PENGKAJIAN DAERAH POTENSI IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares)

(Study on Potential Fishing ground Yellow Fin Tuna (Thunnus albacares) during East Season using Satellite Data in Wakatobi Waters, Southeast Sulawesi
Muslim Tadjuddah¹

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran suhu permukaan laut dan klorofil-a beserta variasinya pada musim timur dan peralihan timur-barat berdasarkan skala ruang dan waktu di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra kemudian menentukan lokasi thermal front dan upwelling sebagai indikator daerah penangkapan ikan madidihang (Thunnus albacares).
Pengkajian Suhu Permukaan Laut (SPL) dan Klorofil-a merupakan program penelitian yang sangat penting dalam bidang oseanografi. Dengan perkembangan teknologi Penginderaan jauh satelit pengukuran secara langsung faktor-faktor oseanologi (konvensional) secara berangsur-angsur akan dikurangi. Penginderaan jauh satelit dapat mencakup wilayah laut yang luas dalam waktu yang singkat, sementara itu pengukuran secara langsung ke lapangan memerlukan banyak biaya, tenaga dan waktu yang lama. Sehingga penentuan SPL dan Klorofil-a dengan teknologi penginderaan jauh merupakan alternatif yang tepat.
Operasi penangkapan ikan akan menjadi lebih efisien dan efektif apabila daerah penangkapan ikan dapat diduga terlebih dahulu, sebelum armada penangkapan ikan berangkat dari fishing base. Salah satu metode untuk mengetahui daerah penangkapan ikan ialah melalui studi daerah penangkapan ikan dan hubungannya dengan fenomena oseanografi yang terjadi. Rata-rata SPL pada musim timur di perairan Kabupaten Wakatobi 23-31°C dengan rata-rata 26.03°C. Pada musim peralihan timur-barat SPL berkisar 25-31°C rata-rata SPL 27.6 °C. Sedangkan klorofil-a pada musim timur berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.64 mg/m³. Pada musim peralihan timur-barat klorofil-a berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.68 mg/m³.
Pada bulan Juni upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan Karang Koka. Upwelling terjadi di sekitar P. Runduma, Karang Kapota, Karang Kaledupa pada bulan Juli dan Agustus. Upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan P.Wangi-wangi pada bulan September. Berdasarkan sebaran front maka daerah penangkapan madidihang potensial ditemukan pada bagian timur perairan Kabupaten Wakatobi khususnya disekitar karang koromaha dan karang koka.

