PENGEMBANGAN SISTEM NELAYAN BAGAN APUNG

Oleh :
Muslim Tadjuddah

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Daerah Pelabuhan Ratu dikenal sebagai basis utama perikanan tangkap di pantai Selatan Propinsi Jawa Barat. Keberadaan Pelabuhan Ratu yang terletak dan langsung berhadapan dengan Samudera Hindia sangat strategis bagi perkembangan perikanan dan kelautan. Hal ini mengingat potensi perikanan yang besar, khususnya perikanan pelagis baik yang merupakan sumberdaya alami perairan teluk pelabuhan ratu maupun sumberdaya ikan yang bermigrasi (ruaya diurnal dan nocturnal) dari dan ke perairan teluk pelabuhan ratu.
Pengembangan perikanan dan kelautan yang diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, dilaksanakan dengan langkah meningkatkan produksi dan produktifivas nelayan. Meningkatnya hasil tangkapan nelayan sangat ditentukan dengan karakteristik alat dan metode penangkapan, dalam hal ini dimensi, desain, sifat pengoperasian dan keahlian nelayan dalam mengoperasikan alat tangkat tersebut.
Unit penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan di Pelabuhan Ratu sangat beragam. Keberagaman alat tangkap tersebut sesuai dengan jenis ikan yang menjadi target penangkapan, daerah penangkapan dan teknologi penangkapan ikan. Alat tangkap ikan yang terdapat di Pelabuhan Ratu secara umum masih bersifat tradisional. Hal ini terlihat dari teknologi dalam metode penangkapannya dan karakteristik (dimensi dan disain) alat tangkap tersebut. Alat tangkat tersebut antara lain jaring insang (gill net), jaring angkat (lit net), pukat kantong (seine net) dan pancing (hand line). Unit penangkapan ikan utama di pelabuhan ratu adalah pukat payang, jaring insang, bagan (bagan apung/raft lift net, bagan perahu/boat lift net dan bagan tetap/stationery lift net), pancing rawai, jaring rampus dan pukat dogol. Selain itu terdapat juga unit penangkapan jaring kopet, pukat pantai dan pukat cincin .
Perkembangan unit penangkapan di atas, yang mengalami peningkatan sangat pesat adalah alat tangkap bagan dan jenis pancing. Unit penangkapan ikan jaring angkat merupakan jenis alat tangkap yang secara komersial penting dan sangat umum di Indonesia. Salah satu jenis alat tangkap dalam jaring angkat yang penting adalah bagan (Kawamura, 1981 dalam Ta`alidin 2000). Bagan apung yang terdapat di Pelabuhan Ratu termasuk dalam klasifikasi portable lift nets (jaring angkat yang dapat dipindah–pindahkan). Secara sederhana dalam metode pengoperasian alat tangkap bagan termasuk tradisional, dengan penggunaan lampu petromaks sebagai alat bantu yang bertujuan mengumpulkan ikan atau biota laut lainnya yang bersifat fototaxis positif dan karena faktor food and feeding habits dari biota tersebut. Hal ini selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Flores dan Shibata (1988), unit penangkapan ikan yang digolongan jenis jaring angkat (lift net) ini di Indonesia masih bersifat tradisional dan merupakan kegiatan perikanan skala kecil (Small Scale Fisheries).

1.2 Tujuan
Sistem ini dibuat dengan tujuan meningkatkan pendapatan nelayan bagan apung dan keluarganya agar dapat hidup lebih layak dan sejahterah

2.1. Pendekatan sistem
Manetsch dan Park (1974) vide Haluan,J (1987) mendefinisikan sistem sebagai satu set elemen atau komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya dan terorganisir untuk menghasilkan satu set tujuan. Tiga syarat untuk pendekatan sistem dapat bekerja dengan baik, yaitu :
1.) Tujuan sistem ditentukan dengan pasti
2.) Proses pengambilan keputusan dalam sistem yang nyata harus dipusatkan
3.) Memungkinkan perencanaan jangka panjang
Hal yang penting dalam mempelajari sistem adalah menentukan batas sistem, agar dapat membantu fungsi sistem tersebut. Pendekatan sistem memberikan metoda yang logis untuk penanganan masalah dan merupakan alat yang memungkinkan untuk mengidentifikasikan,menganalisa menstimulasi serta mendezain sistem keseluruhan (Eriyatno,1983)
2.2 Analisis Kebutuhan
Pelaku sistem perikanan Bagan Apung di Pelabuhan Ratu kebutuhannya cukup beragam dan masing-masing pelaku mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya dalam suatu subsistem atau komponen. Pelaku sistem dalam perikanan Bagan Apung ini adalah:
1. Nelayan, yang ingin meningkatkan kesejahteraannya
2. Keluarga Nelayan, berkeinginan menambah penghasilan sehari-hari
3. Juragan, usaha bagan apung dapat berjalan lancar.
4. Pedagang perantara, memperoleh keuntungan seoptimal mungkin
5. Konsumen, mengkonsumsi ikan dan produk ikan yang berkualitas
6. Pemerintah, dalam hal ini pengelola TPI dan Dinas Perikanan Kecamatan
Sedangkan kebutuhan dari pelaku sistem tersebut apabila diuraikan lagi sebagai berikut :
1.) Nelayan
- Kesejahteraan meningkat/hidup layak
- dapat menyekolahkan anak
- status sosial dimasyarakat lebih terpandang
2.) Keluarga nelayan
- ada aktifitas sehari- hari yang produktif
- dapat menambah penghasilan rumah tangga
- dapat membantu membiayai pendidikan anak
3.) Juragan
- aktifitas usaha dapat berjalan lancar
- dapat menambah investasi usaha (menambah unit bagan apung)
- dapat menyerap tenaga kerja
4.) Pedagang perantara
- dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin
- ada kesinambungan usaha
5.) Konsumen
- memperoleh ikan yang bermutu baik
- mengkonsumsi produk ikan yang murah dan berkualitas
6.) Pemerintah
- memperoleh pemasukan dalam bentuk retribusi hasil tangkapan,biaya tambat di TPI
- dapat mengkontrol pemanfaatan sumber daya ikan

2.3 Formulasi Permasalahan
Dari analisis sistem yang dilakukan dapat ditarik formulasi permasalahan pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil dengan alat tangkap bagan apung di pelabuhan ratu sebagai berikut :
1.) Bagi hasil antara nelayan dan juragan pemilik bagan apung tidak seimbang jauh lebih menguntungkan bagi juragan
2.) Kenaikan harga satuan hasil tangkapan tidak seimbang dengan laju inflasi,harga produk kebutuhan nelayan dan keluarga lebih cepat meningkat daripada harga hasil tangkapan, harga satuan hasil tangkapan sudah setahun belum terjadi kenaikan.
3.) Kenaikan BBM Solar lebih cepat sehingga mengurangi pendapatan nelayan bagan
4.) Pada musim puncak harga ikan jauh lebih murah

2.4 Identifikasi sistem
Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem perikanan bagan apung di pelabuhan ratu mempunyai keterkaitan satu sama lain,seperti disajikan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (Gambar 1). Diagram ini cerminan dari prediksi dari aktifitas dan dinamika sistem, dimana faktor-faktor yang memberikan yang baik diberikan tanda positif (+) sedangkan faktor-faktor yang memberikan dampak merugikan diberikan tanda negatif (-).
Masukan dan keluaran faktor-faktor yang mempengaruhi sistem perikanan bagan untuk meningkatkan pendapatan apung di pelabuhan ratu dijelaskan dengan diagram input-output (Gambar 2). Dalam diagam ini tujuan yang ingin dicapai disajikan dalam bentuk kotak yang dikehendaki yang dapat dijadikan sebagai titik sentral perhatian. Disamping faktor internal sistem dalam sistem perikanan bagan apung juga tidak terlepas dari faktor eksternal lingkungan berupa peraturan pemerintah dan perundang-undangan.

Gambar. 1. Diagram lingkar sebab akibat Pengembangan Sistem Nelayan Bagan Apung untuk meningkatkan Kesejahteraan di Teluk Pelabuhan Ratu.

Keterangan :
1.) Output yang dikehendaki :
- Peningkatan Pendapatan Nelayan : Rp. 5000.000/Bln/Orang.
- Penghasilan Keluarga nelayan (Istri dan Anak) : Rp. 500.000-750.000/Bln
- Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan : 1: 3 ( 30% : 70%)
- Kenaikan satuan harga hasil tangkapan : 5-10%/Thn
2.) Output yang tidak dikehendaki :
- Penurunan Pendapatan Nelayan : Rp.1000.000/Bln/Orang
- Penurunan Penghasilan Keluarga Nelayan : Rp.—- /Bln
- Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan (Tetap) : 1:4 (20% :80%)
- Harga satuan hasil tangkapan stagnan sepanjang tahun : —
3.) Input terkontrol
- Teknologi Penangkapan ikan (Light fishing) : light fishing = 5 lampu/oprsi/Mlm,
Kapal penarik : 4-7 GT, motor penggerak :20 PK
- Ketersediaan raw material diversivikasi usaha (bakso ikan ,pindang, ikan asin) keluarga nelayan : 40-50 kg/Hari.
- Satuan harga hasil tangkapan agar tetap terjaga diperlukan Es balok : 5-6 balok/trip
- Pelatihan Managemen Usaha Kecil dari Instansi terkait : 1 kali/bulan
4.) Input tidak terkontrol
- Keadaan cuaca (curah hujan) : > 2000 mm/ Thn
- Keadaan oseanografi (badai) : Gelombang besar > 3 bulan
- Keadaan kesehatan nelayan dan keluarga tiba-tiba menurun (sakit) : —

Input Lingkungan

– Peraturan Pemerintah Daerah
– Peratuhan di bidang perikanan

Gambar 2. Diagram Input Output Pengembangan sistem Nelayan Bagan Apung untuk meningkatkan Kesejahteraan di Teluk Pelabuhan Ratu

Keterangan :
1.) Output yang dikehendaki :
- Peningkatan Pendapatan Nelayan : Rp. 5000.000/Bln/Orang.
- Penghasilan Keluarga nelayan (Istri dan Anak) : Rp. 500.000-750.000/Bln
- Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan : 1: 3 ( 30% : 70%)
- Kenaikan satuan harga hasil tangkapan : 5-10%/Thn

2.) Output yang tidak dikehendaki :
- Penurunan Pendapatan Nelayan : Rp.1000.000/Bln/Orang
- Penurunan Penghasilan Keluarga Nelayan : Rp.—- /Bln
- Sistem bagi hasil antara Nelayan dan Juragan (Tetap) : 1:4 (20% :80%)
- Harga satuan hasil tangkapan stagnan sepanjang tahun : —
3.) Input terkontrol
- Teknologi Penangkapan ikan (Light fishing) : light fishing = 5 lampu/oprsi/Mlm,
Kapal penarik : 4-7 GT, motor penggerak :20 PK
- Ketersediaan raw material diversivikasi usaha (bakso ikan ,pindang, ikan asin) keluarga nelayan : 40-50 kg/Hari.
- Satuan harga hasil tangkapan agar tetap terjaga diperlukan Es balok : 5-6 balok/trip
- Pelatihan Managemen Usaha Kecil dari Instansi terkait : 1 kali/bulan

4.) Input tidak terkontrol
- Keadaan cuaca (curah hujan) : > 2000 mm/ Thn
- Keadaan oseanografi (badai) : Gelombang besar > 3 bulan
- Keadaan kesehatan nelayan dan keluarga tiba-tiba menurun (sakit) : —

PENGEMBANGAN SISTEM NELAYAN BAGAN APUNG UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN DI TELUK PELABUAHAN RATU

Pola Fikir sistem
Sistem ini dirancang untuk menjawab tujuan dari paper ini yaitu agar dapat meningkatkan pendapatan nelayan bagan apung dan keluarga sehingga dapat hidup layak dan sejahtera. Jika dianalisis lebih lanjut kinerja dari nelayan bagan apung di pelabuhan ratu cukup produktif dan efektif bahkan tingkat pendapatannya per bulan jauh diatas UMR secara nasional namun mengapa tingkat kehidupannya terlihat sangat sedernaha bahkan dapat digolongkan relatif miskin, keadaan ini sebenarnya dapat disebabkan karena pola hidup dari nelayan dan keluarganya yang tidak efisien dalam mengelola keuangan hal ini disebakan karena faktor pendidikan yang minim, oleh karena itu maka apabila ingin membangun sistem ini secara global maka faktor pendidikan keluarga nelayan harus diprioritaskan.(faktor ini tidak kami masukkan dalam diagram input-output karena sistem yang kami rancang lebih ditekankan pada pemanfaatan waktu luang istri dan anak nelayan untuk membantu penghasilan keluarga dengan cara diversifikasi usaha dalam rangka memanfaatkan hasil tangkapan nelayan bagan apung dengan membuat produk seperti bakso ikan, ikan pindang dan ikan asin dan lain-lain. tetapi agar supaya usaha ini dapat berkembang dan berhasil dibutuhkan managemen yang baik.
Solusi yang dapat ditawarkan pada sistem ini yaitu :
1.) Keluarga Nelayan istri dan anak dapat memanfaatkan waktu luang dengan membuat usaha kecil kecil berupa usaha pengolahan ikan untuk memanfaatkan hasil tangkapan untuk menambah dan menopang keuangan keluarga.
2.) Dalam rangka perbaikan pendapatan nelayan sistem bagi hasil sebaiknya dikoreksi lagi dengan perincian Nelayan 30% dan Juragan 70%.
3.) Perlu Pelatihan Managemen Usaha Kecil bagi pengusaha pengolahan ikan di sekitar Pelabuhan Ratu

Penjelasan :
Dari field trip yang dilakukan pada tanggal 9-10 Mei 2003 dari kuesioner yang diajukan didapatkan data sebagai berikut :

Nama Nelayan : Bpk. Mumuh
Pengalaman sbg nelayan bagan : 3 Tahun
Pengalaman dgn alat tangkap lain : 8 Tahun
Umur : 36 Tahun
Penghasilan : Rp. 5000.000/bln (net)

Dekripsi bagan apung :

Ukuran bagan apung :12 x 5 m
Ukuran jaring : 9 x 5 m
Harga bagan apung : Rp 6000.000/unit
Masa pemakaian : 5-10 Tahun
Masa pemakaian (Normal) : 6 Tahun

Operasional bagan apung

Fishing trip : 16.00-7.00 Wib (One day fishing)
Waktu operasi : setiap hari kecuali hari jum,at
Hasil tangkapan : 10 kg – 1000 kg/trip

Sistem Bagi Hasil

Nelayan : 20%
Bagan : 20%
Kapal Penarik (Tukang kuras,juru mudi) : 20%
Juragan : 40%
(hasil tangkapan dibagi 4 setelah dikurangi biaya operasonal, Bagan& kapal penarik milik juragan)

Masa Paceklik/Tidak Melaut

Badai : pada bulan Desember-Februari

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: