEE Indonesia.

d.Perorangan atau perusahaan berbadan hukum yang akan memasang rumpon wajib terlebih dahulu memperoleh ijin.

2. Pengusaha/nelayan yang akan memasang Rumpon mengajukan permohonan ijin           kepada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi/Kabupaten/Kota sesuai kewenangan pemberi izin sesuai dengan Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep 30/MEN/2004 tentang Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon. Dalam permohonan ijin harus dilakukan penilaian baik terhadap administrasi pemohon maupun lokasi perairan. Penilaian lokasi pemasangan rumpon harus memperhatikan :

  1.  
    1. Apakah daerah tersebut tidak merupakan alur pelayaran atau kepentingan lainnya seperti daerah suaka, atau daerah lainnya. Pemasangan rumpon tidak boleh dilakukan pada daerah perairan tersebut.
    2. Apakah daerah tersebut tidak merupakan konsentrasi penangkapan ikan nelayan-nelayan yang tidak menggunakan rumpon, Rumpon tidak boleh dipasang pada perairan tersebut.
    3. Apakah daerah tersebut berbatasan dengan propinsi lain, untuk itu maka Dinas Perikanan dan Kelautan dari domisili pemohon ijin rumpon ditujukan kepada propinsi tersebut.

            Sedangkan persyaratan  jarak antar rumpon dapat dilihat pada Kepmentan Nomor 51/KPTS/IK.250/1/1997 tentang pemasangan dan pemanfaatan rumpon yaitu pada pasal 7 ayat b : Pemasangan rumpon di perairan dalam dengan syarat-syarat tidak boleh dipasang dengan jarak pemasangan antara rumpon satu dengan rumpon lain kurang dari 10 (sepuluh) mil laut; dan ayat e :pemasangan rumpon tidak boleh dengan jarak kurang dari 12 mil laut diukur dari garis pasang surut terendah pada waktu air surut dari setiap pulau; atau pada ayat f : rumpon tidak boleh dipasang dengan cara pemasangan yang mengakibatkan efek pagar (zig-zag) yang mengancam kelestarian jenis ikan pelagis.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV. KESIMPULAN SARAN

 

 

A.      Kesimpulan

 

      Dari makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

 

  1. Alat bantu penangkapan diantaranya rumpon (FAD) dan cahaya lampu (Light Fishing) digunakan dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan.
  2. Penggunaan rumpon (FAD) dan light fishing sebagai pembentuk daerah penangkapan ikan buatan (Artificial fishing ground)
  3. Rumpon (FAD) sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan mengancam kelestarian sumberdaya ikan maka diterbitkan Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep 30/MEN/2004 tentang Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon

 

 

B.     Saran

         Dari makalah ini dapat disarankan sebagai berikut :

1.       Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang bertanggung jawab  (Sustainable Fisheries Cupture) maka eksploitasi sumberdaya ikan harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (responsible Fisheries).

2.    Untuk mewujudkan perikanan tangkap yang bertanggung jawab (Sustainable Fisheries Cupture) maka perlu kiranya membuat kriteria keramahan dari rumpon (FAD) dan cahaya lampu (Light Fishing) sebagai Alat bantu penangkapan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Baskoro, SM,Suherman, A.2007. Teknologi Penangkapan Ikan Dengan Cahaya. Badan    Penerbit UNDIP-Semarang. Bogor.

Ben-yami,1987.                  Fishing With Light. Published by Arrangement With The Agriculture Organisation of The United Nation by Fishing News Books Ltd.Farham,Surrey.England

 

Nikonorov, I.V. 1975. Interaction of Fishing Gear With Fish Aggregations. Keter Publishing House Jerisalem Ltd. Israel Program From Scientific Translations, Jerusalem

 

Sulaiman.2006. Pendekatan Akustik dalam Studi Tingkah Laku Ikan pada proses Penangkapan dengan Alat Bantu Cahaya.(Tidak di Publikasikan,Thesis). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Sudirman, 2003. Analisis Tingkah Laku Ikan untuk Mewujudkan teknologi Ramah Lingkungan Dalam Proses Penangkapan pada bagan Rambo (Tidak di Publikasikan.Disertasi) Program Pasca sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Yusfiandayani, R. 2004. Studi tentang Mekanisme Berkumpulnya Ikan Pelagis Kecil di Sekitar Rumpon dan Pengembagan Perikanan di Perairan Provinsi Banten.   

 

Sumber :  http://ocean.iuplog.com  Rumponisasi, Konflik Nelayan dan Kelestarian Sumberdaya Ikan. Suhana, Peneliti Pada Pusat Kajian Sumberdaya Pesisi

r dan Lautan (PKSPL-IPB) Sunday, February 17, 2008