Kata-kata Kunci : Fishing ground, Suhu permukaan laut, klorofil-a, madidihang

¹Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-UNHALU

1.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penentuan daerah penangkapan ikan menggunakan metode analisis data inderaja dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit yang dihasilkan terhadap beberapa parameter fisika kimia dan biologi perairan. Hal yang dilakukan diantaranya adalah pengamatan suhu permukaan laut (SPL), pengangkatan massa air (up-welling) ataupun pertemuan dua massa air yang berbeda (sea front) dan perkiraan kandungan klorofil disuatu perairan. Hasil pengamatan tersebut dituangkan dalam bentuk peta kontur, sehingga dapat diperkirakan tingkat kesuburan suatu lokasi perairan atau kesesuaian kondisi perairan dengan habitat yang disenangi suatu gerombolan (schoaling) ikan berdasarkan koordinat lintang dan bujur. Selanjutnya armada penangkap ikan dapat bergerak ke lokasi tersebut untuk melakukan penangkapan ikan dengan cepat dan tepat.
Kabupaten Wakatobi merupakan daerah pemekaran dari kabupaten Buton Provinsi Sultra yang disyahkan dengan Undang- Undang R I No. 29 tahun 2003. Luas Kabupaten Wakatobi diperkirakan sekitar 16.890 Km² atau 1.689.000 ha dimana 95% dari wilayah ini merupakan perairan laut. Kabupaten Wakatobi Propinsi Sultra terletak antara 5°12′ – 6°10 LS dan 123°20′ – 124°39′ BT.
Wilayah Kabupaten Wakatobi sendiri di sebelah utara dan timur berbatasan dengan Laut Banda, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar terutama untuk kelompok ikan pelagis besar (Cakalang dan Tuna). Menurut data PPT-LIPI,2002 : data produksi ikan tuna dan cakalang sebanyak 3 – 4 ton per hari.
Penentuan daerah penangkapan ikan selama ini di kabupaten Wakatobi dilakukan nelayan dengan menggunakan cara-cara tradisional. Seperti dengan hanya memperhatikan kondisi perairan misalnya dengan melihat adanya buih-buih di permukaan perairan,warna perairan yang lebih warna perairan yang lebih gelap dari perairan disekitarnya, adanya burung beterbangan yang menukik-nukik di sekitar perairan dan munculnya lumba-lumba di permukaan perairan. Kondisi ini diperparah lagi dengan kondisi perairan Kabupaten Wakatobi yang relatif luas (Luas wilayah Kabupaten Wakatobi 95% terdiri atas lautan)
Metode ini merupakan pengetahuan yang diperoleh secara turun-temurun. Kelemahan dari metoda ini tidak dapat mengantisipasi perubahan kondisi oseanografi dan meteorologi yang sangat berkaitan erat dengan perubahan daerah penangkapan ikan (fishing gound) itu sendiri yang berubah secara dinamis.
Sampai saat ini di kabupaten Wakatobi masih terdapat kendala untuk dapat mengoptimalkan operasi penangkapan ikan agar lebih efisien dan produktif. Adapun kendala yang dihadapi pertama, nelayan kesulitan mencari daerah penangkapan ikan yang disebabkan ketidaktahuan tentang faktor oseanografi yang berhubungan dengan kemunculan schooling ikan. Kedua, nelayan tidak dapat merencanakan operasi penangkapan ikan yang tepat yang disebabkan karena tidak dapat menduga musim penangkapan ikan akibatnya operasi penangkapan ikan akan berjalan tidak efektif, tidak efisien dan tidak ekonomis karena nelayan berangkat dari pangkalan bukan untuk menangkap ikan tetapi untuk mencari lokasi daerah penangkapan ikan. Dengan demikian, nelayan akan selalu berada dalam ketidakpastian tentang lokasi penangkapan dan akhirnya hasil tangkapan juga menjadi tidak pasti.
2. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan :
(1) Mengetahui penyebaran suhu permukaan laut pada musim timur berdasarkan skala ruang dan waktu sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra.
(2) Mengetahui penyebaran klorofil-a pada musim timur berdasarkan skala ruang dan waktu di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra.
(3) Menentukan lokasi Thermal front dan upwelling sebagai indikator daerah penangkapan ikan madidihang (Thunnus albacares)

3. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sultra pada posisi antara 5°12′ – 6°10′ LS dan 123°20′ – 124°39′ BT. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Mei 2005.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

3.2 Alat dan Data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
1 ) Perangkat komputer PC Core 2 Duo
2 ) Perangkat pengolah data satelit yaitu ER.MAPPER 6.0 untuk pengolah citra SPL dan kontur SPL dan Arc-View 3.3 untuk pengolahan pemetaan zona penangkapan ikan.
3 ) Peta perairan Kabupaten Wakatobi no. 317. (Sumber : Dishidros TNI-AL
tahun 2001, Skala : 1:200.000)untuk menentukan lokasi daerah penelitian
4 ) Kamera Foto, membuat dokumentasi selama penelitian
5 ) GPS (Garmin III Plus), untuk menentukan posisi daerah penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1 ) Data suhu permukaan laut pada musim timur dan musim peralihan timur-barat hasil pengukuran sensor AVHRR satelit NOAA yang bebas awan tahun 1999,2000, 2001, 2002 dan 2003
2 ) Data klorofil-a pada musim timur dan musim peralihan timur-barat hasil pengukuran sensor SeaWIFS satelit Seastar yang bebas awan tahun 2002 dan 2003
3 ) Data oseanografi
4 ) Data hasil tangkapan ikan madidihang tahun 1999, 2000, 2001 2002 dan 2003

3.3 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode survai sedangkan data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data In-situ dan data Ex-situ. Data In-situ terdiri dari data posisi daerah penangkapan, waktu penangkapan, ukuran kapal, jumlah kapal.Data ini diperoleh dari responden yaitu nelayan pancing tonda yang dominan menangkap ikan madidihang di sekitar perairan Kabupaten Wakatobi melalui pengisian kuisioner dan wawancara.
Data Ex-situ terdiri dari data satelit yaitu suhu permukaan laut (SPL) tahun 1999-2003 dan klorofil-a selama tahun 2002-2003 yang diterima dan diproses di Stasiun Bumi Satelit Lingkungan dan Cuaca (SBSLC) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) JL.Pekayon 70, Pasar Rebo,Jakarta Timur. Data oseanografi yaitu data pola arus diperoleh dari hasil studi Wyrtki (1961). Data hasil tangkapan ikan madidihang yaitu data selama lima tahun (data time series) diperoleh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di lokasi penelitian.
3.4 METODE ANALISIS DATA
3.4.1. Analisis Suhu Permukaan Laut
Citra yang terpilih untuk diolah yaitu dengan pertimbangan citra tersebut bebas awan yang merupakan data bulanan selama lima tahun (1999-2003) sebanyak 26 citra. Citra SPL dikelompokkan berdasarkan variasi musiman, yaitu Musim Timur diwakili 13 citra, Musim Peralihan Timur-Barat diwakili 13 citra, (Tabel 1).
Tabel 1. Citra Suhu Permukaan Laut Terpilih

Pengolahan data citra suhu permukaan laut satelit NOAA-AVHRR menjadi kontur SPL terdiri dari 7 tahap sebagai berikut, yaitu tahap pemilihan citra bebas awan, tahap pemotongan citra (cropping), tahap perhitungan nilai spl, tahap klasifikasi SPL, tahap koreksi geometrik, tahap pembuatan kontur SPL, tahap penggabungan kontur SPL dengan hasil digitasi bentuk daratan

3.4.2 Analisis Klorofil-a
Data citra satelit SeaWifs merupakan data hasil download yang diperoleh pada homepage NASA: http://seawifs.gsfc.gov/cgibrs/seawifs subreg 12.pl. Berupa data global area coverage (GAC) dengan resolusi 4 km. Citra klorofil-a yang terpilih untuk didown load ialah data citra bulanan selama dua tahun (2002-2003) sebanyak 12 citra, sama halnya dengan citra suhu permukaan laut citra klorofil-a yang didown load merupakan citra yang bebas awan kemudian dikelompokkan berdasarkan variasi musiman. Pada citra Musim Timur diwakili 6 citra, Musim peralihan Timur-Barat diwakili 6 citra,
Tabel 2. Citra Klorofil-a Terpilih

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Suhu Permukaan Laut
Pada musim timur rata-rata suhu permukaan laut sekitar 26.03°C. Suhu dominan merata pada sisi barat dan timur Kepulauan Wakatobi yang berkisar 22-23°C. Suhu hangat cenderung berada di sebelah barat Kepulauan Wakatobi dengan suhu berkisar antara 27-31°C. Suhu dingin lebih berkecenderungan berada di sebelah timur yang berkisar antara 23-25°C. Adapun profil atau penyebaran SPL secara mendetail pada musim timur disajikan dalam bentuk citra pada Lampiran .
Citra SPL tanggal 29 Juni 2000 terlihat lebih hangat dibanding citra SPL tanggal 3 Juni 1999, 29 Juni 2001, 7 Juni 2002 dan 11 Juni 2003. Suhu hangat nampak cenderung berada di sebelah barat perairan Kepulauan Wakatobi. Suhu dingin terlihat cenderung berada di sebelah timur. Penyebaran citra SPL tanggal 21 Juli 1999 dan 17 Juli 2003 memperlihatkan suhu lebih hangat dibanding citra SPL tanggal 14 Juli 2001 dan 4 Juli 2002. Suhu hangat terlihat masih berada di sisi barat Kepulauan Wakatobi sedangkan suhu dingin terlihat pada sisi timurnya.
Sebaran citra SPL pada tanggal 22 Agustus 2000 terlihat lebih hangat dibanding citra SPL tanggal 30 Agustus 1999, 10 Agustus 2001, 26 Agustus 2002 dan 13 Agustus 2003. Suhu hangat pada bulan Agustus terlihat cenderung tetap yaitu pada sisi barat seperti pada bulan Juni dan Juli selanjutnya suhu dingin terlihat pada sisi timur.
Pada Musim peralihan timur-barat suhu permukaan laut rata-rata sekitar 26.7°C. Suhu dominan berkisar 26-27°C cenderung berada pada sisi barat Kepulauan Wakatobi yang mana, suhu hangat berkisar antara suhu 28-32°C berada pada sisi timur P.Wangi-wangi dan utara P. Runduma. Suhu dingin berkisar antara 25-26°C terdapat di sekitar bagian timur Kepulauan Wakatobi. Pada bulan September citra SPL tanggal 28 September 2000 terlihat lebih panas dibanding citra tanggal 6 September 2001, 6 September 2002 dan 9 September 2003. Suhu hangat terlihat di sebagian kecil sisi barat perairan Kepulauan Wakatobi sedangkan suhu dingin mendominasi di sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi.
Citra SPL tanggal 3 Oktober 2000 terlihat lebih panas dari citra SPL tanggal 16 Oktober 1999, 16 Oktober 2001, 10 Oktober 2002 dan 22 Oktober 2003. Suhu hangat terlihat pada bagian timur kepulauan Wakatobi, sebagian barat P.Tomia dan P.Binongko. Suhu dingin terlihat pada sisi timur namun cenderung berada di sekitar P.Runduma.
Citra SPL tanggal 7 November 2000 dan 8 November 2003 terlihat lebih panas dibanding citra tanggal 24 November 2001 dan 5 November 2002. Suhu hangat merata pada bagian barat dan timur perairan Kepulauan Wakatobi.
4.2 Pergerakan Sebaran Suhu Permukaan Laut
Pada musim timur pergerakan sebaran SPL, terdapat perbedaan. Kantung-kantung percampuran massa air hangat dan massa air dingin disebagian besar citra SPL musim peralihan barat-timur tidak terlihat lagi berganti dengan massa air dingin yang mulai mendominasi pada hampir seluruh citra pada musim timur ini. Hal ini diduga disebabkan pada wilayah perairan Kepulauan Wakatobi terjadi pengangkatan massa air dari lapisan yang dalam yang bersuhu rendah sampai di permukaan. Kondisi diatas didukung pendapat Boely et el (1990) menyatakan bahwa temperatur terendah di Laut Banda ditemui antara bulan Juni sampai September.
Massa air bersuhu dingin ditemui pada sisi barat dan timur kepulauan Wakatobi. Pada citra tanggal 7 Juni 2002 dan 13 Agustus 2003 khususnya di sebagian kecil sisi barat Kepulauan Wakatobi terlihat jelas terbentuk kantung-kantung massa air hangat yang dikelilingi oleh massa air yang lebih dingin atau fenomena front suhu.
Dari keseluruhan citra sebaran SPL pada musim timur terlihat pola pergerakan SPL secara spasial di perairan Kepulauan Wakatobi bergerak dari timur ke barat dengan membawa massa air yang bersuhu dingin. Sesuai pendapat Schalk (1987) yang menyatakan bahwa massa air dingin dalam jumlah besar di Laut Banda itu akan bergeser ke arah barat mengikuti pergerakan arus permukaan pada musim timur dan terus menuju ke Laut Flores.
Pada musim peralihan timur-barat terlihat sebaran SPL di sebagian besar perairan Kepulauan Wakatobi memiliki suhu perairan yang lebih panas. Hal ini disebabkan pada musim peralihan ini arus permukaan lebih tenang sehingga pemanasan matahari lebih efektif untuk meningkatkan suhu permukaan perairan.
Pada musim peralihan timur-barat, dari sebagian besar citra SPL yang terlihat bukan lagi massa air dingin yang mendominasi perairan tetapi olakan-olakan massa air yang membentuk kantung-kantung massa air. Peristiwa ini nampak cukup intensif terutama pada bulan September dan Oktober
Dari citra SPL (Lampiran) pola pergerakan sebaran SPL pada musim peralihan timur-barat secara spasial terlihat dari sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi ke sisi barat dengan pergerakan SPL cenderung dari suhu dingin ke suhu hangat. Hal ini disebabkan pada musim ini posisi matahari tepat berada di belahan bumi selatan (Equatorial) sehingga intensitas penyinaran lebih efektif. Menurut pendapat Weil yang diacu dalam Hutagalung (1988) bahwa suhu air laut terutama di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah bahang yang diterima dari sinar matahari.
4.3 Profil Klorofil-a
Konsentrasi klorofil-a pada musim timur rata-rata 1.64 mg/m³. Pada musim ini konsentrasi klorofil-a dominan pada kisaran 1.0 mg/m³ terdapat pada bagian barat perairan Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorifil-a tertinggi berkisar antara 0.3-3.0 mg/m³ terdapat dibagian barat dan timur Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorifil-a terendah berkisar antara 0.2-2.5 mg/m³ terdapat di sekitar P. Runduma dan timur Kepulauan Wakatobi . Adapun penyebaran konsentrasi klorofil-a selengkapnya disajikan dalam Lampiran .
Konsentrasi klorofil-a pada musim timur tertinggi terdapat pada citra tanggal 26 Agustus 2002 dan tanggal 14 Agustus 2003 bila dibandingkan dengan citra tanggal 24 Juni 2003, 11 Juni 2003, 23 Juli 2002 dan citra tanggal 17 Juli 2003. Konsentrasi klorofil-a tertinggi pada musim ini terlihat di sebagian besar perairan Kepulauan Wakatobi yaitu pada sisi barat dan timurnya. Konsentrasi klorofil-a terendah hanya terdapat di sebagian kecil pada wilayah ini yaitu sekitar perairan P.Runduma.
Pada musim peralihan timur-barat rata-rata konsentrasi klorofil-a 1.68 mg/m³. Pada musim ini konsentrasi klorofil-a dominan pada kisaran 0.1-0.2 mg/m³ terdapat pada bagian timur perairan Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorofil-a tertinggi berkisar antara 0.3-3.0 mg/m³ terdapat di bagian barat dan timur Kepulauan Wakatobi dan konsentrasi klorifil-a terendah berkisar 0.2-2.0 mg/m³ terdapat di bagian barat P.Kaledupa, P.Tomia , P.Binongko dan bagian selatan P.Runduma. Penyebaran klorofil-a selengkapnya disajikan dalam bentuk citra pada Lampiran .
Pada musim peralihan timur-barat konsentrasi klorofil-a terlihat lebih tinggi pada citra tanggal 6 September 2002, 9 September 2003, 10 Oktober 2002 dan citra tanggal 22 Oktober 2003 bila dibandingkan dengan citra klorofil-a tanggal 4 November 2002 dan citra tanggal 8 November 2002. Konsentrasi klorofil-a tertinggi ditemukan di sebagian besar daerah terumbu karang yaitu Karang Kapota dan Karang Kaledupa yang terletak di sebelah barat perairan Kepulauan Wakatobi. Konsentrasi klorofil-a terendah terlihat pada luasan kecil di sebelah timur perairan Kepulauan Wakatobi.

4.4 Pergerakan Klorofil-a
Pada musim timur terlihat wilayah perairan Kepulauan Wakatobi sangat subur (Lampiran). Konsentrasi klorofil-a tertinggi dijumpai pada sisi barat dan timur, sedangkan pada musim peralihan barat-timur konsentrasi klorofil-a tertinggi hanya terlihat pada bagian barat. Kondisi ini diduga disebabkan di perairan Kepulauan Wakatobi terjadi Upwelling. Menurut Wyrtki (1961), berdasarkan sirkulasi massa air permukaan dan pola angin yang bertiup menunjukkan di Laut Banda memungkinkan untuk terjadinya penaikan massa air (Upwelling) pada musim timur (Juni-Agustus). Pergerakan konsentrasi klorofil-a tertinggi pada musim timur mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Konsentrasi klorifil-a cukup tebal terutama pada sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi. Hal ini sesuai dengan hasil studi Nontji (1975) yang menyimpulkan bahwa konsentrasi klorofil-a tertinggi terdapat di bagian timur Laut Banda. Konsentrasi klorofil-a memperlihatkan pola pergerakan yang sama dari bulan Juni sampai Agustus.
Konsentrasi klorofil-a pada musim peralihan timur-barat mengalami penurunan dibanding pada musim timur (Lampiran 9). Namun pada bulan September konsentrasi klorofil-a terlihat masih cukup tinggi tetapi tidak setebal pada bulan Agustus (musim timur). Vosjan and Nieuwland (1987) menyatakan di Laut Banda pada musim timur terdapat dua periode bloom plankton, pertama pada bulan Juni dan kedua di bulan Agustus-September. Pola pergerakan klorofil-a tertinggi terlihat tetap berada di sekitar Karang Kapota dan Karang Kaledupa (barat Kepulauan Wakatobi). Secara umum dari citra klorofil-a terlihat konsentrasi klorofil-a berangsur-angsur menurun pada bulan November.
4.5 Pendugaan Daerah Penangkapan Ikan
4.5.1 Thermal Front
Pada musim timur pergerakan sebaran SPL, terdapat perbedaan. Kantung-kantung percampuran massa air hangat dan massa air dingin disebagian besar citra SPL musim peralihan barat-timur tidak terlihat lagi berganti dengan massa air dingin yang mulai mendominasi pada hampir seluruh citra pada musim timur ini. Hal ini diduga disebabkan pada wilayah perairan Kepulauan Wakatobi terjadi pengangkatan massa air dari lapisan yang dalam yang bersuhu rendah sampai di permukaan. Kondisi diatas didukung pendapat Boely et el (1990) menyatakan bahwa temperatur terendah di Laut Banda ditemui antara bulan Juni sampai September.
Massa air bersuhu dingin ditemui pada sisi barat dan timur kepulauan Wakatobi. Pada citra tanggal 7 Juni 2002 dan 13 Agustus 2003 khususnya di sebagian kecil sisi barat Kepulauan Wakatobi terlihat jelas terbentuk kantung-kantung massa air hangat yang dikelilingi oleh massa air yang lebih dingin atau fenomena front suhu.
Dari keseluruhan citra sebaran SPL pada musim timur terlihat pola pergerakan SPL secara spasial di perairan Kepulauan Wakatobi bergerak dari timur ke barat dengan membawa massa air yang bersuhu dingin. Sesuai pendapat Schalk (1987) yang menyatakan bahwa massa air dingin dalam jumlah besar di Laut Banda itu akan bergeser ke arah barat mengikuti pergerakan arus permukaan pada musim timur dan terus menuju ke Laut Flores.
Pada musim peralihan timur-barat (Lampiran ) terlihat sebaran SPL di sebagian besar perairan Kepulauan Wakatobi memiliki suhu perairan yang lebih panas. Hal ini disebabkan pada musim peralihan ini arus permukaan lebih tenang sehingga pemanasan matahari lebih efektif untuk meningkatkan suhu permukaan perairan.
Pada musim peralihan timur-barat, dari sebagian besar citra SPL yang terlihat bukan lagi massa air dingin yang mendominasi perairan tetapi olakan-olakan massa air yang membentuk kantung-kantung massa air. Peristiwa ini nampak cukup intensif terutama pada bulan September dan Oktober
Dari citra SPL pola pergerakan sebaran SPL pada musim peralihan timur-barat secara spasial terlihat dari sisi timur perairan Kepulauan Wakatobi ke sisi barat dengan pergerakan SPL cenderung dari suhu dingin ke suhu hangat. Hal ini disebabkan pada musim ini posisi matahari tepat berada di belahan bumi selatan (Equatorial) sehingga intensitas penyinaran lebih efektif. Menurut pendapat Weil yang diacu dalam Hutagalung (1988) bahwa suhu air laut terutama di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah bahang yang diterima dari sinar matahari. Posisi front pada bulan Juni, Juli dan Agustus disajikan pada Gambar 6. Front ditemukan tersebar pada posisi 123°30’00” – 124°35’00” BT dan 5°10’00” – 6°05’00” LS di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa, Karang Koromaha dan Karang Koka. Tingginya frekuensi front pada daerah karang hal ini diduga disebabkan pada wilayah karang terjadi upwelling. Wyrtki (1958) melaporkan bahwa di Laut Banda pada musim timur (Juni, Juli dan Agustus) terjadi upwelling yang dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September.
Pada bulan Juni front terbentuk pada sisi barat P.Tomia dan P. Binongko dengan gradien suhu 0.5°C. Pada bulan Juli front terlihat bergeser ke utara yaitu di sebelah barat P.Kaledupa (di sekitar Karang Kaledupa). Selanjutnya front terlihat bertahan pada posisi yang sama sampai bulan Agustus. Dari analisis visual (Lampiran ) terlihat adanya kantung-kantung massa air hangat (water pocket) yang di kelilingi oleh massa air dingin. Pola pergeseran front cenderung berada di sekitar Karang Kaledupa terutama pada bulan Juli dan Agustus.
Wyrtki (1961) melaporkan bahwa pada bulan Juni arah arus dari Laut Halmahera menuju ke Laut Banda dan pada saat tiba di perairan Kepulauan Wakatobi dengan kecepatan yang cukup tinggi (75 cm/sec) kemudian pada bulan Agustus menurun dengan kecepatan 50 cm/sec (Lampiran). Akibatnya kecepatan arus dan angin yang cukup kuat diduga akan menyebabkan terjadinya daerah front. Pada bulan Juni, Juli dan Agustus jarak gradien suhu front berkisar 1,64-3,00 km dengan kisaran suhu 21,42 – 27,93°C.
Pada bulan September, Oktober dan November posisi front seperti ditunjukkan pada Gambar 7. Front ditemukan tersebar pada posisi 123°25’00” – 124°30’00” BT dan 5°40’00” – 6°01’00” LS pada wilayah Karang Kapota, Karang Kaledupa , Karang Koromaha dan Karang Koka. Gradien suhu di sekitar Karang Kaledupa dan Karang koromaha berkisar 0.5-1.0°C. Front yang terdeteksi di sekitar Karang Kaledupa pada bulan September terlihat tetap bertahan sampai bulan Oktober. Front di sekitar Karang Koromaha terlihat bergeser ke selatan sekitar Karang Koka pada bulan Oktober dengan gradien suhu 0.5°C.
Pada bulan November front terlihat masih tetap bertahan di sekitar Karang Kaledupa dan Karang Koka. Front pada bulan Oktober ini cenderung bergeser ke Karang Koka dan kemudian pada bulan November terbentuk di sekitar Karang Koromaha dengan gradien suhu 0.5°C. Hal ini memberikan informasi bahwa terdapat hubungan yang erat antara wilayah sekitar karang dengan fenomena terbentuknya front di lokasi penelitian. Arus convergen dan divergen yang bertemu atau terbentur dengan punggung karang (ridge) yang memiliki kedalaman relatif dangkal dibandingkan dengan wilayah perairan sekitarnya.
Dari analisis visual yang dilakukan (Lampiran) menunjukkan fenomena terbentuknya front di Kepulauan Wakatobi pada musim peralihan timur-barat. Front terbentuk dari kantung-kantung massa air dingin yang dikelilingi massa air yang lebih hangat dengan pola pergerakan relatif stabil berada di sekitar karang.
Pada bulan Juli indikasi upwelling terdeteksi pada tanggal 23 Juli 2002 dan 17 Juli 2003. Indikasi upwelling terlihat masih bertahan di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan di sekitar P. Runduma. Pada citra terlihat pada bulan Juli ini konsentrasi klorofil-a lebih tebal dibanding pada bulan Juni, seperti terlihat pada Gambar 9.
Menurut Nontji (1987) di Laut Banda peristiwa upwelling hanya terjadi pada musim timur. Dimana angin musim timur mendorong keluar air permukaan Laut Banda dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. Menurut Wyrtki (1961) Upwelling yang terjadi di Laut Banda dapat digolongkan upwelling silih berganti (Alternating type) yaitu upwelling dan downwelling terjadi bergantian dalam satu tahun. Pada satu musim (musim timur) terjadi upwelling dan musim berikutnya (musim barat) terjadi downwelling.
Pada bulan Agustus, upwelling terjadi pada tanggal 26 Agustus 2002 dan 14 Agustus 2003. Upwelling terjadi di sisi barat dan timur Kepulauan Wakatobi yang diindikasikan dengan konsentrasi klorofil-a yang tinggi (>1,0 mg/m³) seperti terlihat pada Gambar 10. Tingginya konsentrasi klorofil-a pada bulan Agustus disebabkan kuatnya angin musim tenggara (arus musim timur) yang mengaduk lapisan perairan sehingga mengangkat zat-zat hara (silikat, phosphat dan nitrat) dari lapisan bawah yang kaya akan nutrient. Pada citra tanggal 26 Agustus 2002, menunjukkan indikasi upwelling terkonsentrasi di sekitar Karang Kapota dan Karang Kaledupa pada posisi 123°30’00” – 123°55’00” BT dan 5°30’00” – 5°58’00” LS sedangkan pada citra tanggal 14 Agustus 2003, menunjukkan indikasi upwelling terjadi di sekitar P. Runduma pada posisi 124°15’00” – 124°39’00” BT dan 5°10’00” – 6°01’00” LS.
Pada bulan September indikasi upwelling terdeteksi pada citra tanggal 9 September 2003. Pada bulan September konsentrasi klorofil tinggi sebagai indikator upwelling terlihat menurun. Hal ini diduga seiring menurunnya intensitas angin yang mendorong massa air permukaan. Indikasi upwelling terkonsentrasi di sekitar Karang Kapota dan Karang Kaledupa dan sekeliling P. Wangi-wangi pada posisi 123°20’00” – 123°05’00” BT dan 5°10’00” – 5°55’00” LS.

4.5.3 Hasil Tangkapan Madidihang
Hasil tangkapan madidihang pada tahun 1999 sampai 2003 menunjukkan trend yang cenderung menurun. Produksi hasil tangkapan tertinggi terjadi pada tahun 1999 yaitu sebesar 11286 kg sedangkan produksi tangkapan terendah terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar 5486 kg. Pada tahun 2003 produksi hasil tangkapan meningkat lagi sebesar 10500 kg.

Berdasarkan rata-rata bulanan hasil tangkapan madidihang dari tahun 1999 sampai tahun 2003 (Gambar 2) terlihat bahwa hasil tangkapan tertinggi terjadi pada bulan Juni sebesar 1500 kg dimana pada bulan ini merupakan awal musim timur. Hasil tangkapan terendah terjadi pada bulan November yaitu sebesar 215 kg dimana pada bulan ini merupakan akhir dari musim peralihan timur-barat.
Tingginya hasil tangkapan madidihang pada bulan Juni, diduga berkaitan erat dengan upwelling pada bulan tersebut sehingga wilayah perairan Kepulauan Wakatobi menjadi subur. Selain karena faktor tersebut, ditemukannya kisaran suhu front pada bulan Juni sekitar 21.2-26.8°C menunjukkan masih dalam batas toleransi kisaran suhu penangkapan ikan madidihang yaitu sekitar 14-27°C (Burhanuddin et al.,1984).
Berdasarkan hasil ground check yang dilakukan (Lampiran) menunjukkan daerah penangkapan ikan madidihang masih berada dalam daerah ditemukannya front dan upwelling. Dari hasil ground check ditemukan pula terdapat daerah front dan upwelling tetapi di daerah tersebut sampai saat ini nelayan setempat belum melakukan penangkapan ikan. Daerah yang dimaksud terdapat di sekitar Karang Koromaha dan Karang Koka.

Gambar 15. Grafik rerata bulanan hasil tangkapan madidihang di Kabupaten Wakatobi Tahun 1999 – 2003

5. KESIMPULAN DAN SARAN

(1) Pada musim timur SPL berkisar 23-31°C dengan rata-rata 26.03°C. Pada musim peralihan timur-barat berkisar 25-31°C rata-rata SPL 27.6 °C
(2) Suhu dingin yang terjadi pada bulan Juni cenderung bergerak dari arah timur ke arah barat Kepulauan Wakatobi sampai bulan Agustus.
(3) pada musim timur klorofil-a berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.64 mg/m³. Pada musim peralihan timur-barat berkisar 0.2-3.0 mg/m³ dengan rata-rata 1.68 mg/m³.
(4) Konsentrasi klorofil-a yang tinggi pada bulan Juni cenderung bergerak dari arah timur ke arah barat Kepulauan Wakatobi hingga pada bulan September.
(5) Pada bulan Juni upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan Karang Koka. Upwelling terjadi di sekitar P. Runduma, Karang Kapota, Karang Kaledupa pada bulan Juli dan Agustus. Upwelling terjadi di sekitar Karang Kapota, Karang Kaledupa dan P.Wangi-wangi pada bulan September
(6) Berdasarkan hasil ground check yang dilakukan menunjukkan daerah penangkapan ikan madidihang berada dalam daerah ditemukannya front dan upwelling, ditemukan pula pada daerah front dan upwelling (karang koromaha dan karang koka) nelayan setempat belum melakukan aktifitas penangkapan ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.

[BPS] Biro Pusat Statistik Resort Wangi-wangi. Laporan Triwulanan Tahun 1999-2003. Mandati. hlm.1-25.

Blackburn M. 1965. Oceanography and The Ecology of Tunas. In H. Barnes (editor), Oceanography Marine Biology Ann. Rev. 3. George Allen and Unwin Ltd. London. p.299-322.

Harsanugraha WK dan Ety Parwati. 1996. Aplikasi Model-Model Estimasi Suhu Permukaan Laut Berdasarkan Data NOAA-AVHRR. Warta Inderaja Vol VIII. No.2 : P23-35.

.Hasyim B, Chandra E. Adi. 1999. Analisis Pola Distribusi Suhu Permukaan Laut dan Hasil Tangkapan Ikan Cakalang di Perairan Utara Pulau Bali. Majalah LAPAN No.01Vol 01 p 1-8.

Hela I dan T. Laevastu. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing News (Books) Ltd. London. hlm. 123.

Nasa, http://Seawifs.gsfc.nasagov/

Narain A. 1993. Remote Sensing and Fisheries Exploration : Case studies. In International Workshop on Aplication of Satelite Remote Sensing for Identifying and Foresting Potential Fishing Zone in Developing Counteries. Hyderabad, India. p. 1-24.

Pickard GL and WJ Emery. 1990. Descriptive Physical Oceanograpy An Introduction . Pergamon Press. 320 p

Wyrtki K. 1961. Physical Oceanography of The South East Asian Waters. Naga Report. Vol. 2. Scripps Institution of Oceanography. The University of California. La Jolla. California. 195 p.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: